SEBUTKAN SEBANYAK MUNGKIN KEGUNAAN TUSUK GIGI YANG ANDA BISA

SEBUTKAN SEBANYAK MUNGKIN KEGUNAAN TUSUK GIGI YANG ANDA BISA

.

.
Dulu waktu jamannya kuliah, pernah aku ikut kelas besar dimana pesertanya kira-kira bias dibilang satu angkatan prodi yang kemudian dipecah dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan sekitar 6 sampai 7 mahasiswa. Studi kasus yang diberikan adalah ; ingin menyelenggarakan sebuah konser musik di kampus..sedangkan sponsor terbesar yang bisa didapatkan untuk memecahkan masalah keuangan adalah produsen rokok dimana mereka akan mereka memasang umbul-umbul dan banner. Disatu sisi, ada aturan dari kampus yang menyatakan “Tidak diperbolehkan memasang iklan produk rokok di dalam kampus”. Nah…hampir semua kelompok memiliki kesamaan keputusan untuk mencari sponsor lain. Kecuali seingatku tinggal 1 kelompok yang memiliki jawaban berbeda…kelompok dimana aku menjadi anggotanya…itupun juga karena aku sepertinya mencoba meyakinkan anggota yang lain bahwa sponsor rokok bisa digunakan…dengan melihat aturan dari kampus atas kalimat “…DI DALAM kampus”. Jadi, kalau umbul-umbul disetujui kedua belah pihak untuk dipsang diluar pagar kampus…ya tidak masalah khan?
.
Melihat masalah dan cara pemecahannya memang kadang menimbulkan banyak dilema, dimana kadang seseorang hanya memiliki satu jawaban mutlak, sedangkan yang lainnya memiliki alternatif yang banyak…apakah tingkat intelektual seseorang mempengaruhi setiap pemecahan masalah yang sedang dihadapi? Alfred Binet, seorang psikolog perancis pada tahun 1905 bersamaan dengan Theodore Simon membuat “Binet-Simon Scale“, sebuah skala yang bertujuan untuk mengklasifikasikan tingkat inteligensi individu dari; memori, perhatian, dan pemecahan masalah. IQ rata-rata orang adalah 100 point. Dan hasilnya adalah 95% populasi umum masuk dalam point 70 sampai 130, Sedangkan 0.5% sisanya diatas 145 yang disebut level “Genius“. TAPI walaupun tes ini masih digunakan, tes ini memiliki kelemahan dimana test ini mengesampingkan kreativitas dan beranggapan bahwa hanya ada kepandaian umum yang diwakili dengan test tersebut.
.
Dari pemikiran itulah, J.P. Guilford melakukan pendekatan yang berbeda dengan menyebutkan kreativitas berarti lebih dari satu pemecahan masalah untuk satu masalah saja. Hal ini memerlukan pola pikir berbeda yang disebut dengan istilah “DIVERGENT“. Karen tehnik ini menghasilkan banyak sekali jawaban yang berbeda untuk satu masalah. Dengan sendirinya pemikiran ini bertolak belakang dengan IQ test yang biasanya hanya menghasilkan satu jawaban saja, dan disebut dengan pemikiran “CONVERGENT“. Guilford membuat test “Alternative Uses Test” untuk melihat seberapa luas seseorang bisa memikirkan pemecahan masalah pada satu waktu saja…dan itu dinilai dari Originality-Fluency-Flexibility dan Elaboration. Disini dia memecah intelegensi dalam 3 kelompok besar:

.
1. OPERATION: proses kepandaian yang kita gunakan dan terdiri dari enam unsur termasuk memory, kognisi dan evaluasi.

2. CONTENT: ada keterlibatan informasi ataupun data dan terbagi menjadi lima termasuk kontent visual dan audio

3. PRODUCT: hasil dari penerapan 2 point sebelumnya seperti halnya pembagian dan hubungan. Disini ada 6 unsur.
.
dengan pembagian diatas, sudah diklasifikasikan lebih dari 180 jenis kategori intelegensi, dan seratusnya sudah diverifikasi. Karena tingkat kerumitan test yang diciptakan, sampai sekarang test ini masih jarang digunakan, dan kesimpulannya adalah:
.
A. Pertanyaan atas memori dan pemecahan masalah sederhana bisa dijawab dengan menggunakan pemikiran Convergent dimana kemampuan seseorang untuk menghasilkan satu jawaban yang benar, dan hal ini bisa diuji dengan Standardized Intelligence (IQ) test

B. Pemasalahn yang memerlukan pemikiran kreatif bisa dipecahkan dengan menggunakan pemikiran Divergent dimana ada penggalian berbagai macam jawaban dan ini bisa diambil dengan penerapan test baru yang melibatkan pemecahan masalah dan imajinasi.
.

Nah …jika anak, saudara anda, tetangga anda dibilang IQnya tidak bagus…bukan berarti dia tidak pandai…lihatlah pola pikirnya…siapa tahu dia jenius dalam bidang lain…dan kembali ke kelasku waktu kuliah, jawaban kelompokku adalah satu-satunya jawaban yang dianggap salah oleh dosen kelas…terlepas seberapa ngeyelnya aku memperjuangkan alasannya dari sudut tata bahasa undang-undang kampusnya. Makanya…sampai sekarang aku masih ingat kasus ini…dan masih tidak terima dengan keputusan dosenku…

.

.

Kang Danu

Tbk.Pcm.e20180106.20:11