ID, EGO dan SUPEREGO

ID, EGO dan SUPEREGO
.

.
Kebetulan saya sedang baca-baca buku tentang psikologi yang membawa sedikit ingatanku kepada skripsi yang dulu pernah kubuat yang masuk ke dalam kategori literatur dimana kebetulan membahas tengang psikologi karakter dalam perselingkuhan yang dilakukan karakter di dalam sebuah drama. Dan tidak lupa juga setumpuk skripsi para senior yang kubaca di perpustakaan. Satu nama yang cukup dominan kulihat dipergunakan adalah Sigmund Freud.
.
Bagi yang sudah mengenal Sigmund Freud (1856-193) pasti sudah paham beberapa sumbangsih yang dia berikan didalam bidang psychoanalysis, salah satunya adalah prisip ID, EGO dan SUPEREGO yang dulu kupakai sebagai salah satu pendekatan psikologi. Dia mengatakan bahwa pikiran (mind) seperti halnya gunung es yang mengapung dimana hanya sepertujuhnya saja yang terlihat sedangkan sisanya terkubur di bawah permukaan air.
.
Secara sederhana bisa dijelaskan bahwa ID (yang digerakkan oleh insting primitif) mengikuti aturan Prinsip Kesenangan (Pleasure Principle) dimana dia mengejar kesenangan, dimana semua keinginan harus dipenuhi saat ini juga. ID menginginkan kepuasan untuk mendapatkan sesuatu pada saat ini juga. Namun, bagian lain dari struktur mental yaitu EGO, mengenal Pinsip Realitas (Reality Principle) yang menyatakan bahwa kita tidak bisa mendapatkan segala yang kita inginkan tetapi hal tersebut juga harus disesuaikan dengan dunia dimana kita tinggal. ID berkongsinyasi dengan EGO, mencoba untuk menemukan cara yang masuk akal untuk mendapatkan apa yang kita inginkan tanpa menciptakan kerusakan atau konsekuensi negatif lainnya. sedangkan EGO itu sendiri dikendalikan oleh SUPEREGO, suatu pemahaman dari orang tua dan kode-kode moral masyarakat. SUPEREGO adalah sebuah suara penilai dan merupakan sumber dari kesadaran kita,perasaan bersalah dan malu.
.
mungkin ID seperti anak kecil yang ingin mainan sekarang…dan saat itu juga…sampai menangispun dia tak perduli jika banyak orang melihat. Jika diruntutkan dengan perkembangan fisiknya, anak kecil yang merengek-rengek minta mainan di pasar sambil “ngintil”mbok-nya yang berjalan tidak perduli mungkin bisa dibilang wajar karena sesuai juga dengan perkembangan psikolognya…bukan berarti dia nakal atau terlalu diabaikan. Memang, peran orang tua juga sangat besar untuk pelan – pelan mengajarkan mana yang baik-mana yang salah. Mana yang wajar…mana yang memalukan. Sedangkan ketika sang anak beranjak dewasa diapun akhirnya mulai belajar untuk bisa memilah apakah keinginan itu bisa ditunda atau tidak…dan itu dipengaruhi oleh perkataan orang  tua kita dan juga nilai-nilai kepantasan di dalam masyratakat yang dianut.
.
Saya rasa peran serta kita sebagai “Cik Gu” atau Pak dan Bu Guru turut andil juga disini karena jika diingat…hampir seperempat hari bahkan lebih…masing-masing anak berinteraksi dengan guru di kelas…belum lagi yang oleh orang tuanya di-plot langsung kursus sampai sore sekalian karena orang tuanya yang kadang terlalu sibuk untuk sekedar mengurus mereka atau tidak punya pembantu jikapun mamak-mamaknya harus manikur-pedikur. Kalau sudah kasus seperti ini ya jangan bilang “kok anak saya beda banget sama bapak-nya dan mamaknya ini ya?”…..habis sepanjang hari bergaul dengan si Inem pelayan seksi….atau bajaj bajuri di ujung gang.
.
Nah pernah sadar kenapa para koruptor tidak punay rasa malu???…mungkin mereka kurang kadar SUPEREGOnya tetapi kelebihan ID-nya…

.

.

Kang Danu

Tbk.e20171210.20:54

SELAMAT TINGGAL TV-KU

SELAMAT TINGGAL TV-KU

.

Makasih ya ‘mbak…

.

Seporsi mie goreng yang telah kupesan beberapa menit yang lalu, lengkap dengan dua iris mentimun dan telur mata sapi yang diolesi saos tomat yang membentuk garis lengkung seperti senyumam, telah datang diantar oleh pelayan yang selalu sama orangnya. ‘Tak lama kemudian pastilah tangan kiriku (kebiasaan makan pake’ tangan kiri) bakalan sibuk meng-garpu-i seporsi penuh mie goreng yang masih mengepulkan bongkahan asap tipis dari dalamnya. Tak kalah serunya tangan kananku sibuk menuliskan apa yang sedang kuketik saat ini. Garpu di tangan kiri, mouse dan key-pad menjadi makanan tangan kananku. Telah kunikmati kegiatan seperti ini berkali-kali jika nongkrong menghabiskan waktu di warnet plus caffe ini. Kadang jika ada uang lebihan dikit…sekalian pesan kentang goreng. Satu yang tak pernah lupa, es teh wajib ada di samping layar computer walaupun hasil lihat kolong lemari untuk mencari sisa uang yang jatuh.

.

Sedihnya, ini mungkin mie goreng terakhir warnet ini yang akan kumakan. Mungkin. Besok pagi jam 5 subuh aku berangkat ke Yogyakarta karena sudah habis kontrak kerjaku di kota ini… dan …ya pulang kampung ceritanya. Pastilah bakalan kurindukan mie goreng Rp 7.500-an ini, dan kentang gorengnya, dan juga es tehnya karena merekalah yang berjasa mengisi perutku yang tiba-tiba lapar tak terkira tetapi masih asik dengan acara selancar di internet. Kalau dilihat hari-hari belakangan ini, mungkin bisa disebut minggu “selamat tinggal”-ku. Selamat tinggal TV-ku tersayang yang akhirnya dibeli oleh ‘mbaknya yang sering cuci baju dan setrika di kost. TV-ku yang sudah berjuang mati-matian menemaniku hampir tiap malam karena insomniaku yang kadang parahnya minta ampun. TV-ku yang sepanjang sabtu-minggu ‘nyala 24 jam karena yang punya tidak ada kerjaan selain melingkar di kasur sambil menekan-nekan barisan tombol yang ada di remote. TV-ku yang telah menyajikan saluran-saluran kesayanganku setahun ini yang tertata rapi dalam memorinya mulai dari channel 1 sampai 30. TV-ku yang dengan sabarnya membolak-balik halaman HBO – Discovery Channel – Star Movie – Animal Planet – dan beberapa chanel fave-ku. TV-ku yang dengan lantang meneriakkan bait-bait kata lagu mp3 mulai dari Bang Toyip sampai Hysteria-nya Muse, dan dengan penuh pengertiannya diam dalam bisu ketika film panas masuk dalam DVD player di bawahnya. Selamat tinggal TV-ku yang dulunya kubeli hasil ngutang cicil 2 kali sama boss …You’ve saved my fuckin’ days in this Samarinda.

.

Sayangnya, TV-ku bukan satu satunya yang kuucapkan selamat tinggal. Selamat tinggal warung nasi goreng langgananku yang buka ampe jam 3 pagi dimana aku biasanya meraup suapan nasi karena jatah tidurku yang sudah basi. Selamat tinggal kolam ikan panjang-ku yang meng-inspirasi-ku untuk membuat beberapa tulisan dan puisi, dan juga beberapa kenalan tukang pancing. Selamat tinggal kipas angin kecil-ku yang dulunya juga merupakan warisan dari teman, dan sekarang kuwariskan ke teman yang lain. Selamat tinggal ember kecil tempat pakaian kotor yang kubeli pertama kali karena jatuh cinta pada warna ungu-nya yang cantik. Selamat tingal 2 dumbel 9 kilo-an yang telah memeras keringatku kala kucoba untuk mengerakkan otot yang kaku, dan sekarang pindah ke teman yang sedang merancang program olah raga mulai Desember ini. Selamat tinggal sepatu Nike-ku yang diberi oleh teman dan tidak pernah terpakai karena kebesaran, untungnya masih kebeli orang Rp.100.000. Selamat tinggal kumpulan komik yang sudah kubeli selama satu tahun-an ini karena sebagian besar tidak bisa terangkut pulang dan nongkrong di meja orang. Selamat tinggal karpet tempatku tidur karena tidak biasa tidur di kasur. Selamat tinggal kasur merahku, maafkan daku karena kau lebih banyak bersandar di dinding daripada kutiduri….ehmmm. Selamat tinggal lemari yang telah menyembunyikan pakaianku selama ini dan termasuk juga majalah FHM luar negeri itu. Selamat tinggal gambar besar Samurai X hasil tanganku sendiri yang selama ini terus saja tersenyum walaupun sering wajahmu dilintasi sang cicak yang dengan santainya melenggang di jalan bebas hambatan itu. Selamat tinggal Mall Lembuswana yang pertama kali kukira Mall sapi karena aku menangkap kata Lembu dan Wana yang merupakan satu-satunya pelarianku dari jenuhnya kota Samarinda yang berdiri tanpa tempat wisata, selain tepian Mahakam. Selamat tingal warnet speedy yang telah memberikan 7 voucer untuk diperebutkan, dan itu masih kurang 43 kartu lagi untuk jadi yang terdepan dengan tiket pulang dan uang senang. Selamat tinggal jalanan yang seringnya tenggelam di bawah air jika hujan tidak kuasa untuk berhenti setelah satu jam-an. Selamat tinggal Video Eazy yang telah menyediakan serial Friends komplit dan film lain, walaupun kadang kala dikau memberikan denda yang luar biasa dikala terlambat mengembalikannya. Dan masih banyak segudang selamat tinggal yang ingin kuucapkan kepada yang lainnya….dan tentu saja selamat tinggal vespa-ku tersayang…maafkan aku yang tak bisa memboyongmu ke Jawa.

.

Kenapa sih harus ada kata selamat tinggal? Kenapa harus ada perubahan? Kenapa harus ada pergeseran dan pertumbuhan? Dan kenapa juga aku harus mengucapkan selamat tinggal? Tapi, jikapun itu tak ada artinya, kenapa kata-kata selamat tinggak harus ada. Apakah selamat tinggal ada karena memang harus ada yang ditinggalkan di belakang?  Jadi bagaimanapun juga kata-kata selamat tinggal emang diperlukan? Kembali ke dalam kata-kata selamat tinggal, jika kita mau sedikit melihat di sekitar kita, tidak ada yang tidak bisa selamat dari kata selamat tinggal. Kita mengucapkan selamat tinggal dalam bayak cara. Sebagian orang mengartikannya dalam isakan tangis, dan sebagian lainnya dalam gelak tawa. Selamat tinggal untuk sang sahabat, keluarga, ayah, ibu dan bayak orang lain lagi. Selamat tinggal terhadap pekerjaan kita yang kita tinggalkan di belakang karena banyak alasan dan kadangkala karena keterpaksaan. Selamat tinggal pada usia yang lalu yang kita rayakan dengan penuh suka cita, namun kita lupa bahwa kita sebenarnya sedang mengucapkan selamat datang pada kematian. Selamat tinggal tahun yang lalu dengan harapan adanya  kebaikan di masa yang akan datang. Selamat tinggal tidak selalu berarti kesedihan, tinggal bagaimana kita memandang selamat tinggal tersebut. Dualitas. Selamat tinggal muncul karena adanya perubahan, dan perubahan itu bagus adanya dalam dunia ini. Perubahan menunjukkan kita memang berkembang dan bergerak dinamis daripada statis. Dengan resiko apapun juga ada kalanya kita memang perlu untuk berani mencoba sesuatu yang baru, yang belum pernah dilakukan, atau bahkan sekedar untuk memuaskan rasa penasaran. Jika kita memang melihat apa yang kita punya saat ini statis dan tidak menghasilkan apapun juga, selamat tinggal sepertinya kata yang pantas untuk dipikirkan. Selamat tinggal akan selalu melekat dengan diri kita. Untuk segala sesuatu yang jelek, ada baiknya kita menyematkan kata selamat tinggal. Untuk semua yang baik, aku tidak mau berhenti di dalam kata-kata “Selamat Tinggal”…ingin kulanjutkan dengan sebaris kata “semoga kita bertemu lagi suatu waktu”. Semoga juga nantinya kutemukan lagi TV-ku dalam bentuk yang baru.

.

<SAN>        “Mas, chees-burgernya ada gak ya mas? Kalau ada pesen Satu”

<SERVER>   “Burgernya kosong”

<SAN>        “ya dah, kalau gitu pisang gapitnya satu porsi”

<SERVER>   “ok”

<SAN>        “thanks”

.

 

Kang Danu

Samarinda.warnet.20161121.21:01

EMPAT TAHAP PERKEMBANGAN

EMPAT TAHAP PERKEMBANGAN
.

.
eh..di mall liat anak yang asyik ‘ngupil jadi ingat dulu jaman kuliah dikasih teori child development dimana konsentrasi kesenangan seharusnya berubah sesuai dengan perkembangannya…tapi ini bukan anak kecil…udah segede bagong gitu tapi asik ngupil tanpa pamrih kanan kiri..ada yang salah tuh…
.
Tapi yang ingin kutulis bukan teori yang itu (nanti kapan-kapan), yang ingin kukutip adalah 4 tahapan perkembangan manusia yang dicatut oleh Jean Piaget yang dimulai dengan umur paling kecil, mereka adalah;
.
1. Tahap SENSORIMOTOR (2 tahun pertama kehidupan anak) dimana bayi belajar tentang dunia ini melalui sentuhan dan indra-indra yang lainnya yang diaplikasikan melalui tindakan fisik ataupun gerakan.
.
2. tahapan PRE-OPERATIONAL (tahun ke 2 sampai tahun ke 4) dimana anak-anak belajar untuk menyusun objek secara logis karena mereka sudah sadar diri dan mulai tertarik tentang bagaimana sesuatu terlihat dan nampak. Disini mereka juga mampu untuk membandingkan dua benda melalui persamaan atribut benda tersebut (warna, ukuran, bentuk). Pada masa ini mereka biasanya berpikiran absolut (contohnya definisi besar dan paling besar)..sedangkan usia ke-4 sampai 7 tahun pola pikirnya berkembang menjadi relatif (definisi lebih besar atau lebih berat)
.
3. Tahapan CONCRETE OPERATIONAL dimana seorang anak mampu melakukan / menunjukkan kegiatan yang logis, walaupun hanya dengan adanya kehadiran objek yang nyata. Mereka mulai memahami konsep percakapan, memahami bahwa jumlah benda tetap sama; tidak perduli ukurannya dan pengaturannya. Disini mereka mulai memahami adanya konsep relatif dalam objek keseharian seperti jumlah air yang sama walaupun ditempatkan di gelas yang berbeda bentuk. termasuk juga kemampuan sederhana dalam menyusun balok-balok.
.
4. Tahapan FORMAL OPERATIONAL dimana adanya perkembangan pemikiran yang hipotetis serta penjelasan alasan secara verbal. Disini mereka mulai memanipulasi ide-ide dan memberikan alasan murni berasal dari pernyataan verbal. Mereka tidak lagi memerlukan objek/benda dan tetap mampu mengikuti sebuah argumen/pembicaraan. kemampuan membicarakan sesuatu yang abstrak adalah bukti perkembangan itu.
.
hei…lagian omong-omong yang menjadikan manusia beda dengan mahluk lain salah satunya adalah kemampuan menyebutkan sesuatu yang abstrak (kalau bingung..bisa tanya saya hahahah)…

.
Trus anak yang ngupil di muka umum ada di tahap mana ya…Preoperational…bisa menyusun jari telunjuk ke dalam hidung??? Hahaha

.

.

Kang Danu

Tbk.pcm.e20171129.21:02

MENGUPIL VS MENGUTIL

MENGUPIL VS MENGUTIL

.

Seorang wanita muda dengan semangat 45 dengan mantapnya melihat- lihat tumpukan buah anggur yang ada di lorong masuk sebuah swalayan di Samarinda ini, tepatnya Mall Lembuswana yang ada di depan kantor. Trus dilihat-lihat, ditimbang-timbang, diamati lagi, dielus-elus, diterawang-terawang dan ‘tak lama berselang jari jemarinya sudah sibuk memetik beberapa butir buah anggur tersebut. Beberapa petikan, buah-buah anggur tersebut trus pindah ke telapak tangan kanannya dan dengan semangat dia beranjak dari keranjang-keranjang berisi tumpukan buah anggur tersebut sembari membusungkan dada yang memang sudah cenderung membusung dari pabriknya dan mentransferkan beberapa biji buah anggur tersebut ke dalam rongga mulutnya …… nikmaattttt. Aku cuma terbengong di tempat. Selang beberpa detik kemudian…seorang bapak – bapak dengan anak laki-laki dan perempuannya juga terlihat berjalan mendekati keranjang-keranjang tersebut. Sembari ngobrol…tangan bapak dan anak perempuannya tak kalah sibuknya dengan ‘mbak – mbak yang pertama tadi untuk memilah mana buah anggur yang masih bagus…dan tak tanggung – tanggung, mereka memasukkan langsung ke dalam mulut mereka saat itu juga. Dilain pihak, si anak laki-lakinya tak kalah sibuknya memasukkan jari telunjuk tangan kanannya ke dalam hidungnya. dikorek-korek. sodok kanan sodok kiri…dia sibuk membersihkaan lubang hidungnya alias bahasa ‘ndeso-nya;  “Ngupil”.

.

Nah loh…anaknya sibuk mengupil bapaknya sibuk mengutil. Eit… bener gak ya istilahnya untuk mengutil kalau ditunjukkan untuk ‘mbak dan bapak ini. Apa sih bedanya mengupil dan mengutil selain huruf “P” dan “T”. Mengupil dan mengutil sama-sama kata kerja (mungkin) yang sejauh ini aku rasa memiliki adanya kesamaan dan perbedaan antara keduanya…sekali lagi kutekankan hanya pemikiranku saja tanpa mengacu pada referensi tertentu. Mengupil dan mengutil punya satu kesamaan, keduannya mengacu pada suatu kegiatan mengambil sesuatu. Sesuatu yang dimaksudkan disini adalah benda bernama Upil dan yang lain mungkin mengacu pada kata dasar “ngutil” yang artinya juga gak beda jauh dari mengutil, sedangkan kalau dipaksakan ke dalam kata dasar “util”, kok rasa-rasanya seperti bahasa Jawa yang artinya pelit. Ya, gak jauh juga sih dengan pelit karena saking pelitnya para pengutil memilih untuk mengambil barang  yang dipajang di supermarket, pasar atau toko tanpa berniat untuk membayar yang dikategorikan sebagai benda-benda yang diperjual-belikan.

.

Kalau bahasa ‘ndeso-nya mengupil itu “ngupil”, istilah keren Internasionalnya untuk kesibukan jenis ini adalah “picking the nose”. Sedangkan untuk mengutil disebut dengan “shoplifting” dan para pelakunya disebut  “shoplifter”. Keren gak, nyebut nyebut lift loh…kayak benda-benda yang digunakan untuk mengangkut dan memindahkan barang atau manusia dari tingkat ke tingkat lainnya. Tapi….mengutil sendiri khan juga tidak jauh berbeda dengan memindahkan barang dari rak ke dalam baju, kantong, dan bahkan celana dalam para pengutil. Untuk masalah perbedaan dari kedua kegiatan tersebut marilah kita bahas sebiji dulu. Satu kegiatan punya kecenderungan untuk tidak melanggar hukum, sedangkan yang lainnya jelas jelas di bawah kaki hukum. Mengupil yang dilakukan para pengupil memang cenderung tidak menyakiti orang lain karena yang diambil adalah propertinya sendiri, kecuali…kegiatan ini cenderung menyakiti mata-mata yang tidak sengaja menangkap tindakan tersebut, bahkan mungkin sampai mengakibatkan dampak stress dan sedikit marah-marah…ih… jijik ah!!!… Sedangkan mengutil sendiri dari segi hukum mana juga dan demi kepuasa siapapun juga akan ditimbang dalam neraca dewi keadilan yang ditutup matanya sebagai tindakan kriminal alis cacat hukum. Pelakunya bisa dikenai hukuman, baik secara ringan dari disuruh bantu-bantu di toko dimana dia mengutil, sampai tahanan kurungan di hotel yang lebih dikenal dengan Hotel Prodeo, alis di balik jeruji besi bang napi yang dulunya mungkin lebih dikenal dengan nama bang Toyib. Hukumannya juga cenderung bisa secara psikologi karena dipermalukan dan jelas ditonton oleh orang banyak…”oh ada yang ngutil tuh!! …mana mana mana??… Trus kenapa mereka melakukan itu, ngupil dan ngutil??

.

Mengutil biasanya muncul karena dorongan tanpa sadar manusianya itu sendiri, mungkin di satu sisi tanpa sadar tubuh sudah meminta hidung dibersihkan sehingga otak merancang suatu program terdaftar dan lulus uji klinis agar kita sadar diri untuk membersihkan hidung. Nah yang kontrol sosialnya kurang, tindakan itu bisa dilakukan di mana-mana, tanpa batasan ruang dan waktu, dan juga batasan usia…tapi kalau udah tua masih aja ngupil di tempat umum…apa gak perlu periksa ke dokter bagian dalam…maksudnya dalammmmmmmmmmmmmm sekali sampai ke bagian jiwa hahahahahahaah. Lebih jauh lagi, mengupil juga kadang bisa menyebabkan addict akut karena rasa puas yang muncul di akhir kegiatan dan nombok lagi nombok lagi. Dilain pihak untuk para shoplifter aku tahu-nya ada 2 kecenderungan kenapa mereka rela melakukan itu; yang pertama karena kecenderungan psikologisnya, jadi emang sudah sakit dari dalamnya makanya mereka menjadi shrinker dan melakukan “shringking” (istilah lain dari shiplifting) tersebut. Shrink salah satunya bisa diterjenahkan menjadi “menyusut” atau “menyusutkan”. Mereka memampatkan benda-benda yang ingin diambilnya trus disembunyikan ke dalam baju. Sebetulnya mereka sepertinya cenderung tidak butuh benda-benda tersebut, hanya kepuasan batin kalau bisa mengambil tanpa ketahuan. Alasan kedua kembali kepada alasan paling klisye…kebutuhan ekonomi yang mendesak dan kurangnya dukungan finansial sehingga mereka nekat melakukan itu. Nah apakah ‘mbak itu dan bapak itu masuk dalam kategori pengutil? Untukku mungkin bisa dibilang setengahnya iya karena mereka mengambil yang bukan haknya karena tidak membayar, tapi juga tidak menyembunyikan barang yang diambilnya dibalik baju, tapi dibalik lipatan lemak yang menumpuk di perut, maklum dua duanya masuk dalam kategori king “kong” size. Pengutil??

.

Pernahkan kamu mengupil? Kecenderungannya kita pernah merasakan pengalaman mendebarkan itu. Jadi pengutil? Ya, mungkin tidak banyak yang berbenturan dengan masalah ini. Tapi, pernahkan kita mengutil waktu? Mengutil uang? Mengutil kesempatan? Mengutil waktu kerja? Dan banyak lagi pengutil-pengutilan yang lainnya? Hahaha. Mungkin dalam taraf tertentu hampir kita semua bisa dibilang pengutil, atau paling tidak kita pernah merasakan menjadi pengutil…kok bisa? Basic ide-nya untukku adalah, pengutil itu orang yang mengambil barang yang bukan haknya untuk kepuasan pribadi. Itu bukan haknya karena barang yang diambil seharusnya dibeli. Kalupun belum dibeli, barang tersebut masih hak orang lain yaitu distributor ataupun pemilik toko. Nah bagaimana kalau kita waktu jam istirahat sudah habis tapi kita masih mengulur-ulur waktu barang 5 menit…5 menit lagi kemudian… di kantin kantor? Bagaimana kondisinya jika para murid sudah pada menunggu di kelas trus kita masih sibuk menyiapkan materi dan bukannya sedari tadi waktu persiapan digunakan sebaik-baiknya? Bagaimana waktu kita bilang foto-copy habis Rp.1.500 padahal habisnya cuma Rp1.400? Bagaimana waktu kita jelas-jelas mengarang perjalanan kita agar lambat sampai kantor karena banyak pekerjaan yang menumpuk yang akan diberikan oleh bos kita? Bagaimana waktu kita melirik dengan sudut mata kita yang terlatih dengan tangkasnya untuk menangkap jawaban A – B – C teman kita yang kebetulan pandai dan giat belajar sedangkan kita sibuk dengan JJS saja? Dan bagaimana-bagaimana yang lainnya? Bukankah kita sebetulnya sudah menjadi masternya pengutil-pengutil yang berpraktek di banyak “swalayan”, entah itu kantor, jalan, sekolahan, dan banyak lagi? Kita mengambil hak orang lain dan kadang-kadang ada para oknum yang dengan terang-terangan memang mengambil hak orang lain dan memberikan alasan tanpa malu-malu? Jadi pengutilkah kita? Walaupun begitu ada beberapa alasan kenapa kadang kita berperan sebagai pengutil dalam hidup ini. Tapi entah alasannya gimana, pertanyaannya tetap sama saja, apakah kita memang menjadi pengutil saat melakukan sesuatu???

.

Eh…bapaknya diperingatkan sama satpam….dan…anak laki-lakinya masih saja sibuk ngupil sambil liat bapaknya dimarahin satpam…hahaha Itu bukan tester pak..”

.

.

Kang Danu Smd.warnet.20061018.02:17.e20171118.22:10

MENCAI PEKERJAAN SAMA SEPERTI MENCARI PASANGAN ATAU RUMAH

MENCAI PEKERJAAN SAMA SEPERTI MENCARI PASANGAN ATAU RUMAH

.

Satu alasan kenapa aku tidak memilih VESPA sebagai kendaraanku di pulau Batam ini adalah sedikitnya informasi dan bengkel yang menspesifikasikan dirinya di bidang Vespa, tidak seperti samarinda maupun jawa dimana kendaraan ini berlalu lalang dan banyaknya bengkel yang bisa dijadikan acuan servis. Seperti halnya Vespa tadi, biasanya mudah untuk menentukan dimana kita bisa membeli roti, sabun atau lainnya karena banyak toko dan supermarket. Dalam padangan klasik ekonomi, dimana permaintaan dan pengadaan berada dalam titik imbang, pembeli dan penjual akan mudah bertemu dan melakukan transaksi tanpa biaya tambahan dan mudahnya mendapatkan informasi. Namun dalam kenyataannya, seperti halnya Vespa yang saya sebutkan tadi, tiap orang yang mencoba mencari rumah baru, teman hidup (yang baru juga boleh hehehe), ataupun pekerjaan pasti tahu bahwa hal ini jarang terjadi di dalam kehidupan untuk dengan mudah mendapatkan yang kita maui. . Pangsa pasar memiliki istilah yang disebut dengan “Search Frinction” dimana penjual dan pembeli tidak secara otomatis bertemu. Teori ini kemudian berkembang menjadi “Search Theory” untuk meneliti search frinction di atas tadi, dan salah satunya yang dipelajari didalamnya adalah point MENCARI KERJA dan PENGANGGURAN.

.

Dalam bentuk klasik pangsa pasar tenaga kerja beranggapan bahwa ada waktu “labour supply” (jumlah tenaga kerja yang mau bekerja dengan gaji tertentu) dan ada waktu “labour demand” (jumlah lowongan kerja yang ditawarkan dengan gaji tertentu). Ketika nilai gaji untuk masing masih sudah ada, pengadaan dan tenaga juga mencukupi, maka ketersediaan tenaga kerja dan permintaan tenaga kerja berada dalam status seimbang….sederhananya adalah adanya ketersediaan lapangan kerja tertentu yang juga tercukupi dengan jumlah tenaga kerja yang mau dengan gaji tertentu … keduanya dalam status imbang. Namun,  jika keadaannya  memang demikianpun….adanya lowongan ..dan adanya pencari kerja, Kenapa masih begitu banyak orang mencari pekerja dan majikan mencari pekerjan pada saat yang bersamaan.?? . pada tahun 1960-an, George Stigler (Ekonomis Amerika) berargumen bahwa pangsa pasar “SATU GAJI” yang sering dipakai oleh ahli ekonomi klasik hanya bisa terjadi JIKA tidak diperlukannya informasi akan adanya jumlah gaji yang ditawarkan dan yang dicari, seperi contohnya pekerjaan kuli dengan gaji 10 ribu per jam…itu adalah angka tetap…Di pangsa pasar manapun juga dimana produk (seperti halnya pekerjaan) sebenarnya berbeda-beda dan pencarian ini pada akhirnya memerlukan biaya. Semakin besar nilai pencariannya dan semakin luas rentang pencariannya, semakin banyak rentang gaji yang ditawarkan untuk posisi yang sama. dan orang yang mencari pekerjaan menyadari bahwa nilai gaji yang ditawarkan ternyata berbeda-beda antar majikan yang berbeda. Dan pilihan pilihan tersebutlah yang akhirnya menentukan berapa lama dan seberapa jauh masing-masing orang untuk mencari pekerjaan yang tepat.

.

Strateginya yang paling tepat yang disarankan oleh Stigler adalah memaksimalkan proses pencarian pekerjaan dimana pekerja menolak semua pekerjaan yang dibawah “reservation wage” mereka atau bahasa lainnya adalah menolak angka gaji jika nilai gaji yang ditawarkan dibawah batas nilai gaji paling kecil yang mau diterimanya dan menerima semua yang ditawarkan diatas ekspetasi mereka. Dari sini pencari kerja bisa membuat garis batas atas dan batas bawah yang disebut dengan “acceptable level”…dan acceptable level masing masing orang berbeda karena juga dipengaruhi banyak faktor . Teori SEARCHING dan MATCHING ini telah diimplementasikan untuk desain yang cukup efektif untuk keuntungan orang yang sedang mencari pekerjaan dimana hanya menspesifikkan pada angka tertentu dan posisi tertentu, tentu saja sesuai dengan batas dimana mereka mau bernegoisasi. Jadi kepikiran khan sekarang proses man-power suplay…dan bagimana mereka bisa mengambil keuntungan dari proses ini….karena mereka menawarkan diri untuk mencarikan orang dalam rentang angka tertentu dan spesifik tertentu…..jika pekerjaan sama gajinya dan sama posisinya…tidak akan ada orang yang berjuang sikut sikutan untuk mendapatkan pekerjaan. . jadinya..sesuai dengan judul diatas bahwa mencari kerja sama dengan mencari sebuah rumah ataupun pasangan hidup dimana ada proses dan penyeleksian diri atas batas yang kita mau…ada yang toleransi bininya tidak yahuuud…namun jago masak dan mencuci baju….ada yang membuat toleransi batas bawah pendidikan calon suami, namun batas bawahnya adalah S2….sedangkan pembantunya di rumah punya batas toleransi suaminya minim lulusan SD…Anda yang menentukan titik dimana anda bilang pada suatu tawaran kerja…namun harus tetap berpikiran logis

.

Yukkkk…semangat mencari kerja sampai dapat yang kita idam-idamkan..kayak calon bini yang mulus kayak pagar stainlessteel pagar dalam mall-mall…yang dielus terus

.

Kang Danu

Tbk.20171116.09:08

https://setodanu.com

LHO…GIMANA THO MAS?

LHO…GIMANA THO MAS?

.

.

sesekali aku teringat tentang suatu kejadian ketika aku pulang ke kampung dengan menggunakan bis ekonomi antar kota jurusan Yogyakarta – Yogyakarta. Seperti halnya bis antar kota yang berstandar ekonomi, bis ini juga penuh dengan para pengamen. Satu turun, satu naik. Bagaikan jalinan rantai yang yang tak putus-putus…kecuali ketika memasuki jalur Secang-Ambarawa dikarenakan panjangnya trayek dan tidak adanya pemberhentian di tengah-jalan, kecuali jajaran kampung dan hutan. Pengamen yang bergiliran itu akan semakin banyak ketika memasuki daerah Magelang. Dengan padatnya jalur pengamen yang silih berganti yang menyambangi tiap bis yang lewat, tentu saja berimbas pada malasnya para penumpang yang mau dengan rela membagi recehan yang ada maupun yang dengan sengaja disediakan sebelum naik bis. Apalagi untuk para pengamen yang bermodal hanya “genjrang – genjreng” plus niat-tidak-niat. Siapa yang mau disalahkan jika para penumpang akhirnya enggan memberikan recehan, karena faktanya para penumpang juga berdiri di pihak konsumen yang “membeli” barang yang diberikan, dalam hal ini ya…lagu yang dinyayikan plus musiknya.

.

Jika kenyataannya mereka bernyanyi dengan baik dan indah, yakinlah tidak sedikit yang mau berbagi rejeki dengan mereka. Kalaupun jelek…ya terserah ada yang mau atau tidak karena pada prinsipnya mereka juga tidak puas dengan apa yang ditawarkan…sistem coba dulu baru beli juga berlaku di dunia jual suara ala jalanan ini. Aku  sendiri juga memberi kalau aku merasa mereka layak untuk diberi atas apa yang ditawarkan. Sebetulnya sekecil apapun bentuknya yang kita lakukan dengan tujuan utama untuk mendapatkan uang, kita itu bertindak sebagai penjual. Sebagai pengamenpun kita harusnya berpegang bahwa mereka itu menjual suara yang tentu saja dengan tujuan utama agar dinikmati para pendengarnya.

.

Tapi bukan itu yang ingin kubicarakan sekarang  bukannya masalah jual beli suara di atas kendaraan roda 4 ini, tapi komunikasi sepasang pengamen di dalam bis yang aku naiki hari ini. Setengah perjalana sudah terlampaui, sekarang bis ekonomi ini sedang berhenti di luar terminal Magelang sekedar untuk mengais penumpang-penumpang yang tidak masuk ke dalam terminal. Kesempatan seperti inilah yang biasanya digunakan para pengamen untuk naik ke dalam bis dan bernyanyi. Aku masih ingat sepasang cowok-cewek yang naik ini adalah pengamen ke 3 yang mencoba keberuntungan sebelum bis ini akhirnya bergerak lagi. Untuk suara sih bisa dibilang pas-pasan dan tidak masuk dalam daftar rekaman, tapi untuk nilai kekompakan bisa dikasih nilai 8 naik dikitlah. Yang cowok memainkan gitar dan bernyanyi dengan diiringi suara teman ceweknya yang sesekali bertepuk tangan. Teman…mungkin bisa dibilang bahwa mereka pacaran kali  karena mereka kelihatannya sangat dekat sekali…lagi-lagi mungkin pacar karena aku juga tidak melakukan inspeksi lebih jauh…hanya ber-asumsi saja. Katika selesai 1 lagu, sang cowok melepas topinya dan mulai berjalan dari kursi depan untuk menerima uang yang diberikan para penumpang. Aku juga sudah merogoh 500 perak untuk kuberikan karena aku merasa terhibur juga oleh lagu dan suarannya, dan tentunya sebelum mereka turun dari pintu belakang nanti..karena aku duduk di barisan paling belakang.

.

Mungkin bukan moment mereka untuk mendapat banyak koin di dalam bis ini karena kelihatannya sedikit sekali yang merogoh kantongnya untuk mengisi topi tersebut. Namun bagaimana-pun juga para penumpang tidak bisa disalahkan karena mereka adalah pengamen ke tiga, belum lagi di terminal-terminal sebelumnya dan juga dalam perjalanan antar satu kota ke kota lainnya banyak para pengamen yang masuk. Kurangnya orang yang memberikan uang kelihatannya dirasakan oleh si cowok tersebut. 2/3 panjang bis sudah habis dilalui sembari menyodorkan topi tersebut. Aku tidak mendengar apa yang dikeluhkan sang cowok tapi aku mendengar apa komentar sang cewek setelah mendengar keluhan sang cowok tersebut. Dia bilang “Lho…piye tho mas, biyen ngomong dewe yen aku kudu sabar. yen sabar khan gusti yo ngrungokke. yen sabar mengko khan rejeki yo teko dewe. Mbiyen ngandani aku kok saiki ngresulo dewe. yo wis saiki sabar disik…” (Lho…gimana tho mas, dulu ngomong sendiri kalau aku harus sabar. kalau sabar nanti Tuhan juga mendengar. kalau bersabar nanti rejeki juga datang. Dulu menasehati aku kok sekarang berkeluh sendiri. ya udah, sekarang sabar dulu…”

.

Tidak tahu kenapa, aku cuma tersenyum sendiri mendengarkan komentar pasangan pengamen tersebut. Aku bisa menangkap bahwa sang cewek berusaha menunjukkan bahwa dulu sang cowok menasehati dia, dan sekarang gantian dia menasehati sang cowok dengan nasehatnya si cowok itu sendiri. Entah kenapa aku cuman berpikiran kalau itu mungkin gunanya pasangan, teman, partner, dan orang lain dalam hidup kita. Kenyataannya kita memang bisa dibilang tidak bisa terus hidup dalam satu jalan saja. Manusia itu berubah. Dulu mungkin kita salah, siapa tahu nantinya kita yang ternyata benar. Dulu kita yang jadi penjahat, tapi nantinya kitalah yang dielukan sebagai yang benar. Dulu kita dibilang pendosa, eh siapa tahu natinya apa yang kita lakukan bukanlah dosa. Dulunya kita menasehati, sekarang orang yang butuh dinasehati. Pengingat dan yang diigatkan. Dan semuanya juga butuh orang lain sebagai pihak yang berseberangan dengan pandangan kita. Dan di dalam bis ini kulihat satu contoh orang yang dulu menasehati jadi orang yang dinasehati.

.

Aku cuma mau bilang bahwa apa yang kita lakukan kadang kala tidak bisa dinilai pada saat itu juga sebagai sesuatu yang baik dan jelek, butuh waktu yang teramat panjang untuk melihat siklus dan dampak lebih luasnya. Terlebih lagi kita tidak bisa berarogansi bahwa yang kita lakukan, pikirkan, dan ucapkan akan kekal selamanya dalam diri kita. Karna kita sendiri kadang tidak sadar bahwa apa yang kita lakukan ternyata bertentangan dengan apa yang dulunya kita gembar-gemborkan. Orang lain…itulah fungsinya sebagai tombol pengingat agar apa yang kita lakukan tetap dalam jalurnya. Dan takaran benar dan salahnya sesuatu tentu saja tinggal dalam norma masyarakat, tapi satu lagi…norma masyarakat sendiri juga cenderung berubah dengan waktu. Fleksible. Intinya bahwa apapun yang kita lakukan belum tentu benar, dan itulah fungsinya ada orang lain dalam hidup kita.

.

Oh ya…uang 500 perak yang tadi sudah kukeluarkan akhirnya masuk lagi ke kantong karena sepasang pengamen tersebut sibuk berdebat sendiri sembari keluar dari bis dan lupa menyodorkan topinya di kursi-kursi barisan belakang. Akhirnya bis jalan lagi.

.

.

Kang Danu

Smd20060806.e20171114

SELEMBAR DAUN

SELEMBAR DAUN

.

.

Bangun pagi. Kucek-kucek mata. Pakai sarung. Minum sebotol air putih. Buka jendela. Rebahan lagi… Pikiranku gak tahu terbang kemana waktu mata tertuju pada pohon yang ada di luar jendela. Daunnya rimbum warna hijau tua.  Entah sudah ratusan kali aku lihat pohon yang sama ini. Dari dia kering karena memang musim yang sedang panas-panasnya, trus daun-daun hijau muda yang mulai tumbuh dan akhirnya menjadi hijau tua dan akhirnya jadi kuning layu dan gugur ke tanah. berulang-ulang sudah kulihat bagaimana pohon ini berganti daun dari waktu ke waktu dan sampai akhirnya gugur lagi dan lagi. Jadi, tujuannya itu daun terus tumbuh dan gugur dan tumbuh lagi apa?? apa sesudah bekerja keras untuk sang batang akhirnya harus terbuang juga dan jatuh ke tanah jadi sampah??
.
Tidak jauh beda dengan tuh daun-daun yang berguguran, aku jadi teringat dengan pertanyaan yang sudah lama ‘ngendon di pikiranku. Sederhana sih pertanyaannya, “Apa sih tujuanku hidup di dunia ini?” apakah seperti daun yang akhirnya gugur juga dan tumbuh lagi dan gugur lagi. monotonitas? Bukannya pertanyaanku itu tidak mendasar, tapi sejauh ini yang bisa aku lihat dan aku serap dalam keseharian hampir bisa ditebak. Okeylah jika ada yang tidak setuju dengan itu, tapi ini sejauh yang aku rasakan. Lulus SD lanjut ke SMP. Lulus SMP merangkak ke SMA. Lulus SMA berjuang di jenjang Universitas. Kuliah kelar, ya masuk dalam dunia nyata yang diinisiasikan dengan kata “kerja”. Kerja. Kerja. Kerja. Kerja dan akhirnya kerja. Mungkin sedikit kisah romantis dan sedih sebagain bumbu penyedapnya, dan itupun jika beruntung menemukannya. Tapi akhirnya kembali juga ke kerja, kerja, dan mati.
.
Kembali ke pertanyaan dasar tadi dan juga statement bahwa kita harus berbuat baik, kenapa kita harus mengikuti aturan jika pada akhirnya semuannya kembali pada ketidakadaan. Banyak teori bahwa kita besoknya masuk surga, neraka atau entah apapun namanya, tapi yang kupercayain itu belum ada satupun yang melihat nyatanya. nah, bagaimana jika semuannya kembali ke kosong,  null, zero, none, nothing, nada, daa.  Jiwa kita ya hilang begitu saja ‘ndak ada artinya dan juga ndak ada ceritanya seperti daun-daun yang berguguran karena sudah habis masa kerjanya? Trus intinya tujuan kita hidup di dunia itu apa? Makin lama kita hidup, makin dewasa, makin berkurang terangnya cahaya kehidupan di sekitar. Berlahan lahan berpendar dan nanti pada akhirnya menjadi lembaran foto hitam putih. Dan untuk mengisi hari ke depan itu, kembali ke kerja, kerja, kerja, dan mengikuti semua tata cara dan goresan cerita sebagai panduan agar kita bisa hidup dan diterima. Itukah intinya kita hidup, cuma untuk mengisi apa yang sudah disediakan dan juga menyelesaikan apa yang sudah dimulai?..apakah tujuan kita hidup itu sekedar untuk menggapai apa yang dikenal orang sebagai keabadian, ataukah kita hidup sekedar nantinnya untuk gugur seperti helai – helai daun yang tercampakkan di tanah tidak berarti?
.
Tunggu dulu…tidak berarti? mungkin memang untuk sebagian orang, lembaran daun tersebut akan berakhir di tempat sampah ataupun sekedar dibakar habis karena dianggap sebagai sampah saja. Trus kenapa pohon di luar jendelaku tumbuh dan tidak pernah layu walaupun musim kering sudah beberapa bulan menghajar tanah dimana dia berdiri. darimana kekuatan itu didapat. Kalau di lihat ke bawah, tumpukan daun yang memang sudah lama ada akhirnya menjadi busuk dan memberikan nutrisi pada batang tumbuhan itu untuk hidup dan untuk mengadakan lembaran-lembaran daun baru. Siapa bilang membusuknya daun daun tersebut adalah tanda tidak bergunanya daun-daun yang sudah gugur ke tanah. siapa bilang pupuk hijau tidak akan ada artinya.
.

Itulah arti lamanya hidup dari selembar daun dimana dia dari kecil menjadi tua dan bekerja terus untuk sang batang secara keseluruhan dan akhirnya dia harus rela untuk gugur demi memberikan tempat baru bagi daun muda yang nantinya berguna juga. Mungkin gugurnya daun-daun tersebut dan akhirnya membusuk dan jadi pupuk adalah kesediaan mereka untuk menjadi landasan dasar bagi tegaknya sang pohon. Kitapun demikian, kerja dan kerja, tapi tujuannya apa? apakah kita hanya terjebak dalam rutinitas dan membusuk tanpa jadi apapun juga? Mungkin tujuan kita hidup itu sama juga untuk menjadi landasan dasar bagi generasi baru yang kita tinggalkan. Apa yang kita lakukan sekarang menjadi model untuk berikutnya. Akankah kita mengisi hidup ini dengan kesadaran bahwa yang kita lakukan adalah pijakan untuk generasai mendatang, ataukan cuma sekedar mengisi hidup sebelum kita mati saja? dan aku sadar bahwa memang semua ada akhir dan juga ada awal, tinggal bagaimana kita mengisi wakti diantara awal dan akhir itu.
.
.
.
Kang Danu
Smd.warnet.20161023.13:09e20171014.20:16

 

APA YANG MEMBUAT ORANG BAHAGIA?

APA YANG MEMBUAT ORANG BAHAGIA?

.

.

Apa yang membuat orang bahagia? Ada sebuah penelitian yang dibuat untuk melihat hal-hal dibalik kebahagiaan seseorang dan penelitian tersebut dilakukan di lebih dari 20 negara dengan target mereka yang sudah lanjut usia yang diminta untuk menjawab 1 buah pertanyaan;

.

jika anda diberi 1 kesempatan untuk  memberi sebuah nasehat tentang bagaimana caranya menemukan kepuasan yang sebenarnya dalam hidup ini, apakah nasehatnya itu?

.

Penelitian itu tidak hanya bertujuan untuk menemukan jawaban populer, namun juga keanekaragaman jawaban jika dilihat dari mana mereka tumbuh, kegiatan profesional mereka, dan apa yang mereka alami dalam hidup ini. Mengesampingkan beragamnya latar belakang budaya, status pernikahan, besarnya keluarga, level pendidikan, catatan kesehatan dan pemasukan. Jawaban yang diberikan ternyata cukup mengagumkan dengan adanya suatu kemiripan. Rahasia kepuasan dalam hidup ini?…orang-orang dari belahan dunia yang berbeda nampaknya setuju;

.

  1. Secepat mungkin, ambillah/luangkan waktu untuk mengenali diri sendiri, dan
  2. Belajar untuk mengikuti kata hati

.

Salah satu jawaban berasal dari seorang yang berumur 91 tahun dari romania yang menuliskan “Kunci untuk hidup bahagia terletak dalam  belajar untuk menikmati hidup dan menghidupkan apa yang anda inginkan serta perlukan…mudah hidup untuk orang lain; tiap orang melakukannya. Pertama kali anda harus hidup terlebih dahulu untuk diri anda sendiri”. Lain jawaban datang dari seorang wanita berusia 89 tahun dari Itali yang menulis “Tanyakan sebuah pertanyaan kepada diri anda sendiri; jika anda tidak paham diri anda sendiri – apa yang anda suka dan kenapa – anda tidak akan sepenuhnya mampu untuk benar-benar memahami orang lain.”  Tanggapan yang lain juga datang seperti “Saya menyadari bahwa begitu banyak orang dewasa ini yang hidup tanpa tahu diri mereka sendiri atau apa yang mereka inginkan dalam hidup ini. Jika mereka tidak tahu apa yang mereka inginkan, bagaimana mereka akan mendapatkannya?” Atau “Saya percaya bahwa hal yang terpenting adalah jangan pernah tinggal diam hanya menjadi penumpang dalam hidup anda. Lompatlah menjadi pengemudi hidup anda. Belajar mengendalikan kartu yang anda punyai. Belajar menjadi diri sendiri”, Dan tanggapan lainnya; “Kebahagiaan tidak tergantung pada uang atau kekayaan – Tapi tergantung pada mengetahui dan menerima diri sendiri seperti adanya. Untuk menemukan arti hidup, anda perlu melihat kedalam diri. Ketuklah hati anda sendiri”….ya..memang sulit..tapi kenapa tidak kita coba

.

Sekali seseorang sudah jauh lebih mengerti tentang dirinya sendiri, maka dia akan berada di posisi yang lebih baik dan mampu memanfaatkan kekuatan yang dia miliki dan mengendalikan kelemahan yang dia punyai, sehingga dia bisa sepenuhnya menjalani hidup ini dengan memaksimalkan potensinya, dan begitu juga belajar untuk mengenali tipe seperti apa anda itu, dan juga situasi yang paling cocok untuk anda. Namun bukan hanya itu saja…orang juga sewajarnya mengerti makna sesungguhnya dari “cinta” untuk dirinya sendiri. “Cinta” memiliki arti yang berbeda untuk masing masing orang….dan bagaimana anda mendefinisikan. Sebuah penelitian terhadap lebih dari 1.000 pasangan yang bahagia maupun kebalikannya telah menunjukkan bahwa mengerti diri sendiri, harapan yang ingin didapatkan dalam cinta, dan kebutuhan atas suatu hubungan adalah alat indikasi yang penting dalam hidup…..”….ya..memang sulit..tapi kenapa tidak kita coba

.

Kang Danu

Tbk.E20171112.16:34

DULU…SEKARANG…NANTI

DULU…SEKARANG…NANTI

.

.

Hampir 2 jam sore tadi kuhabiskan waktuku untuk mendengarkan seorang bapak-bapak yang tidak tahu dari mana tiba-tiba membicarakan masalah rumah tangganya di kucingan. Dari rahasia A sampai rahasia B….dari keuangan sampai hutang yang ditanggungnya…dan yang paling penting adalah hubungannya dengan anaknya yang baru kelas 2 SD.

.

Dan 2 jam inipun aku belajar lebih banyak dari yang sudah-sudah tentang dinamika hidup manusia yang bahagia dan juga nestapa yang saling beradu untuk menghantam tiap manusia yang berdiri di ujung tebing yang disebut ‘menjalani kehidupan”. satu yang bisa kupahami dari semua unek-unek yang keluar tanpa diundang adalah bapak ini butuh teman bicara…butuh teman untuk sekedar menumpahkan semua yang sedang mengganjal di dadanya.

.

Tentu saja sebagai orang luar aku tidak bisa mengambil suatu keputusan maupun saran yang muluk-muluk..terlebih aku sendiri juga belum berkeluarga…namun aku tahu dan paham kenapa aku “berada” di kucingan hari ini…karena aku harus membuka luka lama dan juga sedikit berbagi dengan bapak ini. Mungkin masalah utamanya tidak bisa kuceritakan disini..namun garis besarnya apa yang dia alami saat ini sama persis dengan aku ketika kecil….bedanya dia mengalaminya dalam sudut pandang seorang laki-laki dan seorang ayah….dan aku mengalaminya dalam sudut pandang sebagai seorang anak tunggal yang kebetulan sama dengan posisi anak-nya bapak ini. Dan ditengah-tengah kegalauannya…aku hanya bisa berbagi tentang kemungkinan apa saja yang mungkin bisa terjadi dengan anaknya karena faktanya sebagai orang tua…kadang mereka tidak melihat apa yang lepas dari tangan mereka…dan apa yang dialami seorang anak…dan mau tidak mau memang kubagikan sekelumit cerita hidupku agar bapak ini tidak terlarut…namun tetap fokus terhadap apapun juga yang bisa mempengaruhi anaknya…dan kelihatannya dia paham apa yang kumaksudkan.

.

seperti itulah….dalam keseharian kita memang terkondisikan untuk menyimpan rapat-rapat semua kenangan pahit yang kita alami di masa lalu…dimana kita menanamkan kuat kuat di otak kita agar tidak sedikitpun mengungkit-ungkit masalah itu kembali dan sebisa mungkin untuk membuangnya jauh-jauh ke dalam lubuk hati. Namun, disisi yang berlawanan aku kadang malah menganggap semua kenangan pahit yang kita alami adalah batu bata yang membentuk diri kita saat ini…entah sebagai individu pembenci, penyayang, pengasih, pendendam, pengampun dan banyak lagi. Dan yang kupahami bertahun tahun adalah mencoba menerima semua kenangan pahit tersebut,pengalaman tidak mengenakkan tersebut dan akhirnya merelakannya sebagai bagian dari diri kita…bagian dari kesalahan kita…bagian dari masa-masa kelam kita…toh nyatanya jika kita bisa menerimanya…kita bisa menjadi lebih baik dari masa yang sudah-sudah. Cobalah untuk melihat bagaimana kita dulu…dan kita sekarang…lihatlah landasan kita berdiri sekarang adakah yang dilandasi dari kenangan dan pengalaman pahit di masa lampau…entah bagian dimana membuat anda semakin kokoh berdiri…semakin mantap berlari…ataupun semakin memahami arti dari penderitaan yang telah kita lewati. Dan aku juga percaya bahwa tidak ada manusia satupun di dunia ini yang terlepas dari pengalaman tidak mengenakkan..pengalaman memalukan…atapupun pengalaman yang membuat kita runtuh lantak. Dan ada juga beberapa yang begitu terjepitnya sehingga berpikiran bahwa keluar dari lembaran hidup ini menjadi jalan satu-satunya.

.

Dan seperti sore inipun juga…aku tahu bahwa kenangan pahitku sebenarnya bisa sedikit membantu apa yang dialami sang bapak ini…karena aku sudah mengalaminya, sedangkan bapak ini sedang berada di tengah-tengah badai yang menerpanya…Dan seperti itu juga aku jadi berpikir bahwa semua yang kita alami..entah baik dan buruk di masa lampau kadang memang menampakkan pesan tersembunyi di lain waktu…kadang yang kita alami dulu baru kita lihat maksudnya bertahun-tahun kemudian. Dan disaat kita dihantam masalah seperti ini…memang pikiran kita sebagai manusia kadang begitu ributnya dengan semua tekanan yangmembuat kita tidak bisa berpikiran jernih…dan disinilah peran orang lain kelihatannya menjadi nyata…sebagai orang untuk bersandar..sebagai teman yang menerima keluh kesah tanpa menilai…dan murni sebagai individu yang mau mendengarkan…karena faktanya kadang yang mereka butuhkan hanyalah seseorang ada di sana ketika mereka melalui masa-masa sulit tersebut. Dan jika pengalaman pahit anda akan membantu…kenapa tidak kita buka dan berbagi…tidak ada salahnya. Memang..pedih rasanya untuk membuka luka lama…namun sepadan jika kita bisa melihat individu lain agar tidak mengalami apa yang kita alami..apa yang orang lain alami. tentu saja penerimaan mereka akan sangat beragam, namun itu tidak menutup kenyataan bahwa mereka membutuhkan orang untuk berbagi…diakui ataupun tidak diakui oleh individu tersebut.

.

Seperti yang kubilang tadi..bahwa apapun yang kita alami..kita jalani di masa lampau entah buruk atau jelek..kadang kita tahu di kemudian hari…dan kadang hal tersebut terikat dengan orang lain secar langusng dan tidak langsung. Coba pikr kembali apa yang anda alami di masa lampau yang anda pahami sekarang…kalau dulu tidak dipecat…sekarang tidak mungkin bekerja disini….kalau dulu tidak bertemu dengan si A, sekarang pasti tidak seperti ini….kalau dulu jadi berbuat itu, sekarang pasti akan jadi begini…..dan begitu banyak yang dulunya kalau tidak bla bla bla….sekarang pastinya bla bla bla. Termasuk juga pengalaman pahit anda yang kadang memang perlu anda bagikan…jadi berbesar hatilah.

.

.

Kang Danu

Edited.TBK.20171107.19:55

JANGAN-JANGAN

(suatu malam di Jakarta)

.

Pulang kerja ya seperti biasa belakangan ini jalan kaki. Sembari menghitung langkah kaki, mata tidak berhenti berganti pandangan ke kanan dan kekiri sekedar mengulangi pemandangan yang sebenanrya sudah ratusan kali kulewati. Dengan waktu yang menginjak jam 8-an malam, jumlah orang orang yang tadinya padat di area ini dapat dipastikan berangsung-angsur menghilang, kecuali barisan manusia-manusia kayak di pintu mall belakang sana yang sedang mengantri taxi. Sedangkan sepanjang trotoar di depanku kosong…walaupun tidak bisa dibilang melompong.

.

Diantara rindangnya pohon dan bayangan ranting-rantingnya yang jatuh ke trotoar karena sorotan lampu-lampu hias yang menyambut 17an kemarin, kulihat sesosok yang berjalan arah berpapasan denganku. Semakin lama semakin dekat jarak antara diriku dan orang yang di depan sana. Secara garis besar bisa digambarkan dengan kata: pendatang?…kalau kubilang pendatang maksudnya adalah karena kulihat tipikal yang sama ketika aku dulu di samarinda, balikpapan ataupun batam ketika malam minggu menjelang.

.

Dan sosok itu juga memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda…kaos yang dimasukkan ke dalam celana panjang jeans-nya ditambah lagi dengan jaket berbahan jeans. Dilehernya terkaling sebuah scraft atau apa, aku tidak terlalu memperhatikan. Dipingganggnya melilit sebuah tas kecil dan ada sebuah earphone yang menyambung ke HP yag dipegangnya. Pokoknya rapi jali tanpa kompromi. Oh ya…rambutnya agak panjang. Jujur saja….penampilan seperti itu mengingatkanku pada preman-preman terminal dengan potongan muleet-nya..alias tipis samping..panjang belakang.

.

Dan karena itulah, maka ada perasaan sedikit panik ketika aku menggeserkan langkah kakiku ke sebelah kiri trotoar, dari kejauhan dia juga mengarah ke sisi kiri….sedangkan ketika kulangkahkan ke kanan…dianya ikut kekanan. Jangan-jangan….jangan-jangan……… Otakku sudah membuat peta jalan 3 dimensi mana kanan—mana kiri…kalau perlu lari (beneran bro). Kalau di film-film…mungkin peta digital sudah ada tanda-tanda markernya…sedangkan tas sudah lebih berpidah ke depan dada..yang tadinya di samping badan…dan kalau dipikir pikir…kurang dari 100 meter kedepan ada pos security yang kutahu pasti ada securitinya. Tapi karena bayangan ranting yang luayan padat…jadi wajahnya tidak terlalu jelas.

.

Kanan..ikut kanan..kiri…ikut kiri…dan makin lama makin dekat sampai akhinya tinggal 1 meter kita hadap-hadapan sampai bisa memastikan celana dan jaket bahan jeans-nya. Entah maunya apa nih orang..pokoknya siap-siap…yang kemudian dibuka dengan;

.

Mas, mau tanya…kalau daerah widya tama di mana ya?…saya sudah cari dari siang tadi gak ketemu…cari teman cuman ditelepon kok gak bisa bisa..

 

Ya ampun….orang cari alamat tho….tapi tetap saja pikiran belum tenang…mata masih men-scan sekitar..jangan jangan ada temannya yang tiba-tiba muncul dari semak semak sebelah kiri…atau apalah…intinya tetap harus men-set kaki untuk jurus kaki seribu…maklum…gak jago kelahi…dan lagi gak bawa jampi-jampi hahahahaha. Tapi setelah beberapa saat dengan pertanyaanku untuk coba telepon temannya yang terus tidak bisa dihubungi, dan juga sudah tanya security di depan sana yang katanya hanya menyuruh masuk ke dalam saja tanpa penjelasan yang lumayan jelas…akhirnya memang keputusannya “cari alamat”….lagian mukanya sudah lumayan nelongso banget…cari alamat temannya gak ketemu-ketemu.

.

Mungkin paranoid…iya…mungkin berprasangka….iya…pokoknya tidak kupungkiri kalau sedang jalan bawaannya waspada gak ketulungan…trauma dulu kuliah kena copet hilang 300 ribu. Kalau orang bilang “don’t judge book by its cover” yang diaplikasikan untuk tidak menilai orang dari penampilannya….untukku sih ‘WHY NOT??”….kalau kita mau lihat dalamnya….sense pertama kali yang kita pakai khan mata..so..WHY NOT…apalagi kalau bukunya diplastik-in..pasti sulit tahu dalamnya kalau gak terpaksa kita beli karena judulnya menarik…atau covernya mengundang mata…seperti waktu di singapura beli buku 365 kamasurta yang diplastik yang kukira seperti sejarahnya kamasutra seperti edisi keluaran gramedia…tahunya..365 photo. …terlebih–lebih jaman sekarang…tidak ada salahnya kita untuk curiga terlebih dahulu…intinya kita waspada untuk hal-hal yang terburuk baru sejalan dengan proses kita akan tahu gimana lapisa-lapisan dalamnya. Tidak semua orang necis itu baik…dan tidak semua bajingan itu tidak bisa berbuat baik…tapi untuk keduanya tetap kita perlu mawas diri. Terlebih lagi di kota besar dimana orang-makan-orang (kiasan bro…) tidak ada salahnya untuk memiliki standar seberapa jauh kita membatasi diri dengan orang lain dan tahu benar benar dianya untuk kita anggap sebagai teman..sahabat…atau orang yang bisa kita percayai.

.

Seperti orang yang tadi kutemui…batasanku ya sederhana…ketika dia tidak menunjukkan gelagat aneh…tangan tidak didalam saku (siapa tahu pegang senjata tajam atau lainnya), asli kelihatan bingung gak tahu kemana, dan terlebih lagi tidak ada orang lain yang tiba-tiba datang mengerumuni…di lain pihak..aku juga tahu daerah situ dan kemana harus pergi kalau ada sesuatu. Dan akhinya..kuarahkan dia ke lokasi yang dia maksud setelah berkonsultasi dengan temanku lewat telepon. Dan kulanjutkan lagi perjalanan pulang sembari berharap nih orang ketemu alamat yang dituju…tapi tetap tak lupa konsentrasiku tetap 100% disekitarku..sampai nantinya sudah buka pintu kamar kos…selamettttttt.

.

.

Kang Danu

Jk.19.8.14.21:40