MERASA RENDAH DIRI ITU MANUSIAWI

MERASA RENDAH DIRI ITU MANUSIAWI

.

“TO BE HUMAN IS TO FEEL INFERIOR”

.

Pastilah banyak dari kita sering mendengar istilah “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” untuk meyatakan kemiripan anak atas orangtuannya…entah dari fisik atau perlakuan dalam norma masyarakat. Namun, banyak juga yang beranggapan bahwa perkembangan seseorang juga tergantung dari masyarakat sekitar dimana dia bertumbuh, tidak semena-mena karena bibit yang bagus menghasilkan produk yang bagus. Dan, mungkinkah istilah ideal diatas yang menjadi satu dari banyak alasan kenapa keluarga bermasalah menciptakan anak bermasala, keluarga harmonis menciptakan anak yang berkualitas. Pendapatku saja sih, kadang cuma omong kosong belaka. Tidak semua lingkungan yang jelek menciptakan pribadi yang rusak, dan berapa kali sih kita mendengar berita tentang anak yang diam di rumah…penurut….tahunya memperkosa pacarnya. Contoh yang lumayan ekstrim sih, tapi bukan berarti tidak ada. Terlepas dar dorongan lingkungan sekitar dimana seseorang tumbuh dan juga bawaan jabang beibi, masing masing dari kita memiliki kehendak kehendak bebas dimana kita bisa melihat kedalam diri sendiri…apakah kita sendiri mempunyai rasa percaya diri yang cukup tangguh untuk berkembang dan tumbuh, dan syukur syukur didukung keluarga dan lingkungan yang baik.

.

Alfred Adler adalah orang yang pertama kali yang mengembangkan teori yang sebelumnya dibuat oleh penganut Sigmond Freud dimana dia mengatakan bahwa kejiwaan (psikologi) seseorang juga dipengaruhi oleh kekuatan sadar dan saat ini (present), termasuk juga pengaruh sosial dan lingkungan sekitar yang sama pentingnya. Ketertarikan Adler dimulai ketika dia menangani pengaruh self-esteem (kepercayaan diri) yang positif dan negative terhadap pasiennya yang cacat fisik. Disitu dia melihat beberapa orang mampu denga sukses mencapai keberhasilan, sedangkan sebagian lainnya merasa biasa atau cenderung tidak berhasil dalam merubah nasib / situasi hidupnya. Motivasi yang kuat yang menjadi kuncinya. Disini Adler melihat inti sarinya dimana perbedaan keberhasilan tersebut berasal dari sisi BAGAIMANA individu tersebut MELIHAT DIRI MEREKA SENDIRI; dengan kata lain KEPERCAYAAN DIRI MEREKA SENDIRI (Self – esteem).

.

Menurut Adler, perasaan inferior (rendah diri) sebenarnya perasaan yang universal atau umum mendunia yang merupakan bagian dari pengalaman menjadi manusia dan berakar ketika kita masih anak-anak. Anak kecil biasanya merasa rendah diri karena mereka secara terus-menerus dikelilingi oleh orang-orang yang jauh lebih kuat dan berkemampuan yang disertai dengan macam-macam keahliah. Namun, seorang anak biasanya akan mencoba meniru pencapaian yang mereka lihat dari orang yang lebih tua di sekitar mereka (orang tua – lingkungan), termotivasi atas sekitar untuk mengembangkan dirinya sendiri dan akhirnya mencapai suatu tahap perkembangan. Anak-anak dan orang dewasa dengan kejiwaan yang sehat dan seimbang mendapatkan kepercayaan diri tiap kali mereka menyadari bahwa mereka bisa mengatasi masalah dan menggapai suatu tujuan. Perasaan inferior menghilang sampai nantinya muncul kembali rintangan ataupun kendala yang perlu diatasi lagi, dan proses ini adalah proses berkesinambungan sejalan dengan perkembanagn fisik mereka. Dilain pihak, seseorang yang mempunyai keminderan atas cacat fisik yang mereka punyai biasanya akan menggembangkan sikap rendah diri yang nantinya mengacu pada ketidakseimbangan kejiwaan yang disebut dengan istilah “Inferiority complex”, suatu tahapan dimana perasaan rendah diri tersebut tidak menghilang. Disini Adler mengenali “inferiority complex” juga muncul di dalam bentuk kebutuhan untuk berjuang keras untuk mencapai suatu tujuan, dan ketika tercapai, tujuan akhir ini tidak memberikan kepercayaan diri kepada seseorang, tetapi malah mendorong orang tersebut untuk mencari pengakuan dan pencapaian lebih jauh lagi dari pihak luar. Yang disebut disini adalah terlalu berusaha dan “ngoyo”…hanya untuk mendapatkan pengakuan.

.

Sederhananya, percaya diri dibutuhkan. Namun terlalu percaya diri juga bisa menimbulkan masalah. Dan kalau dilihat lebih teliti, dibutuhkan peran masyarakat sekitar dan keluarga dalam bentuk “Penerimaan”. Pengucilan atas kekurangan fisik dan pola pikir sesorang kadang menjadi dilemma dalam perkembangan diri seseorang untuk bisa dan mampu menerima diri mereka sendiri. Dan kembali ke diri kita sendiri, apakah kita termotivasi dan memotivasi diri kita sendiri untuk lebih besar dan sukses, dengan berlandasan pada pemahaman bahwa kita menerima kekurangan kita masing masing tanpa terlalu “ngoyo” untuk mencari pengakuan dari pihak luar. Jadi, mari tanamkan dalam diri sendiri bahwa “everything is going to be fine”. Menjadi manusia itu wajar untuk merasa rendah diri…tinggal bagaimana kita menyikapinya dan berkembang dari sana.

.

.

Kang Danu

Btm.Ngomah.e20180127.21:54

BEDA GENERASI

BEDA GENERASI

.

“WE PREPARE CHILDREN FOR A LIFE ABOUT WHOSE COURSE WE KNOW NOTHING”
.
Dulu waktu jamannya masih kecil (SD), kesulitan terbesarku adalah membaca. Dibandingkan semua sepupu yang seumuran denganku…aku besar dengan standar “Bodoh“, karena jika diajarin membaca…sampai yang mengajari aku marah-marah…dan kadang aku juga ikut nangis karena gak paham apa yang dimaksudkan. Seiring dengan naik kelas setiap tahunnya, rangkingku di kelas  malah  semakin turun..2..3..4…dan berakhir di urutan 14 waktu menginjak kelas 6 SD. Bahkan kalua kutarik, rekor terbesarku adalah 3 tahun berturut turut rangkin 14 waktu di bangku SMA. Bahkan waktu mau periksa mata ke Semarang waktu SMP karena sudah mulai kesulitan melihat papan tulis, sepanjang perjalanan di dalam bis umum aku masih terus saja berusaha untuk membedakan 4 huruf ini : M-N, F-V saking takutnya jika nanti disuruh pakai kacamata hanya karena nantinya salah mengucapkan huruf-hurufnya.  Kenyataannya malah sampai sekarang akhirnya bermata empat juga karena kebanyakan baca buku dan komik awal mulanya.

.

Menghafal adalah kelemahan terbesarku…jadi secara alami matematika, kimia, dan juga sejarah adalah musuh terbesar, termasuk bahasa Inggris. Kalua dipikir-pikir, secara alamiah juga jaman kuliah aku termasuk juga yang jarang dipilih untuk dijadikan anggota kerja kelompok karena tidak bisa menyumbang banyak lebih untuk kepandaian kecuali tenaga fisik. Sampai pernah sekali ditolak  langsung secara verbal) dengan kalimat kurang lebih

.

“…eh…karena si X gak masuk, kamu cari kelompok lain aja ya…”

.

Ow…waktu itu langsung hancur berkeping-keping hatiku macam tatakan gelas dah dipinggir meja dengan sengaja didorong dari pinggiran…hahaha…. Jadi selama itu berkawan dengan aku tenyata karena ada di A dalam kelompok itu?

.

Namun hampir semua bidang yang membuat teman-temanku bilangnya gak terlalu suka karena harus berpikir dan bereksplorasi, seperti halnya book report, literature, olahraga, seni, prakarya…cenderung bagus nilaiku. Mungkin karena kurangnya kebutuhan untuk menghafal, tapi lebih ke faktor  memahami. Sayangnya, menurut pendapatku, sampai sekarang kebanyakan pelajaran dinilai dari faktor bisa menyebutkan dan bukan menafsirkan dan memahaminya. Dengan kebebasan untuk mengutarakan pikiran. Jadi dinamika menghafal masih sangat kentara di dunia pendidikan kita.
.
Menghafal. Faktor – faktor inilah yang menyebabkan FRANCOISE DOLTO yang hidup di sekitar tahun 1908 – 1988 menyumbangkan pengetahuannya dalam bidang psychoanalysis untuk menyadarkan bahwa tiap anak butuh pendekatan sendiri-sendiri dalam perkembangan intelektualnya serta kenyataannya dimana kadang orang tua tidak memahami anak-anak mereka,  terlepas dari kenyataan bahwa mereka sendiri dulunya pernah menyandang status sebagai anak-anak yang sangat aktif berekplorasi.
.
Dolto percaya bahwa tiap-tiap anak memiliki perspektif unik dimana biasanya akan dilumpuhkan dalam sistem pendidikan tradisional, menghafal. Dia merasa keberatan dengan sistem pendidikan manapun juga ataupun sistem moralitas yang menitikberatkan pada pengontrolan anak-anak dengan cara kepatuhan ataupun meniru. Dia juga tidak puas dengan tehnik yang dipakai terhadap anak-anak untuk mengantisipasi masa depan yang diterapkan di sekolah maupun di rumah karena nyatanya secara fundamental masa depan anak-anak itu sendiri tidak pernah bisa diketahui sampai nantinya.
.
Anak-anak itu berbeda dengan orang dewasa yang mengajar mereka, dan ini dikarenakan anak-anak telah mengalami pengalaman yang sebelumnya mungkin tidak pernah dialami oleh orang dewasa. Bahasa gampangnya adalah perbedaan generasi. Mungkin contohnya jaman sekarang seperti kalau orang tua bilang dulu mereka puas main di kebun dengan kulit jeruk bali, dan sang anak mengernyitkan dahi berpikir bagaimana cara mainnya.  Untuk Dolto, tujuan pendidikan adalah MEMBIARKAN masing-masing anak merasakan kebebasan untuk mengeksplorasi keinginan mereka. Dilain sisi, orang dewasa seharusnya menempatkan diri sebagai role-mode yang menawarkan contoh daripada hanya memberikan metode. Sedankan peran pendidik adalah mengajarkan anak-anak bagaimana caranya membawa diri sendiri ke arah yang diinginkan.
.
Apakah pemikrian inikah yang secara tidak langsung membawa sistem pendidikan barat dengan banyak eksperimen, field trip dan pengeksplorasian sisi kreatifitas? Kalau mau dilihat, anak SD disana kebanyakan tahu bagaimana bereksperimen untuk membuat Lava Mountain…di Indonesia, Mahasiswa saja belum tentu tahu (kecuali jurusan fisika/kimia kali). Apalgi membedah katak. Mungkin tidak semua sekolah tentunya.
.
Dalam kasus ini aku berdiri di sudut diamna saya termasuk yang setuju jika anak kecil masih dalam dunia pengenalan dan bermain, sosialisasi dan berkawan, berlari dan jatuh dari ayunan…tapi apa daya…anak sekarang belum TK saja sudah banyak yang dimasukkan penjara pedagogic alias padatnya jadwal les agar biar pandai, pandai bicara, pandai membaca, pandai main biola, pandai matematika, pandai Bahasa korea, atau pandai-pandai lainnya. Di sisi lain, kelihatannya guru SD sekarang juga hanya mau, atau terseret arus untuk hanya mau,  jika anak yang mereka didik sudah bisa baca. Aku saja masuk kelas satu masih belum hafal A-B-C-D dan kelas-kelas awal adalah waktunya belajar bersama membaca…bahkan ada yang berak di dalam kelas segala. Tapi, ya kita lihat kedepannya…moga-moga bagaimana jadinya.
.
Dan hei…walaupun sampai sekarangpun kadang masih kesulitan membedakan  F dan V yang kalua dipikir-pikir bukan hurufnya, tapi lebih ke pengucapannya yang mirip macam kembar identic, dan menghitung 8 X 7 saja masih pakai tangan,  Nyatanya lulus kuliah juga walaupun lambat dengan nila A di skripsi……so I think I ain’t that stupid after all…hahaha.

 

.

Kang Danu

Tbk.Pcm.e20180120.20:52

ANAK…PUNYA ANAK

ANAK…PUNYA ANAK

.

Sebelum bicara panjang lebar…tolong dimaafkan karena tulisan di bawah hanya menurut pandanganku saja sebagai orang yang BELUM menikah dan BELUM punya anak….sebatas pertanyaan pribadi…dan pusing sendiri yang ujungnya juga berakhir dengan pertanyaan yang belum tentu jelas ada jawabannya maupun perlu diverifikasi dan diselidiki….hanya sebatas ocehan yang terlintas di otak….sepurone’ ya kang mas karo mbakyu.

.

Kemarin bertemu teman sesama pencari sesuap nasi dan segenggam berlian. Cepika-cepiki dan di tengah-tengahnya tersenggollah topik tentang teman kami yang lain dan berakhir dengan pertanyaan sudah punya anakkah dia atau belum. Bahagia juga mendengarnya walaupun bukan anak sendiri.

“Akhirnya bro”, temanku menegaskan “nunggu dia insyaf dulu kayaknya baru dikasih anak”

“maksudnya?”

“tahu sendiri khan dulu dia, sering mabok, pulang malam. Sekarang gak lagi. Jadi guru juga dia.”

Dan tertawalah kita.

.

Namun selepas itu aku jadi berpikir sendiri tentang teman-temanku atau rekan-rekan kerja yang masih berjuang atau dulunya lama berjuang untuk mendapatkan anak setelah menikah bertahun-tahun. Dimana salahnya jika ‘ngecluppun sudah sesuai standarnya? Dan kapan terakhir kali anda mendengar ada orang yang berujar “Belum dikasih sama yang diatas” serta “Anak itu titipan yang kuasa”? Trus hubungannya apa?

.

Dengan pemahaman bahwa anak itu sekedar titipan yang harus dijaga baik-baik, berarti seharusnya orang yang dititipi adalah orang yang dianggap sudah siap untuk dititipi. Seperti halnya saudara kita menitipkan anak ke kita karena mereka percaya bahwa kita bisa mengurus anak yang dititipkan. Pasrah bongkotan. Tapi apakah benar demikian? Disini aku jadi menghubungkan dengan pernyataan temanku dalam kontek bercanda di atas. Insyaf. Disini aku tidak berbicara konteks agama…tapi istilah insyaf diatas mengacu kepada segala hal yang menghambat kita untuk “siap dititipin” anak oleh yang Diatas. Dan anak disini bukan berarti harus anak biologis, anak angkatpun juga perlu proses persiapan diri dan waktu karena jelas saja mereka tidak sekedar dicomot begitu saja dari keranjang belanjaan hanya karena anak angkat. Trus maksudnya dengan insyaf yang kumaksud itu bagaimana?

.

 

Mungkin kuilustrasikan saja dengan sejawatku dulu di kantor lama empat …lima tahun lalu dimana sang suami sudah menjabat posisi yang mendekati langit…tinggal jinjit sebentar sudah menyentuh dasarnya lagit. Di sisi lain, sudah bertahun-tahunpun dia membina rumah tangga belum dikaruniai anak. Terakhir dengar berita dia memutuskan untuk berhenti kerja dan diangkut istinya mudik kampung…istirahat…dan terapi pasutri. Terakhir pula dengar berita dia dan istrinya sudah mendapatkan anak…lebih dari satu malahan. Rapelan. Jadi harusnya sekarang anak-anaknya sudah lumayan ramai mengisi ruang tamu keluarganya. Disinilah aku jadi berpikir bahwa insyaf-nya dia itu adalah istirahat dari kerja…kerja dan kerja….paham maksud saya?

.

Mungkin ada yang perlu insyaf dari kebiasaanya begadang malam diluar, dari berbatang-batang rokok tiap hari, dari makanan-makanan cepat saji alias junk food, dari memperlakukan pasangan tidak lebih dari sekedar pembantu, dari kurangnya rasa bersyukur dan pasrah, dari berperilaku egois, dari sifat kekanak-kanakan, dari kelelahan fisik yang berkepanjangan, dari kelelahan mental yang berkepanjangan, dari perasaan belum siapnya pribadi sendiri untuk mendapat momongan, dari kebiasaan mengambur-hamburkan uang, dari mabuk, dari kurangnya kita menyisihkan waktu beristirahat, dari tidak perdulinya kita terhadap kesehatan sendiri, dari kurangnya kira membagi waktu,  dari duduk seharian nonton TV sama makan kacang kapri, dari tidak berhentinya berpikiran negatif, dari tidak berhentinya membanggakan diri sendiri dan pamer harta,  dari…dari…dan jutaan dari-dari lainnya. Namun, bukan berarti semua perokok harus berhenti, semua yang suka begadang wajib pulang jam 9 malam….bukan. Disini kupikir kasusnya individu-per-individu dimana yang diatas melihat hal yang perlu diinsyafin dari masing-masing orang juga berbeda-beda. Sampai titik dimana kita menentukan langkah yang benar mungkin kita belum sepenuhnya dipercayai untuk dititipi. Dan kadang banyak juga mungkin tidak paham salahnya dimana?

.

Memiliki anak berarti tanggung jawab tidak berkesudahan. Dan kapan kita diberi juga merupakan misteri. Jadi ketika orang bicara “belum dikasih” berarti masih sangat terbuka kesempatan untuk “meminta”. Dan ingat lagi, anak yang kumaksud tidak terbatas pada anak biologi. Banyak cara dan bentuk sebuah keluarga memiliki anak, tinggal bagaimana kita memandangnya.  Ndelok njero.

.

Itulah alasan kubilang sepurone diawal karena keterbatasan pemahamanku dan juga sangat banyaknya sudut pandang dimana yang benar dan yang kurang berkenan hanya setipis tali rapia yang sudah disuir-suir buat prakarya anak-anak. Namun tetap saja aku mempercayain bahwa masing masing dari kita berhak untuk menimang anak  entah kapan itu waktunya dan bagaimana bentuk anak itu akhirnya. Sepurone ya kang mas karo mbakyu…aku ojo diseneni.

.

.

Kang Danu

Tbk.Pcm.20180116.21:04

MENJIPLAK

IMPRINTING CANNOT BE FORGOTTEN
.
Berapa kali anda melihat tulisan-tulisan motivasi dimana ada perbedaan antara Boss dan Leader dimana di gambarnya Boss digambarkan banyak memerintah dan mereka diam di korsi naman mereka. Sedangkan leader adalah sosok dimana mereka di depan dan memberi contoh serta bagaimana seharunya sebuah pekerjaan dilakukan dengan benar. Leader memberi contoh dengan harapan anak buahnya akan mengikuti. Mengikuti sesuai dengan standar yang diiginkan. Walaupun bukan seorang leader secara jabatan, rasanya masing masing kita dalam kehidupan sehari-hari mencoba menjadi seorang leader.

.

Tak lama berselang seorang temanku menceritakan suatu kejadian di rumahnya. Sepulang dari kantor, seperti biasa dia bermain dengan anaknya. Cakap punya cakap tiba-tiba anaknya yang masih kecil tersebut mengucapkan sebuah kata yang menurut dia cukup mengejutkan karena dia merasa tidak pernah mengucapkan kata tersebut. Setelah dikonfirmasikan ke istrinya, ternyata istrinya juga tidak pernah mengucapkan kata tersebut di depan anaknya…alih-alih kedua orang tua ini akhirnya mengambil kesimpulan bahwa anaknya telah mengadopsi satu kata tersebut dari lingkungannya dimana kalau siang hari kadang anak itu bermain dengan anak-anak tetangganya waktu dititipkan.
.
Dan cerita seperti itu bukanlah kali pertama kudengar, dimana anak-anak mengadopsi kata, perbuatan ataupun pikiran baru dimana sang orang tua merasa tidak pernah mengajarkan hal tersebut, terlepas dari apa yang diadopsi adalah hal yang baik maupun buruk. Nah…kalau buruk itulah yang jadi masalahnya karena anak masih dalam proses penyerapan yang cukup cepat pada hal-hal baru seperti halnya kasus anak balita yang ngerokok ‘nlempus habis-habisan…dan konyolnya orang sekitar malah mengdorong kebiasaan tersebut baik langsung maupun tidak langsung. Dilain sisi, sang anakpun belum memiliki kecakapan yang tinggi untuk membedakan mana yang baik dan mana yang benar.
.
Terlepas juga dari kasusnya yang terjadi pada anak kecil, Konrad Lorenz (1903 – 1989) adalah orang pertama yang menyelidiki sebuah proses pembelajaran yang kemudian dikenal dengan istilah IMPRINTING. Dia juga dikenal sebagai salah satu bapak ethimology (suatu komparatif study dari perilaku binatang dalam kondisi nyata). Pengamatannya dimulai dengan Bebek dan Angsa. Konrad menyadari bahwa jenis unggas secara cepat menjadi terikat dengan induknya setelah menetas, tapi kasusnya bisa juga terjadi sama persis dengan “orang tuang angkat” jika tidak ada induknya disana saat menetas. Phenomena keterikatan unggas pada benda bergerak yang pertama kali mereka lihat inilah yang akhirnya disebut dengan proses IMPRINTING atau MENIRU. Bahkan dalam penyelidikannya, dia pernah mengkondisikan dirinya sebagai orang tua angkat dari Bebek dan Angsa yang baru saja menetas.

.
Yang membedakan antara proses Imprinting (meniru) dan Learning (pembelajaran) adalah imprinting terjadi hanya pada periode tertentu perkembangan binatang tersebut yang disebut dengan “CRITICAL PERIOD” . Tidak seperti Learning (pembelajaran), proses imprinting berlaku bebas dari proses perilaku (behavior) dan kelihatannya tidak bisa dibalik…imprinting tidak bisa dilupakan alis melekat. Semakin maju, Lorenz juga mengobservasi tingkatan yang lainnya seperti halnya perilaku instingtif yang mengacu pada perilaku pengenalan yang ahirnya disebut dengan “Fixed-Action Patterns”. Perilaku yang terakhir ini tidak aktif sampai akhirnya dipicu pada suatu waktu tertentu di dalam critical period. Fixed-Action Patterns tidak bisa dipelajari tetapi terprogram secara genetik dan hal ini dengan sendirinya sudah menjadi proses dari seleksi alamiah.
.
Nah….terlepas dari observasi ini dilakukan dalam dunia fauna, Critical Perio diatas mengingatkanku terhadap istilah “Golden Age” dalam tahap perkembangan anak diantara rentang 0 sampai 8 tahun. Di rantang tahun-tahun tersebut otak anak berfungsi seperti potongan busa dimana mereka akan sangat mudah untuk menyerap segala hal yang mereka amati dan alami, terlebih lagi yang mereka sukai. Jika dikaitkan dengan yang dibahas di atas, proses imprinting rasanya bias juga disematkan dimana proses proses pembelajaran mereka meliputi proses mengadopsi mentah-mentah apa yang mereka alami dan perhatikan dalam keseharian. Sekali lagi semua ini terlepas antara baik buruknya yang mereka tiru karena perkembangan mental mereka yang masih belum stabil.. Nah…sekarang silahkan dilihat lingkungan seperti apa dimana mereka tinggal dan bagaimana anda mengharapkan mereka berkembang.
.
Omong-omong…proses imprinting yang sangat terasa dari pengalamanku pribadi adalah waktu belajar komputer. Waktu SMP/SMA…kuhabiskan waktu berjam-jam ke rental komputer (jamannya belum ada sekat antara  komputer) dan kubiarkan mataku lirik kanan dan kiri untuk melihat orang lain mengoperasikan program komputer…dan kutiru…hasilnya…not bad-lah….daripada kursus komputer yang mahal untuk kantongku masa itu….proses imprinting kayaknya berhasil. Kembali ke duni kerja, menerapkan contoh yang baik untuk ditiru itulah salah satu yang bias dilakukan seorang atasan dengan harapan apa yang dilakukan akan terefleksi kepada kinerja bawahannya, dan bagaimana bawahan melihat atasannya dalam keseharian bisa menciptakan bentuk kerja yang dikehendaki. So…jadilah alat media peniru yang baik

.

.

Kang Danu

Tbk.Pcm.e20180113.21:20

 

SEBUTKAN SEBANYAK MUNGKIN KEGUNAAN TUSUK GIGI YANG ANDA BISA

SEBUTKAN SEBANYAK MUNGKIN KEGUNAAN TUSUK GIGI YANG ANDA BISA

.

.
Dulu waktu jamannya kuliah, pernah aku ikut kelas besar dimana pesertanya kira-kira bias dibilang satu angkatan prodi yang kemudian dipecah dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan sekitar 6 sampai 7 mahasiswa. Studi kasus yang diberikan adalah ; ingin menyelenggarakan sebuah konser musik di kampus..sedangkan sponsor terbesar yang bisa didapatkan untuk memecahkan masalah keuangan adalah produsen rokok dimana mereka akan mereka memasang umbul-umbul dan banner. Disatu sisi, ada aturan dari kampus yang menyatakan “Tidak diperbolehkan memasang iklan produk rokok di dalam kampus”. Nah…hampir semua kelompok memiliki kesamaan keputusan untuk mencari sponsor lain. Kecuali seingatku tinggal 1 kelompok yang memiliki jawaban berbeda…kelompok dimana aku menjadi anggotanya…itupun juga karena aku sepertinya mencoba meyakinkan anggota yang lain bahwa sponsor rokok bisa digunakan…dengan melihat aturan dari kampus atas kalimat “…DI DALAM kampus”. Jadi, kalau umbul-umbul disetujui kedua belah pihak untuk dipsang diluar pagar kampus…ya tidak masalah khan?
.
Melihat masalah dan cara pemecahannya memang kadang menimbulkan banyak dilema, dimana kadang seseorang hanya memiliki satu jawaban mutlak, sedangkan yang lainnya memiliki alternatif yang banyak…apakah tingkat intelektual seseorang mempengaruhi setiap pemecahan masalah yang sedang dihadapi? Alfred Binet, seorang psikolog perancis pada tahun 1905 bersamaan dengan Theodore Simon membuat “Binet-Simon Scale“, sebuah skala yang bertujuan untuk mengklasifikasikan tingkat inteligensi individu dari; memori, perhatian, dan pemecahan masalah. IQ rata-rata orang adalah 100 point. Dan hasilnya adalah 95% populasi umum masuk dalam point 70 sampai 130, Sedangkan 0.5% sisanya diatas 145 yang disebut level “Genius“. TAPI walaupun tes ini masih digunakan, tes ini memiliki kelemahan dimana test ini mengesampingkan kreativitas dan beranggapan bahwa hanya ada kepandaian umum yang diwakili dengan test tersebut.
.
Dari pemikiran itulah, J.P. Guilford melakukan pendekatan yang berbeda dengan menyebutkan kreativitas berarti lebih dari satu pemecahan masalah untuk satu masalah saja. Hal ini memerlukan pola pikir berbeda yang disebut dengan istilah “DIVERGENT“. Karen tehnik ini menghasilkan banyak sekali jawaban yang berbeda untuk satu masalah. Dengan sendirinya pemikiran ini bertolak belakang dengan IQ test yang biasanya hanya menghasilkan satu jawaban saja, dan disebut dengan pemikiran “CONVERGENT“. Guilford membuat test “Alternative Uses Test” untuk melihat seberapa luas seseorang bisa memikirkan pemecahan masalah pada satu waktu saja…dan itu dinilai dari Originality-Fluency-Flexibility dan Elaboration. Disini dia memecah intelegensi dalam 3 kelompok besar:

.
1. OPERATION: proses kepandaian yang kita gunakan dan terdiri dari enam unsur termasuk memory, kognisi dan evaluasi.

2. CONTENT: ada keterlibatan informasi ataupun data dan terbagi menjadi lima termasuk kontent visual dan audio

3. PRODUCT: hasil dari penerapan 2 point sebelumnya seperti halnya pembagian dan hubungan. Disini ada 6 unsur.
.
dengan pembagian diatas, sudah diklasifikasikan lebih dari 180 jenis kategori intelegensi, dan seratusnya sudah diverifikasi. Karena tingkat kerumitan test yang diciptakan, sampai sekarang test ini masih jarang digunakan, dan kesimpulannya adalah:
.
A. Pertanyaan atas memori dan pemecahan masalah sederhana bisa dijawab dengan menggunakan pemikiran Convergent dimana kemampuan seseorang untuk menghasilkan satu jawaban yang benar, dan hal ini bisa diuji dengan Standardized Intelligence (IQ) test

B. Pemasalahn yang memerlukan pemikiran kreatif bisa dipecahkan dengan menggunakan pemikiran Divergent dimana ada penggalian berbagai macam jawaban dan ini bisa diambil dengan penerapan test baru yang melibatkan pemecahan masalah dan imajinasi.
.

Nah …jika anak, saudara anda, tetangga anda dibilang IQnya tidak bagus…bukan berarti dia tidak pandai…lihatlah pola pikirnya…siapa tahu dia jenius dalam bidang lain…dan kembali ke kelasku waktu kuliah, jawaban kelompokku adalah satu-satunya jawaban yang dianggap salah oleh dosen kelas…terlepas seberapa ngeyelnya aku memperjuangkan alasannya dari sudut tata bahasa undang-undang kampusnya. Makanya…sampai sekarang aku masih ingat kasus ini…dan masih tidak terima dengan keputusan dosenku…

.

.

Kang Danu

Tbk.Pcm.e20180106.20:11