TUKAR TAMBAH SAJA…MURAH KOK!

TUKAR TAMBAH SAJA…MURAH KOK!

.

.

Suatu siang yang panas jaman dulu di ibu kota, tidak mengurungkan puluhan orang berbondong-bondong ke Bedeng, sebuah tempat di antara tingginya bangunan-bangunan di daerah SCBD Jakarta. Entah itu nama sebenanrya atau bukan, tapi seperti sebutannya dimana tempat itu merupakan kumpulan kios-kios tempel yang jualan makanan dengan atap seng sebagai cirinya. Yang datang ke situ juga bukan golongan abal-abal saja, yang bermobilpun juga ada, entah karena ngirit duit, suka pilihan menunya atau mungkin numpang mobil dinas kantor saja. Berbaur. Tidak memperdulihan panasnya udara di bawah atap seng yang terpanggang panasnya matahari waktu jam makan siang. Bedeng, tempat kumpulnya pencari menu makan siang.

.

Dan seperti itulah siang itu, aku dan beberapa temen kalap makanku (Pak Decky dan si Botak Wahyu) sudah melakukan ritual standar jika memasuki bedeng; lirik-lirik meja kosong tapi tidak terlalu ke tengah bangsal dimana AC alami bisa bersliweran diantara tengkuk kami tapi tidak di pinggir dimana tersenggol pantat orang yang lalu-lalang bisa jadi makanan standard punggung kami. Empat baris dari pinggir itulah pilihan kami, dekat pintu keluar dan tidak sulit keluar. Setelah pilih-pilih makanan, mulailah kita bersantap ria sambil sesekali mengelap keringat yang mengucur dari jidat akibat radiasi paparan panas yang merambat dari atas yang tetap saja tidak bisa dihindari sepenuhnya. Dan tentu saja untuk tipikal tempat makan seperti ini,  riuh rendah suara orang jadi pengiring makan disamping pengamen yang juga berlalu-lalang. Mungkin hampir semua tipikal topik pembicaraan bisa ditemukan disini, dari kerjaan sampai selingkuhan, dari makanan sampai kotoran. Dan gerombolan kami biasanya memilih topi-topik renyah harian. Dan disitulah, telingaku secara tidak langsung menangkap pembicaraan segerombolan cewek muda dengan pakaian seragam mereka. Mungkin kalau boleh kutebak dari seragam yang dikenakan mereka adalah para OB (cewek juga sebutanya OB?) dari kantor-kantor sekitar Bedeng. Topiknya adalah sulitnya cari kerja dan HP.

.

Mungkin kurang lebih inti dari obrolan mereka sambil bersantap adalah keluh kesah salah salah satu dari mereka yang menceritakan hampir butuh 6 bulan untuk dapat pekerjaan itu, belum lagi ribetnya lobi sana sini serta segala macam cepaka-cepiki yang harus dilalui. Sulit. Susah. Beratnya cari uang di Jakarta itu yang kuingat. Dan seperti cepatnya lalu-lalangnya orang yang keluar masuk mengisi perut, pembicaraan merekapun berubah topik dan makin meriah karena mereka juga tidak berusaha menahan diri dengan suara yang dihasilkan. Kali ini topiknya HP. Handphone. Telepon bimbit. Kurang lebih ini kalimat yang kutangkap ketika salah satu dari mereka menanggapi wanita yang tadi sempat berkeluh kesah, entah untuk menghibur atau murni menyarankan.

.

Eh …oh ya…katanya kamu mau ganti HP ya?….pakai yang XXX saja. Itu model terbaru yang baru keluar. Kalua gak beli baru, tukar tambah saja dengan HP lamamu…murah kok. Paling nambah 3 atau 4 juta saja kok…lebih keren…lagian HPmu dah ketinggalan jaman…

.

Tiba-tiba berkelebat sebuah kata di otakku mendengar itu; PALING. P-A-L-I-N-G. Well…tabungan mereka pastilah banyak… 4 juta dibilang paling, sedangkan HP-ku aja kuingat beli 400 ribu-an aja…bekas lagi. Dan serunya ide itu didukung teman-teman mereka yang makin membuat kumpulan itu ramai riuh dengan ide ganti HP baru yang kelihatannya dipertimbangkan berat-berat oleh teman mereka yang baru mulai kerja itu.

.

Dari keluhan susahnya cari duit, cari kerja dan langsung berganti topik menjadi ganti HP baru untukku kok topik yang berseberangan. Susah cari kerja, susah cari uang sepadan dengan nyimpan duit dan tabungan. Bukannya susah cari uang, susah cari duit berbanding sepadan dengan gaya-gayaan ngikuti teman. Pertanyaanku sendiri untuk diriku mendengar pembicaraan mereka…perlukan?

.

Sebenarnya bukan barang aneh dan baru jika orang-orang di sekitar kita memiliki barang-barang mahal, HP mahal, mobil mahal, jam tangan mahal, rumah mahal, bahkan sampai jeroan yang mahal-mahal. Dan tentu saja kita tidak perlu heran karena mereka memang mampu, memang tajir, dan memang levelnya sampai jumlah barang-barang tersebut tidak hanya sebiji punyanya. Dua, tiga kalau perlu empat bijipun bisa. Dan perlukah mereka dengan barang barang branded tersebut?

.

Ahli perekonomian Amerika Serikat bernama Thorstein Veblen-lah yang pertama kali mencatat bahwa perilaku ekonomi juga didorong oleh faktor psikologi, seperti halnya perasaan takut dan pencarian status yang juga sepadan juga dengan ketertarikan pribadi secara rasional. Pada tahun 1899 dia menerbitkan “The Theory of Leasure Classes”, sebuah kritik tentang gaya hidup para kelas atas. Secara garis besar dia menjelaskan bahwa mereka yang berpunya tidak membeli barang karena mereka membutuhkannya, namun untuk menunjukkan kekayaan dan status mereka. Fenomena ini disebut dengan istilah “Conspicuous Consumption”. Kepuasan mereka meningkat seiring dengan banyaknya yang mereka punya dan kurangnya benda tersebut dimiliki oleh orang lain. Lebih. Punya lebih dari orang lain.  Sehingga dengan beriringnya waktu jika banyak orang memiliki benda tersebut, tingkat kepuasan mereka akan berkurang, yang mendorong untuk mencari barang-barang lain yang masih jarang dimiliki orang yang secara alami biasanya harganya tidaklah murah jika sulit dicari atau edisi terbatas. Hukum ekonomi. Memiliki jam Rolex dan mobil Porsche mungkin contoh kecilnya.

.

Di kutub berbeda, orang membeli barang karena suatu kebutuhan. Seperti halnya orang keluar masuk Bedeng dengan harga standarnya. Tidak perduli mau berdasi maupun pakai coverall. Mau yang bersepatu kinclong bak kaca hotel ataupun sandal yang lebih sering terkena air toilet daripada kotornya tanah.  Dan jika menyangkut kebutuhan, memang kadangkala harga tidak menjadi panduan. Harga bukanlah patokan. Harga bukanlah standar kepuasan. Dan masing masing dari kita memiliki patokan harga yang berbeda-beda sesuai tingkat ekonomikal kita. Ada yang bilang 500 ribu sudah mahal, namun ada yang bilang cuma buat beli kacang goreng. Kubilang Bedeng harganya standar, namun itu dari pendapatku, mungkin banyak juga yang bilang mahal karena di tengah tengah gedung-gedung tinggi Jakarta. Dan apakah mereka yang datang berpikiran sama? Disinilah letak kesulitannya, terlalu banyak faktor untuk bisa bilang sesuatu hal itu sama dari satu isi kepala ke kepala yang lain.

.

Kembali ke masalah HP yang didiskusikan kelompok di belakangku tadi…murah tidaknya tergantung dari individu yang menilainya. Terlepas dari pekerjaannya apa dan posisinya apa. Tidak ada rumus standar bahwa suatu posisi hanya boleh memiliki HP dengan range harga tertentu, cuman sudan berapa kali dahiku berkenyit melihat pengemis dan pengamen yang memiliki HP yang jauh…jauh lebih mahal dari punyaku. Dan ini juga yang sering menimbulkan pertanyaan pribadi untukku sendiri. Dan kembali ke status sulitnya dapat uang…perlukah buang uang sekedar untuk mengikuti jaman dan gaya…perlukah…?

.

Kita sendiri yang bisa menjawab pertanyaan itu…silahkan.

.

.

Kang Danu

Tbk.Pcms.20171230.22:49         

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.