ANAK…PUNYA ANAK

ANAK…PUNYA ANAK

.

Sebelum bicara panjang lebar…tolong dimaafkan karena tulisan di bawah hanya menurut pandanganku saja sebagai orang yang BELUM menikah dan BELUM punya anak….sebatas pertanyaan pribadi…dan pusing sendiri yang ujungnya juga berakhir dengan pertanyaan yang belum tentu jelas ada jawabannya maupun perlu diverifikasi dan diselidiki….hanya sebatas ocehan yang terlintas di otak….sepurone’ ya kang mas karo mbakyu.

.

Kemarin bertemu teman sesama pencari sesuap nasi dan segenggam berlian. Cepika-cepiki dan di tengah-tengahnya tersenggollah topik tentang teman kami yang lain dan berakhir dengan pertanyaan sudah punya anakkah dia atau belum. Bahagia juga mendengarnya walaupun bukan anak sendiri.

“Akhirnya bro”, temanku menegaskan “nunggu dia insyaf dulu kayaknya baru dikasih anak”

“maksudnya?”

“tahu sendiri khan dulu dia, sering mabok, pulang malam. Sekarang gak lagi. Jadi guru juga dia.”

Dan tertawalah kita.

.

Namun selepas itu aku jadi berpikir sendiri tentang teman-temanku atau rekan-rekan kerja yang masih berjuang atau dulunya lama berjuang untuk mendapatkan anak setelah menikah bertahun-tahun. Dimana salahnya jika ‘ngecluppun sudah sesuai standarnya? Dan kapan terakhir kali anda mendengar ada orang yang berujar “Belum dikasih sama yang diatas” serta “Anak itu titipan yang kuasa”? Trus hubungannya apa?

.

Dengan pemahaman bahwa anak itu sekedar titipan yang harus dijaga baik-baik, berarti seharusnya orang yang dititipi adalah orang yang dianggap sudah siap untuk dititipi. Seperti halnya saudara kita menitipkan anak ke kita karena mereka percaya bahwa kita bisa mengurus anak yang dititipkan. Pasrah bongkotan. Tapi apakah benar demikian? Disini aku jadi menghubungkan dengan pernyataan temanku dalam kontek bercanda di atas. Insyaf. Disini aku tidak berbicara konteks agama…tapi istilah insyaf diatas mengacu kepada segala hal yang menghambat kita untuk “siap dititipin” anak oleh yang Diatas. Dan anak disini bukan berarti harus anak biologis, anak angkatpun juga perlu proses persiapan diri dan waktu karena jelas saja mereka tidak sekedar dicomot begitu saja dari keranjang belanjaan hanya karena anak angkat. Trus maksudnya dengan insyaf yang kumaksud itu bagaimana?

.

 

Mungkin kuilustrasikan saja dengan sejawatku dulu di kantor lama empat …lima tahun lalu dimana sang suami sudah menjabat posisi yang mendekati langit…tinggal jinjit sebentar sudah menyentuh dasarnya lagit. Di sisi lain, sudah bertahun-tahunpun dia membina rumah tangga belum dikaruniai anak. Terakhir dengar berita dia memutuskan untuk berhenti kerja dan diangkut istinya mudik kampung…istirahat…dan terapi pasutri. Terakhir pula dengar berita dia dan istrinya sudah mendapatkan anak…lebih dari satu malahan. Rapelan. Jadi harusnya sekarang anak-anaknya sudah lumayan ramai mengisi ruang tamu keluarganya. Disinilah aku jadi berpikir bahwa insyaf-nya dia itu adalah istirahat dari kerja…kerja dan kerja….paham maksud saya?

.

Mungkin ada yang perlu insyaf dari kebiasaanya begadang malam diluar, dari berbatang-batang rokok tiap hari, dari makanan-makanan cepat saji alias junk food, dari memperlakukan pasangan tidak lebih dari sekedar pembantu, dari kurangnya rasa bersyukur dan pasrah, dari berperilaku egois, dari sifat kekanak-kanakan, dari kelelahan fisik yang berkepanjangan, dari kelelahan mental yang berkepanjangan, dari perasaan belum siapnya pribadi sendiri untuk mendapat momongan, dari kebiasaan mengambur-hamburkan uang, dari mabuk, dari kurangnya kita menyisihkan waktu beristirahat, dari tidak perdulinya kita terhadap kesehatan sendiri, dari kurangnya kira membagi waktu,  dari duduk seharian nonton TV sama makan kacang kapri, dari tidak berhentinya berpikiran negatif, dari tidak berhentinya membanggakan diri sendiri dan pamer harta,  dari…dari…dan jutaan dari-dari lainnya. Namun, bukan berarti semua perokok harus berhenti, semua yang suka begadang wajib pulang jam 9 malam….bukan. Disini kupikir kasusnya individu-per-individu dimana yang diatas melihat hal yang perlu diinsyafin dari masing-masing orang juga berbeda-beda. Sampai titik dimana kita menentukan langkah yang benar mungkin kita belum sepenuhnya dipercayai untuk dititipi. Dan kadang banyak juga mungkin tidak paham salahnya dimana?

.

Memiliki anak berarti tanggung jawab tidak berkesudahan. Dan kapan kita diberi juga merupakan misteri. Jadi ketika orang bicara “belum dikasih” berarti masih sangat terbuka kesempatan untuk “meminta”. Dan ingat lagi, anak yang kumaksud tidak terbatas pada anak biologi. Banyak cara dan bentuk sebuah keluarga memiliki anak, tinggal bagaimana kita memandangnya.  Ndelok njero.

.

Itulah alasan kubilang sepurone diawal karena keterbatasan pemahamanku dan juga sangat banyaknya sudut pandang dimana yang benar dan yang kurang berkenan hanya setipis tali rapia yang sudah disuir-suir buat prakarya anak-anak. Namun tetap saja aku mempercayain bahwa masing masing dari kita berhak untuk menimang anak  entah kapan itu waktunya dan bagaimana bentuk anak itu akhirnya. Sepurone ya kang mas karo mbakyu…aku ojo diseneni.

.

.

Kang Danu

Tbk.Pcm.20180116.21:04