MERASA RENDAH DIRI ITU MANUSIAWI

MERASA RENDAH DIRI ITU MANUSIAWI

.

“TO BE HUMAN IS TO FEEL INFERIOR”

.

Pastilah banyak dari kita sering mendengar istilah “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” untuk meyatakan kemiripan anak atas orangtuannya…entah dari fisik atau perlakuan dalam norma masyarakat. Namun, banyak juga yang beranggapan bahwa perkembangan seseorang juga tergantung dari masyarakat sekitar dimana dia bertumbuh, tidak semena-mena karena bibit yang bagus menghasilkan produk yang bagus. Dan, mungkinkah istilah ideal diatas yang menjadi satu dari banyak alasan kenapa keluarga bermasalah menciptakan anak bermasala, keluarga harmonis menciptakan anak yang berkualitas. Pendapatku saja sih, kadang cuma omong kosong belaka. Tidak semua lingkungan yang jelek menciptakan pribadi yang rusak, dan berapa kali sih kita mendengar berita tentang anak yang diam di rumah…penurut….tahunya memperkosa pacarnya. Contoh yang lumayan ekstrim sih, tapi bukan berarti tidak ada. Terlepas dar dorongan lingkungan sekitar dimana seseorang tumbuh dan juga bawaan jabang beibi, masing masing dari kita memiliki kehendak kehendak bebas dimana kita bisa melihat kedalam diri sendiri…apakah kita sendiri mempunyai rasa percaya diri yang cukup tangguh untuk berkembang dan tumbuh, dan syukur syukur didukung keluarga dan lingkungan yang baik.

.

Alfred Adler adalah orang yang pertama kali yang mengembangkan teori yang sebelumnya dibuat oleh penganut Sigmond Freud dimana dia mengatakan bahwa kejiwaan (psikologi) seseorang juga dipengaruhi oleh kekuatan sadar dan saat ini (present), termasuk juga pengaruh sosial dan lingkungan sekitar yang sama pentingnya. Ketertarikan Adler dimulai ketika dia menangani pengaruh self-esteem (kepercayaan diri) yang positif dan negative terhadap pasiennya yang cacat fisik. Disitu dia melihat beberapa orang mampu denga sukses mencapai keberhasilan, sedangkan sebagian lainnya merasa biasa atau cenderung tidak berhasil dalam merubah nasib / situasi hidupnya. Motivasi yang kuat yang menjadi kuncinya. Disini Adler melihat inti sarinya dimana perbedaan keberhasilan tersebut berasal dari sisi BAGAIMANA individu tersebut MELIHAT DIRI MEREKA SENDIRI; dengan kata lain KEPERCAYAAN DIRI MEREKA SENDIRI (Self – esteem).

.

Menurut Adler, perasaan inferior (rendah diri) sebenarnya perasaan yang universal atau umum mendunia yang merupakan bagian dari pengalaman menjadi manusia dan berakar ketika kita masih anak-anak. Anak kecil biasanya merasa rendah diri karena mereka secara terus-menerus dikelilingi oleh orang-orang yang jauh lebih kuat dan berkemampuan yang disertai dengan macam-macam keahliah. Namun, seorang anak biasanya akan mencoba meniru pencapaian yang mereka lihat dari orang yang lebih tua di sekitar mereka (orang tua – lingkungan), termotivasi atas sekitar untuk mengembangkan dirinya sendiri dan akhirnya mencapai suatu tahap perkembangan. Anak-anak dan orang dewasa dengan kejiwaan yang sehat dan seimbang mendapatkan kepercayaan diri tiap kali mereka menyadari bahwa mereka bisa mengatasi masalah dan menggapai suatu tujuan. Perasaan inferior menghilang sampai nantinya muncul kembali rintangan ataupun kendala yang perlu diatasi lagi, dan proses ini adalah proses berkesinambungan sejalan dengan perkembanagn fisik mereka. Dilain pihak, seseorang yang mempunyai keminderan atas cacat fisik yang mereka punyai biasanya akan menggembangkan sikap rendah diri yang nantinya mengacu pada ketidakseimbangan kejiwaan yang disebut dengan istilah “Inferiority complex”, suatu tahapan dimana perasaan rendah diri tersebut tidak menghilang. Disini Adler mengenali “inferiority complex” juga muncul di dalam bentuk kebutuhan untuk berjuang keras untuk mencapai suatu tujuan, dan ketika tercapai, tujuan akhir ini tidak memberikan kepercayaan diri kepada seseorang, tetapi malah mendorong orang tersebut untuk mencari pengakuan dan pencapaian lebih jauh lagi dari pihak luar. Yang disebut disini adalah terlalu berusaha dan “ngoyo”…hanya untuk mendapatkan pengakuan.

.

Sederhananya, percaya diri dibutuhkan. Namun terlalu percaya diri juga bisa menimbulkan masalah. Dan kalau dilihat lebih teliti, dibutuhkan peran masyarakat sekitar dan keluarga dalam bentuk “Penerimaan”. Pengucilan atas kekurangan fisik dan pola pikir sesorang kadang menjadi dilemma dalam perkembangan diri seseorang untuk bisa dan mampu menerima diri mereka sendiri. Dan kembali ke diri kita sendiri, apakah kita termotivasi dan memotivasi diri kita sendiri untuk lebih besar dan sukses, dengan berlandasan pada pemahaman bahwa kita menerima kekurangan kita masing masing tanpa terlalu “ngoyo” untuk mencari pengakuan dari pihak luar. Jadi, mari tanamkan dalam diri sendiri bahwa “everything is going to be fine”. Menjadi manusia itu wajar untuk merasa rendah diri…tinggal bagaimana kita menyikapinya dan berkembang dari sana.

.

.

Kang Danu

Btm.Ngomah.e20180127.21:54

Leave a Reply

Your email address will not be published.