BEDA GENERASI

BEDA GENERASI

.

“WE PREPARE CHILDREN FOR A LIFE ABOUT WHOSE COURSE WE KNOW NOTHING”
.
Dulu waktu jamannya masih kecil (SD), kesulitan terbesarku adalah membaca. Dibandingkan semua sepupu yang seumuran denganku…aku besar dengan standar “Bodoh“, karena jika diajarin membaca…sampai yang mengajari aku marah-marah…dan kadang aku juga ikut nangis karena gak paham apa yang dimaksudkan. Seiring dengan naik kelas setiap tahunnya, rangkingku di kelas  malah  semakin turun..2..3..4…dan berakhir di urutan 14 waktu menginjak kelas 6 SD. Bahkan kalua kutarik, rekor terbesarku adalah 3 tahun berturut turut rangkin 14 waktu di bangku SMA. Bahkan waktu mau periksa mata ke Semarang waktu SMP karena sudah mulai kesulitan melihat papan tulis, sepanjang perjalanan di dalam bis umum aku masih terus saja berusaha untuk membedakan 4 huruf ini : M-N, F-V saking takutnya jika nanti disuruh pakai kacamata hanya karena nantinya salah mengucapkan huruf-hurufnya.  Kenyataannya malah sampai sekarang akhirnya bermata empat juga karena kebanyakan baca buku dan komik awal mulanya.

.

Menghafal adalah kelemahan terbesarku…jadi secara alami matematika, kimia, dan juga sejarah adalah musuh terbesar, termasuk bahasa Inggris. Kalua dipikir-pikir, secara alamiah juga jaman kuliah aku termasuk juga yang jarang dipilih untuk dijadikan anggota kerja kelompok karena tidak bisa menyumbang banyak lebih untuk kepandaian kecuali tenaga fisik. Sampai pernah sekali ditolak  langsung secara verbal) dengan kalimat kurang lebih

.

“…eh…karena si X gak masuk, kamu cari kelompok lain aja ya…”

.

Ow…waktu itu langsung hancur berkeping-keping hatiku macam tatakan gelas dah dipinggir meja dengan sengaja didorong dari pinggiran…hahaha…. Jadi selama itu berkawan dengan aku tenyata karena ada di A dalam kelompok itu?

.

Namun hampir semua bidang yang membuat teman-temanku bilangnya gak terlalu suka karena harus berpikir dan bereksplorasi, seperti halnya book report, literature, olahraga, seni, prakarya…cenderung bagus nilaiku. Mungkin karena kurangnya kebutuhan untuk menghafal, tapi lebih ke faktor  memahami. Sayangnya, menurut pendapatku, sampai sekarang kebanyakan pelajaran dinilai dari faktor bisa menyebutkan dan bukan menafsirkan dan memahaminya. Dengan kebebasan untuk mengutarakan pikiran. Jadi dinamika menghafal masih sangat kentara di dunia pendidikan kita.
.
Menghafal. Faktor – faktor inilah yang menyebabkan FRANCOISE DOLTO yang hidup di sekitar tahun 1908 – 1988 menyumbangkan pengetahuannya dalam bidang psychoanalysis untuk menyadarkan bahwa tiap anak butuh pendekatan sendiri-sendiri dalam perkembangan intelektualnya serta kenyataannya dimana kadang orang tua tidak memahami anak-anak mereka,  terlepas dari kenyataan bahwa mereka sendiri dulunya pernah menyandang status sebagai anak-anak yang sangat aktif berekplorasi.
.
Dolto percaya bahwa tiap-tiap anak memiliki perspektif unik dimana biasanya akan dilumpuhkan dalam sistem pendidikan tradisional, menghafal. Dia merasa keberatan dengan sistem pendidikan manapun juga ataupun sistem moralitas yang menitikberatkan pada pengontrolan anak-anak dengan cara kepatuhan ataupun meniru. Dia juga tidak puas dengan tehnik yang dipakai terhadap anak-anak untuk mengantisipasi masa depan yang diterapkan di sekolah maupun di rumah karena nyatanya secara fundamental masa depan anak-anak itu sendiri tidak pernah bisa diketahui sampai nantinya.
.
Anak-anak itu berbeda dengan orang dewasa yang mengajar mereka, dan ini dikarenakan anak-anak telah mengalami pengalaman yang sebelumnya mungkin tidak pernah dialami oleh orang dewasa. Bahasa gampangnya adalah perbedaan generasi. Mungkin contohnya jaman sekarang seperti kalau orang tua bilang dulu mereka puas main di kebun dengan kulit jeruk bali, dan sang anak mengernyitkan dahi berpikir bagaimana cara mainnya.  Untuk Dolto, tujuan pendidikan adalah MEMBIARKAN masing-masing anak merasakan kebebasan untuk mengeksplorasi keinginan mereka. Dilain sisi, orang dewasa seharusnya menempatkan diri sebagai role-mode yang menawarkan contoh daripada hanya memberikan metode. Sedankan peran pendidik adalah mengajarkan anak-anak bagaimana caranya membawa diri sendiri ke arah yang diinginkan.
.
Apakah pemikrian inikah yang secara tidak langsung membawa sistem pendidikan barat dengan banyak eksperimen, field trip dan pengeksplorasian sisi kreatifitas? Kalau mau dilihat, anak SD disana kebanyakan tahu bagaimana bereksperimen untuk membuat Lava Mountain…di Indonesia, Mahasiswa saja belum tentu tahu (kecuali jurusan fisika/kimia kali). Apalgi membedah katak. Mungkin tidak semua sekolah tentunya.
.
Dalam kasus ini aku berdiri di sudut diamna saya termasuk yang setuju jika anak kecil masih dalam dunia pengenalan dan bermain, sosialisasi dan berkawan, berlari dan jatuh dari ayunan…tapi apa daya…anak sekarang belum TK saja sudah banyak yang dimasukkan penjara pedagogic alias padatnya jadwal les agar biar pandai, pandai bicara, pandai membaca, pandai main biola, pandai matematika, pandai Bahasa korea, atau pandai-pandai lainnya. Di sisi lain, kelihatannya guru SD sekarang juga hanya mau, atau terseret arus untuk hanya mau,  jika anak yang mereka didik sudah bisa baca. Aku saja masuk kelas satu masih belum hafal A-B-C-D dan kelas-kelas awal adalah waktunya belajar bersama membaca…bahkan ada yang berak di dalam kelas segala. Tapi, ya kita lihat kedepannya…moga-moga bagaimana jadinya.
.
Dan hei…walaupun sampai sekarangpun kadang masih kesulitan membedakan  F dan V yang kalua dipikir-pikir bukan hurufnya, tapi lebih ke pengucapannya yang mirip macam kembar identic, dan menghitung 8 X 7 saja masih pakai tangan,  Nyatanya lulus kuliah juga walaupun lambat dengan nila A di skripsi……so I think I ain’t that stupid after all…hahaha.

 

.

Kang Danu

Tbk.Pcm.e20180120.20:52