LHO…GIMANA THO MAS?

LHO…GIMANA THO MAS?

.

.

sesekali aku teringat tentang suatu kejadian ketika aku pulang ke kampung dengan menggunakan bis ekonomi antar kota jurusan Yogyakarta – Yogyakarta. Seperti halnya bis antar kota yang berstandar ekonomi, bis ini juga penuh dengan para pengamen. Satu turun, satu naik. Bagaikan jalinan rantai yang yang tak putus-putus…kecuali ketika memasuki jalur Secang-Ambarawa dikarenakan panjangnya trayek dan tidak adanya pemberhentian di tengah-jalan, kecuali jajaran kampung dan hutan. Pengamen yang bergiliran itu akan semakin banyak ketika memasuki daerah Magelang. Dengan padatnya jalur pengamen yang silih berganti yang menyambangi tiap bis yang lewat, tentu saja berimbas pada malasnya para penumpang yang mau dengan rela membagi recehan yang ada maupun yang dengan sengaja disediakan sebelum naik bis. Apalagi untuk para pengamen yang bermodal hanya “genjrang – genjreng” plus niat-tidak-niat. Siapa yang mau disalahkan jika para penumpang akhirnya enggan memberikan recehan, karena faktanya para penumpang juga berdiri di pihak konsumen yang “membeli” barang yang diberikan, dalam hal ini ya…lagu yang dinyayikan plus musiknya.

.

Jika kenyataannya mereka bernyanyi dengan baik dan indah, yakinlah tidak sedikit yang mau berbagi rejeki dengan mereka. Kalaupun jelek…ya terserah ada yang mau atau tidak karena pada prinsipnya mereka juga tidak puas dengan apa yang ditawarkan…sistem coba dulu baru beli juga berlaku di dunia jual suara ala jalanan ini. Aku  sendiri juga memberi kalau aku merasa mereka layak untuk diberi atas apa yang ditawarkan. Sebetulnya sekecil apapun bentuknya yang kita lakukan dengan tujuan utama untuk mendapatkan uang, kita itu bertindak sebagai penjual. Sebagai pengamenpun kita harusnya berpegang bahwa mereka itu menjual suara yang tentu saja dengan tujuan utama agar dinikmati para pendengarnya.

.

Tapi bukan itu yang ingin kubicarakan sekarang  bukannya masalah jual beli suara di atas kendaraan roda 4 ini, tapi komunikasi sepasang pengamen di dalam bis yang aku naiki hari ini. Setengah perjalana sudah terlampaui, sekarang bis ekonomi ini sedang berhenti di luar terminal Magelang sekedar untuk mengais penumpang-penumpang yang tidak masuk ke dalam terminal. Kesempatan seperti inilah yang biasanya digunakan para pengamen untuk naik ke dalam bis dan bernyanyi. Aku masih ingat sepasang cowok-cewek yang naik ini adalah pengamen ke 3 yang mencoba keberuntungan sebelum bis ini akhirnya bergerak lagi. Untuk suara sih bisa dibilang pas-pasan dan tidak masuk dalam daftar rekaman, tapi untuk nilai kekompakan bisa dikasih nilai 8 naik dikitlah. Yang cowok memainkan gitar dan bernyanyi dengan diiringi suara teman ceweknya yang sesekali bertepuk tangan. Teman…mungkin bisa dibilang bahwa mereka pacaran kali  karena mereka kelihatannya sangat dekat sekali…lagi-lagi mungkin pacar karena aku juga tidak melakukan inspeksi lebih jauh…hanya ber-asumsi saja. Katika selesai 1 lagu, sang cowok melepas topinya dan mulai berjalan dari kursi depan untuk menerima uang yang diberikan para penumpang. Aku juga sudah merogoh 500 perak untuk kuberikan karena aku merasa terhibur juga oleh lagu dan suarannya, dan tentunya sebelum mereka turun dari pintu belakang nanti..karena aku duduk di barisan paling belakang.

.

Mungkin bukan moment mereka untuk mendapat banyak koin di dalam bis ini karena kelihatannya sedikit sekali yang merogoh kantongnya untuk mengisi topi tersebut. Namun bagaimana-pun juga para penumpang tidak bisa disalahkan karena mereka adalah pengamen ke tiga, belum lagi di terminal-terminal sebelumnya dan juga dalam perjalanan antar satu kota ke kota lainnya banyak para pengamen yang masuk. Kurangnya orang yang memberikan uang kelihatannya dirasakan oleh si cowok tersebut. 2/3 panjang bis sudah habis dilalui sembari menyodorkan topi tersebut. Aku tidak mendengar apa yang dikeluhkan sang cowok tapi aku mendengar apa komentar sang cewek setelah mendengar keluhan sang cowok tersebut. Dia bilang “Lho…piye tho mas, biyen ngomong dewe yen aku kudu sabar. yen sabar khan gusti yo ngrungokke. yen sabar mengko khan rejeki yo teko dewe. Mbiyen ngandani aku kok saiki ngresulo dewe. yo wis saiki sabar disik…” (Lho…gimana tho mas, dulu ngomong sendiri kalau aku harus sabar. kalau sabar nanti Tuhan juga mendengar. kalau bersabar nanti rejeki juga datang. Dulu menasehati aku kok sekarang berkeluh sendiri. ya udah, sekarang sabar dulu…”

.

Tidak tahu kenapa, aku cuma tersenyum sendiri mendengarkan komentar pasangan pengamen tersebut. Aku bisa menangkap bahwa sang cewek berusaha menunjukkan bahwa dulu sang cowok menasehati dia, dan sekarang gantian dia menasehati sang cowok dengan nasehatnya si cowok itu sendiri. Entah kenapa aku cuman berpikiran kalau itu mungkin gunanya pasangan, teman, partner, dan orang lain dalam hidup kita. Kenyataannya kita memang bisa dibilang tidak bisa terus hidup dalam satu jalan saja. Manusia itu berubah. Dulu mungkin kita salah, siapa tahu nantinya kita yang ternyata benar. Dulu kita yang jadi penjahat, tapi nantinya kitalah yang dielukan sebagai yang benar. Dulu kita dibilang pendosa, eh siapa tahu natinya apa yang kita lakukan bukanlah dosa. Dulunya kita menasehati, sekarang orang yang butuh dinasehati. Pengingat dan yang diigatkan. Dan semuanya juga butuh orang lain sebagai pihak yang berseberangan dengan pandangan kita. Dan di dalam bis ini kulihat satu contoh orang yang dulu menasehati jadi orang yang dinasehati.

.

Aku cuma mau bilang bahwa apa yang kita lakukan kadang kala tidak bisa dinilai pada saat itu juga sebagai sesuatu yang baik dan jelek, butuh waktu yang teramat panjang untuk melihat siklus dan dampak lebih luasnya. Terlebih lagi kita tidak bisa berarogansi bahwa yang kita lakukan, pikirkan, dan ucapkan akan kekal selamanya dalam diri kita. Karna kita sendiri kadang tidak sadar bahwa apa yang kita lakukan ternyata bertentangan dengan apa yang dulunya kita gembar-gemborkan. Orang lain…itulah fungsinya sebagai tombol pengingat agar apa yang kita lakukan tetap dalam jalurnya. Dan takaran benar dan salahnya sesuatu tentu saja tinggal dalam norma masyarakat, tapi satu lagi…norma masyarakat sendiri juga cenderung berubah dengan waktu. Fleksible. Intinya bahwa apapun yang kita lakukan belum tentu benar, dan itulah fungsinya ada orang lain dalam hidup kita.

.

Oh ya…uang 500 perak yang tadi sudah kukeluarkan akhirnya masuk lagi ke kantong karena sepasang pengamen tersebut sibuk berdebat sendiri sembari keluar dari bis dan lupa menyodorkan topinya di kursi-kursi barisan belakang. Akhirnya bis jalan lagi.

.

.

Kang Danu

Smd20060806.e20171114

SELEMBAR DAUN

SELEMBAR DAUN

.

.

Bangun pagi. Kucek-kucek mata. Pakai sarung. Minum sebotol air putih. Buka jendela. Rebahan lagi… Pikiranku gak tahu terbang kemana waktu mata tertuju pada pohon yang ada di luar jendela. Daunnya rimbum warna hijau tua.  Entah sudah ratusan kali aku lihat pohon yang sama ini. Dari dia kering karena memang musim yang sedang panas-panasnya, trus daun-daun hijau muda yang mulai tumbuh dan akhirnya menjadi hijau tua dan akhirnya jadi kuning layu dan gugur ke tanah. berulang-ulang sudah kulihat bagaimana pohon ini berganti daun dari waktu ke waktu dan sampai akhirnya gugur lagi dan lagi. Jadi, tujuannya itu daun terus tumbuh dan gugur dan tumbuh lagi apa?? apa sesudah bekerja keras untuk sang batang akhirnya harus terbuang juga dan jatuh ke tanah jadi sampah??
.
Tidak jauh beda dengan tuh daun-daun yang berguguran, aku jadi teringat dengan pertanyaan yang sudah lama ‘ngendon di pikiranku. Sederhana sih pertanyaannya, “Apa sih tujuanku hidup di dunia ini?” apakah seperti daun yang akhirnya gugur juga dan tumbuh lagi dan gugur lagi. monotonitas? Bukannya pertanyaanku itu tidak mendasar, tapi sejauh ini yang bisa aku lihat dan aku serap dalam keseharian hampir bisa ditebak. Okeylah jika ada yang tidak setuju dengan itu, tapi ini sejauh yang aku rasakan. Lulus SD lanjut ke SMP. Lulus SMP merangkak ke SMA. Lulus SMA berjuang di jenjang Universitas. Kuliah kelar, ya masuk dalam dunia nyata yang diinisiasikan dengan kata “kerja”. Kerja. Kerja. Kerja. Kerja dan akhirnya kerja. Mungkin sedikit kisah romantis dan sedih sebagain bumbu penyedapnya, dan itupun jika beruntung menemukannya. Tapi akhirnya kembali juga ke kerja, kerja, dan mati.
.
Kembali ke pertanyaan dasar tadi dan juga statement bahwa kita harus berbuat baik, kenapa kita harus mengikuti aturan jika pada akhirnya semuannya kembali pada ketidakadaan. Banyak teori bahwa kita besoknya masuk surga, neraka atau entah apapun namanya, tapi yang kupercayain itu belum ada satupun yang melihat nyatanya. nah, bagaimana jika semuannya kembali ke kosong,  null, zero, none, nothing, nada, daa.  Jiwa kita ya hilang begitu saja ‘ndak ada artinya dan juga ndak ada ceritanya seperti daun-daun yang berguguran karena sudah habis masa kerjanya? Trus intinya tujuan kita hidup di dunia itu apa? Makin lama kita hidup, makin dewasa, makin berkurang terangnya cahaya kehidupan di sekitar. Berlahan lahan berpendar dan nanti pada akhirnya menjadi lembaran foto hitam putih. Dan untuk mengisi hari ke depan itu, kembali ke kerja, kerja, kerja, dan mengikuti semua tata cara dan goresan cerita sebagai panduan agar kita bisa hidup dan diterima. Itukah intinya kita hidup, cuma untuk mengisi apa yang sudah disediakan dan juga menyelesaikan apa yang sudah dimulai?..apakah tujuan kita hidup itu sekedar untuk menggapai apa yang dikenal orang sebagai keabadian, ataukah kita hidup sekedar nantinnya untuk gugur seperti helai – helai daun yang tercampakkan di tanah tidak berarti?
.
Tunggu dulu…tidak berarti? mungkin memang untuk sebagian orang, lembaran daun tersebut akan berakhir di tempat sampah ataupun sekedar dibakar habis karena dianggap sebagai sampah saja. Trus kenapa pohon di luar jendelaku tumbuh dan tidak pernah layu walaupun musim kering sudah beberapa bulan menghajar tanah dimana dia berdiri. darimana kekuatan itu didapat. Kalau di lihat ke bawah, tumpukan daun yang memang sudah lama ada akhirnya menjadi busuk dan memberikan nutrisi pada batang tumbuhan itu untuk hidup dan untuk mengadakan lembaran-lembaran daun baru. Siapa bilang membusuknya daun daun tersebut adalah tanda tidak bergunanya daun-daun yang sudah gugur ke tanah. siapa bilang pupuk hijau tidak akan ada artinya.
.

Itulah arti lamanya hidup dari selembar daun dimana dia dari kecil menjadi tua dan bekerja terus untuk sang batang secara keseluruhan dan akhirnya dia harus rela untuk gugur demi memberikan tempat baru bagi daun muda yang nantinya berguna juga. Mungkin gugurnya daun-daun tersebut dan akhirnya membusuk dan jadi pupuk adalah kesediaan mereka untuk menjadi landasan dasar bagi tegaknya sang pohon. Kitapun demikian, kerja dan kerja, tapi tujuannya apa? apakah kita hanya terjebak dalam rutinitas dan membusuk tanpa jadi apapun juga? Mungkin tujuan kita hidup itu sama juga untuk menjadi landasan dasar bagi generasi baru yang kita tinggalkan. Apa yang kita lakukan sekarang menjadi model untuk berikutnya. Akankah kita mengisi hidup ini dengan kesadaran bahwa yang kita lakukan adalah pijakan untuk generasai mendatang, ataukan cuma sekedar mengisi hidup sebelum kita mati saja? dan aku sadar bahwa memang semua ada akhir dan juga ada awal, tinggal bagaimana kita mengisi wakti diantara awal dan akhir itu.
.
.
.
Kang Danu
Smd.warnet.20161023.13:09e20171014.20:16

 

APA YANG MEMBUAT ORANG BAHAGIA?

APA YANG MEMBUAT ORANG BAHAGIA?

.

.

Apa yang membuat orang bahagia? Ada sebuah penelitian yang dibuat untuk melihat hal-hal dibalik kebahagiaan seseorang dan penelitian tersebut dilakukan di lebih dari 20 negara dengan target mereka yang sudah lanjut usia yang diminta untuk menjawab 1 buah pertanyaan;

.

jika anda diberi 1 kesempatan untuk  memberi sebuah nasehat tentang bagaimana caranya menemukan kepuasan yang sebenarnya dalam hidup ini, apakah nasehatnya itu?

.

Penelitian itu tidak hanya bertujuan untuk menemukan jawaban populer, namun juga keanekaragaman jawaban jika dilihat dari mana mereka tumbuh, kegiatan profesional mereka, dan apa yang mereka alami dalam hidup ini. Mengesampingkan beragamnya latar belakang budaya, status pernikahan, besarnya keluarga, level pendidikan, catatan kesehatan dan pemasukan. Jawaban yang diberikan ternyata cukup mengagumkan dengan adanya suatu kemiripan. Rahasia kepuasan dalam hidup ini?…orang-orang dari belahan dunia yang berbeda nampaknya setuju;

.

  1. Secepat mungkin, ambillah/luangkan waktu untuk mengenali diri sendiri, dan
  2. Belajar untuk mengikuti kata hati

.

Salah satu jawaban berasal dari seorang yang berumur 91 tahun dari romania yang menuliskan “Kunci untuk hidup bahagia terletak dalam  belajar untuk menikmati hidup dan menghidupkan apa yang anda inginkan serta perlukan…mudah hidup untuk orang lain; tiap orang melakukannya. Pertama kali anda harus hidup terlebih dahulu untuk diri anda sendiri”. Lain jawaban datang dari seorang wanita berusia 89 tahun dari Itali yang menulis “Tanyakan sebuah pertanyaan kepada diri anda sendiri; jika anda tidak paham diri anda sendiri – apa yang anda suka dan kenapa – anda tidak akan sepenuhnya mampu untuk benar-benar memahami orang lain.”  Tanggapan yang lain juga datang seperti “Saya menyadari bahwa begitu banyak orang dewasa ini yang hidup tanpa tahu diri mereka sendiri atau apa yang mereka inginkan dalam hidup ini. Jika mereka tidak tahu apa yang mereka inginkan, bagaimana mereka akan mendapatkannya?” Atau “Saya percaya bahwa hal yang terpenting adalah jangan pernah tinggal diam hanya menjadi penumpang dalam hidup anda. Lompatlah menjadi pengemudi hidup anda. Belajar mengendalikan kartu yang anda punyai. Belajar menjadi diri sendiri”, Dan tanggapan lainnya; “Kebahagiaan tidak tergantung pada uang atau kekayaan – Tapi tergantung pada mengetahui dan menerima diri sendiri seperti adanya. Untuk menemukan arti hidup, anda perlu melihat kedalam diri. Ketuklah hati anda sendiri”….ya..memang sulit..tapi kenapa tidak kita coba

.

Sekali seseorang sudah jauh lebih mengerti tentang dirinya sendiri, maka dia akan berada di posisi yang lebih baik dan mampu memanfaatkan kekuatan yang dia miliki dan mengendalikan kelemahan yang dia punyai, sehingga dia bisa sepenuhnya menjalani hidup ini dengan memaksimalkan potensinya, dan begitu juga belajar untuk mengenali tipe seperti apa anda itu, dan juga situasi yang paling cocok untuk anda. Namun bukan hanya itu saja…orang juga sewajarnya mengerti makna sesungguhnya dari “cinta” untuk dirinya sendiri. “Cinta” memiliki arti yang berbeda untuk masing masing orang….dan bagaimana anda mendefinisikan. Sebuah penelitian terhadap lebih dari 1.000 pasangan yang bahagia maupun kebalikannya telah menunjukkan bahwa mengerti diri sendiri, harapan yang ingin didapatkan dalam cinta, dan kebutuhan atas suatu hubungan adalah alat indikasi yang penting dalam hidup…..”….ya..memang sulit..tapi kenapa tidak kita coba

.

Kang Danu

Tbk.E20171112.16:34

TEMPATMU HANYALAH SEPETAK KECIL SAJA DI HATIKU

.

Aku mau mengatakan padamu sekali ini saja

Dan janganlah paksa diri ini untuk mengatakan lagi

Karna sekali ini lebih dari jutaan kali

Dan engkau hanya butuh sekali saja untuk mendulang ini

.

Memang, kaulah sang pasangan

Yang takkan hilang walaupun kalang menghadang

Karna kaulah diriku jadi kepingan utuh

Dan karna kaulah laraku jadi diam membeku

.

Tapi, jika kau tanya siapakah dirimu

Dan dimanakah tempatmu di hatiku

Akan kujawab dan kuharap kau dengar dengan jiwamu

Bahwa kau hidup di dalam sejengkal petak kecil di hatiku

.

Aku tak bisa memberikan tempat lapang padamu

Karna terlalu banyak yang mengisi hatiku

Karna mereka juga menorehkan bingkai-bingkai cerita

Karna itu tak bisa kuhapuskan begitu saja

.

Tempatmu hanyalah sejengkal petak kecil di hatiku

Dan kuminta engkau untuk tidak menggerutu

Jika hanya itulah yang bisa kusisihkan

Diantara ramainya mereka yang melintas di hatiku

.

Berilah aku sedikit senyummu

Karna telah kusisihkan sejengkal petak kecil itu

Bisakah kuminta engkau untuk mengerti itu

Karna memang tak bisa kupaksakan hatiku

.

Diantara mereka yang tinggal di hatiku

Dan memang engkaulah yang menempati sejengkal petak kecil itu

Bisakah kuharap kau untuk mendengarkan kataku

Karna itulah sejengkal petak kecil TERINDAH di hatiku

.

.

Kang Danu

Samarinda.kost.18.09.06.09:43

DULU…SEKARANG…NANTI

DULU…SEKARANG…NANTI

.

.

Hampir 2 jam sore tadi kuhabiskan waktuku untuk mendengarkan seorang bapak-bapak yang tidak tahu dari mana tiba-tiba membicarakan masalah rumah tangganya di kucingan. Dari rahasia A sampai rahasia B….dari keuangan sampai hutang yang ditanggungnya…dan yang paling penting adalah hubungannya dengan anaknya yang baru kelas 2 SD.

.

Dan 2 jam inipun aku belajar lebih banyak dari yang sudah-sudah tentang dinamika hidup manusia yang bahagia dan juga nestapa yang saling beradu untuk menghantam tiap manusia yang berdiri di ujung tebing yang disebut ‘menjalani kehidupan”. satu yang bisa kupahami dari semua unek-unek yang keluar tanpa diundang adalah bapak ini butuh teman bicara…butuh teman untuk sekedar menumpahkan semua yang sedang mengganjal di dadanya.

.

Tentu saja sebagai orang luar aku tidak bisa mengambil suatu keputusan maupun saran yang muluk-muluk..terlebih aku sendiri juga belum berkeluarga…namun aku tahu dan paham kenapa aku “berada” di kucingan hari ini…karena aku harus membuka luka lama dan juga sedikit berbagi dengan bapak ini. Mungkin masalah utamanya tidak bisa kuceritakan disini..namun garis besarnya apa yang dia alami saat ini sama persis dengan aku ketika kecil….bedanya dia mengalaminya dalam sudut pandang seorang laki-laki dan seorang ayah….dan aku mengalaminya dalam sudut pandang sebagai seorang anak tunggal yang kebetulan sama dengan posisi anak-nya bapak ini. Dan ditengah-tengah kegalauannya…aku hanya bisa berbagi tentang kemungkinan apa saja yang mungkin bisa terjadi dengan anaknya karena faktanya sebagai orang tua…kadang mereka tidak melihat apa yang lepas dari tangan mereka…dan apa yang dialami seorang anak…dan mau tidak mau memang kubagikan sekelumit cerita hidupku agar bapak ini tidak terlarut…namun tetap fokus terhadap apapun juga yang bisa mempengaruhi anaknya…dan kelihatannya dia paham apa yang kumaksudkan.

.

seperti itulah….dalam keseharian kita memang terkondisikan untuk menyimpan rapat-rapat semua kenangan pahit yang kita alami di masa lalu…dimana kita menanamkan kuat kuat di otak kita agar tidak sedikitpun mengungkit-ungkit masalah itu kembali dan sebisa mungkin untuk membuangnya jauh-jauh ke dalam lubuk hati. Namun, disisi yang berlawanan aku kadang malah menganggap semua kenangan pahit yang kita alami adalah batu bata yang membentuk diri kita saat ini…entah sebagai individu pembenci, penyayang, pengasih, pendendam, pengampun dan banyak lagi. Dan yang kupahami bertahun tahun adalah mencoba menerima semua kenangan pahit tersebut,pengalaman tidak mengenakkan tersebut dan akhirnya merelakannya sebagai bagian dari diri kita…bagian dari kesalahan kita…bagian dari masa-masa kelam kita…toh nyatanya jika kita bisa menerimanya…kita bisa menjadi lebih baik dari masa yang sudah-sudah. Cobalah untuk melihat bagaimana kita dulu…dan kita sekarang…lihatlah landasan kita berdiri sekarang adakah yang dilandasi dari kenangan dan pengalaman pahit di masa lampau…entah bagian dimana membuat anda semakin kokoh berdiri…semakin mantap berlari…ataupun semakin memahami arti dari penderitaan yang telah kita lewati. Dan aku juga percaya bahwa tidak ada manusia satupun di dunia ini yang terlepas dari pengalaman tidak mengenakkan..pengalaman memalukan…atapupun pengalaman yang membuat kita runtuh lantak. Dan ada juga beberapa yang begitu terjepitnya sehingga berpikiran bahwa keluar dari lembaran hidup ini menjadi jalan satu-satunya.

.

Dan seperti sore inipun juga…aku tahu bahwa kenangan pahitku sebenarnya bisa sedikit membantu apa yang dialami sang bapak ini…karena aku sudah mengalaminya, sedangkan bapak ini sedang berada di tengah-tengah badai yang menerpanya…Dan seperti itu juga aku jadi berpikir bahwa semua yang kita alami..entah baik dan buruk di masa lampau kadang memang menampakkan pesan tersembunyi di lain waktu…kadang yang kita alami dulu baru kita lihat maksudnya bertahun-tahun kemudian. Dan disaat kita dihantam masalah seperti ini…memang pikiran kita sebagai manusia kadang begitu ributnya dengan semua tekanan yangmembuat kita tidak bisa berpikiran jernih…dan disinilah peran orang lain kelihatannya menjadi nyata…sebagai orang untuk bersandar..sebagai teman yang menerima keluh kesah tanpa menilai…dan murni sebagai individu yang mau mendengarkan…karena faktanya kadang yang mereka butuhkan hanyalah seseorang ada di sana ketika mereka melalui masa-masa sulit tersebut. Dan jika pengalaman pahit anda akan membantu…kenapa tidak kita buka dan berbagi…tidak ada salahnya. Memang..pedih rasanya untuk membuka luka lama…namun sepadan jika kita bisa melihat individu lain agar tidak mengalami apa yang kita alami..apa yang orang lain alami. tentu saja penerimaan mereka akan sangat beragam, namun itu tidak menutup kenyataan bahwa mereka membutuhkan orang untuk berbagi…diakui ataupun tidak diakui oleh individu tersebut.

.

Seperti yang kubilang tadi..bahwa apapun yang kita alami..kita jalani di masa lampau entah buruk atau jelek..kadang kita tahu di kemudian hari…dan kadang hal tersebut terikat dengan orang lain secar langusng dan tidak langsung. Coba pikr kembali apa yang anda alami di masa lampau yang anda pahami sekarang…kalau dulu tidak dipecat…sekarang tidak mungkin bekerja disini….kalau dulu tidak bertemu dengan si A, sekarang pasti tidak seperti ini….kalau dulu jadi berbuat itu, sekarang pasti akan jadi begini…..dan begitu banyak yang dulunya kalau tidak bla bla bla….sekarang pastinya bla bla bla. Termasuk juga pengalaman pahit anda yang kadang memang perlu anda bagikan…jadi berbesar hatilah.

.

.

Kang Danu

Edited.TBK.20171107.19:55

JANGAN-JANGAN

(suatu malam di Jakarta)

.

Pulang kerja ya seperti biasa belakangan ini jalan kaki. Sembari menghitung langkah kaki, mata tidak berhenti berganti pandangan ke kanan dan kekiri sekedar mengulangi pemandangan yang sebenanrya sudah ratusan kali kulewati. Dengan waktu yang menginjak jam 8-an malam, jumlah orang orang yang tadinya padat di area ini dapat dipastikan berangsung-angsur menghilang, kecuali barisan manusia-manusia kayak di pintu mall belakang sana yang sedang mengantri taxi. Sedangkan sepanjang trotoar di depanku kosong…walaupun tidak bisa dibilang melompong.

.

Diantara rindangnya pohon dan bayangan ranting-rantingnya yang jatuh ke trotoar karena sorotan lampu-lampu hias yang menyambut 17an kemarin, kulihat sesosok yang berjalan arah berpapasan denganku. Semakin lama semakin dekat jarak antara diriku dan orang yang di depan sana. Secara garis besar bisa digambarkan dengan kata: pendatang?…kalau kubilang pendatang maksudnya adalah karena kulihat tipikal yang sama ketika aku dulu di samarinda, balikpapan ataupun batam ketika malam minggu menjelang.

.

Dan sosok itu juga memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda…kaos yang dimasukkan ke dalam celana panjang jeans-nya ditambah lagi dengan jaket berbahan jeans. Dilehernya terkaling sebuah scraft atau apa, aku tidak terlalu memperhatikan. Dipingganggnya melilit sebuah tas kecil dan ada sebuah earphone yang menyambung ke HP yag dipegangnya. Pokoknya rapi jali tanpa kompromi. Oh ya…rambutnya agak panjang. Jujur saja….penampilan seperti itu mengingatkanku pada preman-preman terminal dengan potongan muleet-nya..alias tipis samping..panjang belakang.

.

Dan karena itulah, maka ada perasaan sedikit panik ketika aku menggeserkan langkah kakiku ke sebelah kiri trotoar, dari kejauhan dia juga mengarah ke sisi kiri….sedangkan ketika kulangkahkan ke kanan…dianya ikut kekanan. Jangan-jangan….jangan-jangan……… Otakku sudah membuat peta jalan 3 dimensi mana kanan—mana kiri…kalau perlu lari (beneran bro). Kalau di film-film…mungkin peta digital sudah ada tanda-tanda markernya…sedangkan tas sudah lebih berpidah ke depan dada..yang tadinya di samping badan…dan kalau dipikir pikir…kurang dari 100 meter kedepan ada pos security yang kutahu pasti ada securitinya. Tapi karena bayangan ranting yang luayan padat…jadi wajahnya tidak terlalu jelas.

.

Kanan..ikut kanan..kiri…ikut kiri…dan makin lama makin dekat sampai akhinya tinggal 1 meter kita hadap-hadapan sampai bisa memastikan celana dan jaket bahan jeans-nya. Entah maunya apa nih orang..pokoknya siap-siap…yang kemudian dibuka dengan;

.

Mas, mau tanya…kalau daerah widya tama di mana ya?…saya sudah cari dari siang tadi gak ketemu…cari teman cuman ditelepon kok gak bisa bisa..

 

Ya ampun….orang cari alamat tho….tapi tetap saja pikiran belum tenang…mata masih men-scan sekitar..jangan jangan ada temannya yang tiba-tiba muncul dari semak semak sebelah kiri…atau apalah…intinya tetap harus men-set kaki untuk jurus kaki seribu…maklum…gak jago kelahi…dan lagi gak bawa jampi-jampi hahahahaha. Tapi setelah beberapa saat dengan pertanyaanku untuk coba telepon temannya yang terus tidak bisa dihubungi, dan juga sudah tanya security di depan sana yang katanya hanya menyuruh masuk ke dalam saja tanpa penjelasan yang lumayan jelas…akhirnya memang keputusannya “cari alamat”….lagian mukanya sudah lumayan nelongso banget…cari alamat temannya gak ketemu-ketemu.

.

Mungkin paranoid…iya…mungkin berprasangka….iya…pokoknya tidak kupungkiri kalau sedang jalan bawaannya waspada gak ketulungan…trauma dulu kuliah kena copet hilang 300 ribu. Kalau orang bilang “don’t judge book by its cover” yang diaplikasikan untuk tidak menilai orang dari penampilannya….untukku sih ‘WHY NOT??”….kalau kita mau lihat dalamnya….sense pertama kali yang kita pakai khan mata..so..WHY NOT…apalagi kalau bukunya diplastik-in..pasti sulit tahu dalamnya kalau gak terpaksa kita beli karena judulnya menarik…atau covernya mengundang mata…seperti waktu di singapura beli buku 365 kamasurta yang diplastik yang kukira seperti sejarahnya kamasutra seperti edisi keluaran gramedia…tahunya..365 photo. …terlebih–lebih jaman sekarang…tidak ada salahnya kita untuk curiga terlebih dahulu…intinya kita waspada untuk hal-hal yang terburuk baru sejalan dengan proses kita akan tahu gimana lapisa-lapisan dalamnya. Tidak semua orang necis itu baik…dan tidak semua bajingan itu tidak bisa berbuat baik…tapi untuk keduanya tetap kita perlu mawas diri. Terlebih lagi di kota besar dimana orang-makan-orang (kiasan bro…) tidak ada salahnya untuk memiliki standar seberapa jauh kita membatasi diri dengan orang lain dan tahu benar benar dianya untuk kita anggap sebagai teman..sahabat…atau orang yang bisa kita percayai.

.

Seperti orang yang tadi kutemui…batasanku ya sederhana…ketika dia tidak menunjukkan gelagat aneh…tangan tidak didalam saku (siapa tahu pegang senjata tajam atau lainnya), asli kelihatan bingung gak tahu kemana, dan terlebih lagi tidak ada orang lain yang tiba-tiba datang mengerumuni…di lain pihak..aku juga tahu daerah situ dan kemana harus pergi kalau ada sesuatu. Dan akhinya..kuarahkan dia ke lokasi yang dia maksud setelah berkonsultasi dengan temanku lewat telepon. Dan kulanjutkan lagi perjalanan pulang sembari berharap nih orang ketemu alamat yang dituju…tapi tetap tak lupa konsentrasiku tetap 100% disekitarku..sampai nantinya sudah buka pintu kamar kos…selamettttttt.

.

.

Kang Danu

Jk.19.8.14.21:40

INDOMIE GORENG

Catatanku hari ini: (catatan pagi gak ‘sa tidur)

.

Mungkin sudah ratusan kali aku bikin Indomie goreng…yang kalau di jogja dikenal dengan istilah Tante goreng atau Intel goreng….bagi yang gak tahu…cobalah sesekali pesen salah satunya. Anehnya, untukku beli indomie di warung Burjo (bubur kacang ijo), yang kebanyakan dimiliki sama orang jawa barat, terasa jauh lebih-lebih nikmat daripada ketika bikin di kost-kost-an. Padahal kalau dipikir..sama sama indomienya..sama sama telornya…sama-sama bumbunya..sama-sama juga sawinya. Dan untuk lidah yang cukup peka…masakan indomie dari satu warung ke warung yang lainnya akan berbeda…dan ini hanya pembuka cari bahasan yang ingin kutulis.

.

7 tahun hidup di lancang kuning membuatku lumayan tahu siapa-siapa saja yang ada di sini..khususnya orang-orang yang jualan di kantin karena lokasi kantin-lah yang merupakan lokasi yang lumayan enak untuk duduk ‘ngopi dan juga sekedar mengamati orang yang berlalu lalang macam juri yang kasih nilai tuh cewek nilainya 7+…sedangkan yang di belakangnya solid 10++…hahaha…dalam pikiran saja. Namun, sangat disayangkan karena kalau mau dibilang…beberapa tahun belakangan suasananya berubah sama sekali, dan ada kecenderungan untuk mati pelan-pelan…Jika dulu saja jam 11 malam masih bisa diharapkan untuk mendapatkan segelas kopi panas dan orang-orang yang duduk ngobrol…saat ini masih untung kalau jam 9 malam masih buka.

.

Kalau ditanya kenapa….jawabannya ya seperti warung burjo yang di jogja yang bisa dibilang tiap 100 meter akan mudah menemukannya…dan masing-masing punya pelangan sendiri-sendiri…terlepas yang bayar kontan atau yang sering ngutang kayak aku dulu,..maklum mahasiswa kere dengan keterbatasan dompet hahaha. Untuk masalah kantin yang hidup segan mati tak mau ini sebenarnya menurutku karena adanya kangker yang menggerogoti sejak tahun tahun belakangan…dan nama kangker tersebut adalah keserakahan dan iri hati. Pernah jamannya para penjual dikantin ini adem ayem..gemah ripah loh jinawi…namun hal itu bergeser dengan masuknya orang-orang yang mempunyai karakter tidak suka atas kesuksesan orang lain…seperti halnya jika orang lain sukses berjaulan bakwan goreng…dia meniru jualan bakwan goreng…dan masalahnya timbul ketika bakwannya tidak selaris tetangganya…dan itu diakhiri dengan gosip murahan dan rasa benci…dilain waktu ada penjual yang laku dengan pelanggan setia…namun akhirnya digosipin macam-macam yang akhirnya membawa suatu kondisi tidak nyaman…yang berakhir dengan adanya geng-geng-an..kelompok-kelompokan yang melibas kenyamanan pelanggan juga pada akhirnya…karena ada kesan tarik-tarikan pelanggan. Dan lucunya…jika seseorang pernah makan di suatu tempat…dan hari hari kedepannya dia makan di penjual lainnya…nanti sang pelanggan tersebut ikut-ikutan dimusuhi…atau sekedar disindir tidak langsung.

.

Kadang kepingin sekali bilang ke orang-orang tersebut bahwa jualan…apalagi yang namanya makanan berarti berurusan dengan lidah…dengan indra pengecapan…dengan budaya makan seseorang…sehingga kesamaan jenis makanan dari satu penjual dengan penjual lainnya tidak akan menjamin kalau barang dagangannya akan sama ramainya dengan orang lain…karena jelas saja beda setengah sendok garam saja akan menghasilkan rasa berbeda…apalagi jika yang masak orangnya berbeda. Sama – sama jualan bakwanpun tidak akan menjamin bakwannya lebih enak dari tempat lain…dan sama-sama jualan mie goreng-pun jika pembelinya suka yang pakai kecambah di dalamnya pasti dengan sendirinya akan mencari penjual yang sesuai dengan seleranya.

.

Trus gunanya gosip-gosipan, tarik-tarikan pelanggan, fitnah-fitnahan dan iri-irian sebenarnya buat apa? Urusan lidah adalah urusan pribadi…sehingga jika seseorang suka masakan di tempat lain…ya karena tempat itu sesuai dengan indra pengecapannya…sesederhana itu saja.Terlebih lagi jika diperkuat dengan iman bahwa “rejeki tidak akan kemana”…ada yang ngatur….dan yang bisa dilakukan adalah terus belajar..terus berimprovisasi sehingga masakannya akan lebih diterima konsumen sekitarnya…kalau tidak mau begitu…ya berarti harus mencari lokasi dimana masakannya diterima…move or adapt…just that.

.

Untuk berbisnis..kayaknya perlu sesekali kita ke Mall dan memperhatikan para penjual HP yang sedang bertransaksi dengan pelanggannya….jarang aku dengan kata “tidak ada”..yang ada ya “ada” walaupun barangnya tidak ada. Barangnya “ada” karena mereka meng”adakan” dengan cara mengambil dari temannya. Berapa kali anda belanja mereka bilang ‘ada” tapi diminta tunggu sebentar…trus orangnya ‘ngloyor pergi dan kebali dengan barangnya yang sudah ‘ada” di tangan?. Kalaupun dijawab “tidak ada”, biasanya akan diikuti dengan kata “tapi bisa saya carikan”

.

Yang kumaksud disini adalah…kalau kita jadi pengusaha…lihatlah pengusaha lain, sebagai rekan kerja…atau perpanjangan tangan…. walaupun sama usahanya. Boleh saingan…namun harus yang sehat…syukur-syukur dilihat sebagai kesempatan bisnis lainnya. Jika anda tidak punya barangnya…kenapa tidak ambil dari dia….jika dia jualan bakso…kenapa anda tidak jualan es campur dan krupuk-nya….jika dia jualan kasur-kasur bekas…kenapa anda tidak buka memperbaiki kasur dan isi kapuk…dan jika dia buka tempat kursus dengan banyak anak-anakdi dalamnya…kenapa tidak buka kantin kecil di sampingnya…jika kita bisa melihat perpanjangan bisnis yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan pengusaha lain..trus gunanya saling menghabisi itu apa?…apalagi jika hanya jualan makanan di kantin.

.

Dan kembali ke Mie goreng tadi…mungkin ada persaingan antara penjualnya…namun merekapun memiliki pelanggan-pelanggan setia karena….ya kembali ke masalah rasa…tiap orang punya kesukaan sendiri-sendiri…dan kenapa lebih enak di warung dari pada bikin sendiri di dapur…ya itu rahasianya mungkin…mereka adalah spesialisasinya seperti es dawet ayu…sate madura…rumah makan padang…atau mungkin di atas pintunya ada bungkusan jimat dibalut kain putih..siapa tahu hahahahaha….so…saingan bisnis tidak berarti hukukan mati bagi bisnis anda…coba pikrikan lagi.

.

.

Setodanu

Batam.Lk.15/09/13.02:09

 

[animatedcounter count=”1000″]

APAKAH KAMU PERCAYA CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA?

.

Dulu…jatuh cinta dan pengetahuan mungkin lebar terpisah. Pengetahuan itu dingin, keras dan objective…sedangkan cinta itu hangat, lembut dan misterius. Namun beberapa dekade belakangan telah ada perkembangan dalam pengetahuan seperti halnya psychologi dan neurochemistry untuk mengetahui tentang roman dan ketertatikan dan apa yang perlu ada untuk adanya hubungan yang menyenangkan. Seperti halnya penelitian yang dibuat oleh Helmut Lamm dan Ulrich Weissmann tentang cinta. Nah di bawah ini kucoba rangkumkan apa yang aku baca dari 2 orang jerman tersebut dengan bahasaku ya…(maaf kalau mungkin agak aneh karena aku gak nemu kalimat indonesianya yang cocok kadang-kadang)

….

Apakah cinta pada pandangan pertama itu benar-benar ada? Beberapa peneliti telah mengatakan bahwa masing-masing dari kita membawa dalam pikiran kita tentanga apakah “Love Map” (LM) itu, sebuah cetakan yang kita gunakan untuk menilai orang lain. Pembangunan peta ini mulai dari masa kecil dan terus berlanjut terus sampai saatnya anda membentuk sebuah ide dari apa yang anda pandang menarik. Ketika anda bertemu dengan sesorang yang cocok dengan LM anda, tubuh anda akan merespon dengan mengirimkan sebuah aliran hormon. Persis dengan effek dari “amphetamines” (salah satu dasar pembuat narkoba), sebuah hormon yang disebut dengan “phenylethy-lamine” (PEA) akan secara otomatis menaikkan mood anda. Dalam beberapa menit berada dekat dengan orang yang sesuai dengan LM anda, detak hantung akan meningkat yang menyebabkan naiknya tekanan darah. Anda akan bernafas lebih cepat dan permukaan kulit yang cenderung memerah (berseri) karena meningkatnya aliran darah yang biasanya terlihat di area pipi yang merona. Dan pelepasan dari andrenaline dan nonandrenaline akan menyebabkan permukaan tangan menjadi berkeringat dan mungkin agak gemetar. Ketika di puncaknya dari rasa suka (dan tendensi ke arah arousal), lingkaran mata anda akan membesar dan otot cenderung lebih kencang. Anda akan duduk dalam posisi lebih tegap dan secara otomatis akan membusungkan dada….macam ayam jago kayaknya.

.

Pelepasan zat kimia ini bisa dibandingkan ketika anda mabuk. Dan ketika individu tersebut pergi dari samping anda, akan memerlukan beberapa waktu sebelum akhirnya mood tubuh anda kembali ke kondisi normal. Persis seperti obat-obatan yang lain, biasanya effek pengurangan ini tidak menyenangkan, dan menyebabkan anda menjadi gugup dan penasaran untuk kembali kepada posisi dari rasa senang tersebut. Dan ini yang anda kejar ketika lanjut ke proses pertemuan kedua….dan perasaan “nagih” ini akan berlanjut ke pertemuan-pertemuan berikutnya. Anda selalu memikirkan si dia. Untuk kebanyakan orang, proses ini tidak langsung terjadi pada pertemuan pertama, tetapi  bekerja secara berurutan dan terkumpul lama kelamaan. Pelepasa hormon tersebut akan semakin meningkat tiap kali anda bertemu dengan orang tersebut, seperti layaknya naik dan turun bukit yang curam. Tiap kali anda berpisah dari individu tersebut, anda akan semakin merasa kehilangan dan kangen dengan dia….dan pada waktunya anda akan bilang “wow..kayaknya gue jatuh cinta nih”.

 

Secara statistik:

  • 54% wanita dan 63% laki-laki percaya akan adanya cinta pada padangan pertama
  • Cowok punya tendensi untuk jatuh cinta lebih cepat daripada wanita, dengan 25% laki-laki “jatuhcinta” pada kencan ke empat, dibandingkan 15% pada wanita
  • Secara rata-rata,memerlukan 12 kali utuk laki-laki dan 20 kali pada perempuan untuk berkencan sebelum akhirnya mereka memutuskan “jatuh cinta” dan menyadari bahwa hubungan mereka secara menjadi resmi.

.

Sedangkan tingkatannya keseriusan dari hubungan bisa dilihat dari teori segitiga cinta (bukan cinta segi tiga lho)…bahwa Cinta memiliki 3  bumbu yang harus dilihat

  • INTIMACY (Intim) : saling menyukai satu dengan lainnya, berbagi kisa-kisah pribadi dan mulai terikat. Suatu perkembangan emosional yang pelan-pelan berkembang seperti layaknya dalam pertemanan
  • PASSION (Kasih): Ketertarikan secara fisik dan seksual. Sebuah perkembangan kecanduan secara instan dan cepat dan juga rasa senang berada dekat dengan pasangan. Biasanya perasaan kecanduan ini tinggi di bagian awal suatu hubungan, NAMUN pelan pelan turun seiring berjalannya waktu dari tahun-ke tahun menuju ke level stabil.
  • COMMITMENT (Komitmen) – sebuah devosi yang stabil dan bisa diandalkan satu sama lainnya. Sebuah perkembangan keputusan yang pelan pelan untuk tetap berada di sampingnya sampai ketika waktu susah sekalipun.

.

Nah itu yang saya coba bagikan….jadi kalau anda bilang tidak pernah mabuk…ya dicoba tanyakan lagi…siapa tahu anda malah mabuk cinta daripada mabuk alkohol…..dan mungkin kebanyakan hubungan mahluk-mahluk yang sering nongol di TV dan disebut figur masyarakat itu hanya sedangkal bumbu jengkok ke 2 saja…PASSION….jadi ketika apinya hilang….cari yang lebih seger..lebih muda…lebih tajir…biar bisa mabuk-mabukan lagi.

 

Kang Danu

Tbk.20170215.

PANCING, MANCING, PEMANCING

(buat teman-temanku yang hobi mancing)

.

Berboncengan rapat. Senyum dilipat-lipat kulum gimana gitchu, kadang juga serius berbicara dengan kepala didepannya. Baju dan celana yang cenderung lusuh-lusuh travolta dan celana yang tidak bakalan takut berkotor-kotor ria.  Dipundak tertenteng sebuah tas yang tidak tertutup sepenuhnya karena ada beberapa batang berbentuk tabung mencuat dan kadang kadang ditemani untain benang yang bergoyang diterpa angin.

.

Ini nih…para pemancing yang mulai kelihatan kebanyakan di sabtu sore di perempatan-perempatan jalan kota batam sambil menunggu lampu hijau. Entah sudah diijinkan sama bini masing-masing, atau selingkuhan yang setara lagu selimut tetangga…bisa dipastikan sosok-sosok manusia yang berbonceng tersebuat akan menyebar ke seantero kota batam untuk menemukan celah-celah yang nikmatnya selangit buat para memancing. Bisa hitungan jam-jaman…atau bahkan tak sedikit yang lupa kapan waktunya pulang. Munkin ini jugalah alasan kenapa hantu Seiladi mulai jarang muncul karena tempatnya nongkrong kalau malam mulai ramai orang yang berjongkok ria sambil berharap-harap cemas karnifora kailnya digigit sang incaran atau tidak. Tapi yang pasti mereka kena gigit nyamuk-nyamuk nakal yang menyambangi kulit terbuka yang tidak dilapisi produk penangkal serangga atau minyak alami tubuhnya.

.

Mancing…atau komplitnya memancing, suatu kegiatan berkategori hobi slash olahraga yang mungkin agak-agak tidak kupahami. Tak Hanya di Batam, belakangan-pun di Balai rekan-rekan kerjaku mulai kesambet dewa kail. Satu persatu mulai terkepar pasrah memeluk tiang bata pemancingan di PN (sebenarnya singkatan apa sih?). Dan keceriaan mereka bertambah tinggi di kantor sejalan dengan mendekatnya hari pe-mancing-an yang mereka buat sendiri atau ikut kompetisi. Mulai dari persiapan hari, pulang cepat, siapin kompor, masak cenil, olah essence yang nantinya menghasilkan bau bermacam-macam tergantung mood mereka; mau pakai pisang raja, bakso, jeruk, teri, atau apalah yang penting berbau dasyat dengan harapan pekat agar nanti ikan yang dipancing akan terpikat mendekat. Mungkin maksudnya kayak feromon yang dhasilkan binatang-binatang waktu masa birahi nak kawin itu untuk menarik pasangan. Itu belum lagi kalau mendekati masa turnamen yang kelihatannya seminggu sekali….tak perduli keringat bercucuran karena dapat lapak yang terpapar matahari sore…namun bergeserpun tak lah. Pake payung?…..aih kelaut aja. Dengan tenang, sembari jidat-jidat mereka mengkilap akibat keringat yang kadang lupa di-lap…mata tak jauh-jauh memandang ujung benang yang tenggelam ke air atau ujung tongkat pancing dengan doa-doa setengah matang agar ada gerakan atau sedikit denyutan. Kalaupun ada…100 km/jam mungkin itu kecepata tangan mereka menyambar tongkat pancing yang sebelumnya tergeletak pasrah di bibir kolam. Diiringi riuh tawa  dan dorongan yang bercampur dengan cacian dari peserta peserta lain…mulai digulunglah roll pemutar benang pancing. Masing masing punya gaya sendiri..masing masing punya goyangan sendiri…dari goyang menyamping atau goyang duduk…yang jelas perut jadi landasan utama untuk menancapkan jangkar tongat pancing.  Masing masing juga punya keberuntngan sendiri-sendiri juga. Ada yang berhasil narik…ada yang lepas di awal…ada yang sudah di ujung surga tapi lepas tiba-tiba…dan yang ini bisanya diikuti dengan luruhnya semangat seketika, walaupun tidak sampai 3 menit kemudian akhirnya mulai lagi bersemangat mengepal-epal umpan yang dicampurin cenil beressence ajaib racikan masing-masing.  Dilain pihak, ada juga yang super-super beruntung…sudah dapat tempat nyaman…berpendingin angin alami…jauh dari terik panas yang memanggang peserta lain…tinggal lempar pancing, nyalain sebatang rokok dah langsung narik. Model ginilah yang bikin gondok-gondok tralala peserta lain. Namun dari semua ini….entah mancing sendirian, ataupun dalam perlombaan…kegiatan memancing pastilah memerlukan waktu, kesabaran, dan keberuntungan. Trus..kalau cuman duduk merenung dan berharap-harap cemas untuk mendapatkan ikan sehingga bisa berbual…ngapain mancing? Ngapain bawa pancing dan menjadi pemancing? Pertanyaan misteri yang masih belum kutemukan sampai detik ini.

.

Tapi….kalau mau dipikir lebih dalam sedikit dan kita juga mau terbuka…kita sebagai individu bisa belajar banyak dari kegiatan memancing…sebagai pemancing dengan peralatan pancingnya ketika mancing. Mungkin…satu kali putaran memancing bisa kubilang sebagai rangkuman kehidupan kita sehari hari. Coba bayangkan seperti pemancing di turnamen yang dapat tempat panas ataupun yang nyaman karena undian…begitu juga dalam hidup kita. Kita juga kadang terkondisikan dalam situasi yang tidak nyaman, yang tidak sesuai keinginan kita atau kebalikan dimana kita menikmati segala kemudahan. Pada saat bersamaan entah dimana tempat kita duduk…kitapun pasti dihadapkan pada sebuah kondisi dimana kita harus bersabar menghadapi hari, berharap-harap cemas untuk mendapatkan hasil terbaik dan berusaha sekeras-kerasnya untuk menarik kesempatan itu ke tangan kita, seperti para pemancing yang berusaha mengatur kecepatan dan kekuatan putaran roll dan tarikan tali pancing mereka. Walaupun…walaupun kadang kita mendapatkan kekecewaan karena hasil yang diharapkan lepas dari tangan di detik-detik terakhir..atau bahkan jatuh kecewa karena lepas kali pertama kita melihat kesempatan itu. Dan tentu saja bergembira jika ada tangkapan yang bisa memuaskan kita….ada penghargaan atas hasil kerja kita. Namun demikian…kalaupun ikan bisa dipancing…belum juga menjamin ikan seperti apa yang dihasilkan…seperti halnya kita berusaha keras untuk dapat A, namun berbuah B, Berbuah C dan buah-buah yang lainnya. Bahkan yang digenggaman kitapun belum tentu 100% apa yang kita impi-impikan. Dapat 3.6 Kg..padahal mengincar yang 7 Kg. Dapat Bawal…padahal mengincar Kerapu. Bahkan dari memancingpun kita bisa belajar bahwa untuk menjalani hidup inipun dibutuhkan persiapan, dibutuhkan perhitungan komposisi pengetahuan yang tepat dan sesuai serta dibutuhkan juga peralatan yang mumpuni untuk membabat semua halang-rintang dalam kehidupan kita. Seperti cenil yang sesuai hitungan essence-nya dari tetes ke tetes sehingga bisa membuat sang ikan birahi untuk melahap umpan pancingan. Tidak bisa kita cuman dating ke kolam pancing hanya bawa badan tanpa pengetahuan…proses belajar diperlukan untuk mejadi pemancing handal. Seperti halnya memancing…dalam hidup inipun kita perlu belajar bersabar, belajar untuk menerima dan bagaimana menikmati hidup diantara tekanan dengan tertawa lepas dengan teman-teman dan keluarga di sekitar. Tidak semua cacian itu jelek…dalam dunia memancing mungkin itu malah jadi pemacu untuk meracik umpan lebih baik di lain hari. Tinggal bagaimana kita menerima cemoohan itu. Dan jangan lupa juga…disamping para pemancing juga ada mereka-mereka yang bukan pemancing tapi sekedar orang yang bisa melihat sisi lain dari pemancing dan turut serta dalam kegiatan memancing itu.

.

Jadi…..seserius itukan kegiatan memancing? Tentu saja tidak karena memancing adalah kegiatan yang seharusnya menyenangkan, memberikan kebahagiaan, memberikan rangsangan, tantangan dan juga bagaiman mengantisipasi tiap detik untuk tidak kalap mata sehingga kelewatan buruan yang berharga. Bukannya menyenangkan jika kita memancing bersama pasangan kita…bersama keluarga kita…bersama anak-anak kita yang kita ajari bagaimana untuk diam bersabar dan menikmati seluruh prosesnya. Pancing, memancing dan Pemancing…elemen elemen yang bisa kurangkum denga pertanyaan “kok bisa diam saja nungguin kail digigit?”…mungkin hal tersebut tetap akan sulit kupahami…sesulit orang memahami aku yang kadang ditemani kopi tapi bisa duduk mebaca berjam-jam. Kita punya gaya sendiri..ya tho J

.

Kang Danu

Tbk. Fotocoffemilkhske.20171019.20:28