HAPPY IS WHO HAS OVERCOME HIS EGO

HAPPY IS WHO HAS OVERCOME HIS EGO

.
.
Sekali waktu pernah temanku bertanya “suka sekali sih kamu baca komik?….lha kok banyak kali buku seksiologi di rak?…. Ini Sutta Nippa ya?….wee…mulai suka photography kok bacanya sekarang gitu?…..gak capek ya kesana sini bawa buku?….apa sih enaknya baca buku?”
.
Kata orang bilang “buku adalah jendela ilmu”…gak tahu benar atau tidak…membaca buku dan tidak membatasi diri dalam buku atau karya sastra apa yang kita baca menurutku akan memberi perspektif pola pikir yang berbeda pada individu tersebut. Selain itu, dengan semakin banyaknya jenis buku yang di abaca, individu tersebut pastilah sampai di tahapan bisa menikmati bobot karya dari jenis sastra yang berbeda – beda. Dan hampir banyak buku yang kubaca, secara samar-samar sebetulnya kurasakan ada benang merah yang menghubungkan banyaknya pemikiran di luar sana, walaupun tidak kentara; terlebih lagi kalau karya sastra yang ada hubungannya dengan agama. Entah agama atau kepercayaan apapun juga, secara garis besar biasanya mengajarkan sesuatu yang baik secara teoretikal seperti artikel terakhir yang kubaca dari konteks agama ini.
.
Jika anda mengenal Siddharta Gautama, pastilah anda mengetahui agama Buddha yang kumaksud; tapi mungkin samar sama tentang ajarannya. Kalau anda pernah baca komik oleh pengarang doraemon berjudul BUDDHA, atau komik White Lamma, atau juga buku-buku karya Tsai Chih Cung pastilah anda bisa mengupas inti dari ajarannya.
.
Secara singkat Siddharta mengajarkan tentang ketidak egoisan diri sendiri dan keterlepasan dari kungkungan kebutuhan fisik di dunia ini dan lepas dari jeratan nafsu…seperti banyak orang bilang “harta mau dibawa kemana setelah mati?”. Dia menyebutkan 4 KEBENARAN SEJATI yang bisa dijadikan panduan, yaitu:

1. Penderitaan kita sebagai manusia itu sudah diwarisi sejak kita lahir, yaitu sakit, tua dan mati
2. Dan penyebab dari penderitaan tersebut adalah KEINGINAN atas kenikmatan seksual, keterikatan terhadap benda-benda duniawi dan juga kekuasaan.
3. Penderitaan ini bisa diakhiri dengan melepaskan diri atas keinginan nafsu dan juga keterikatan tadi.
4. dan 8 panduan jalan (eightfold path) mempunyai tujuan untuk menghilangkan keinginan dan mengatasi ego kita
.
keempat kebenaran diatas disebut dengan Dukka – Samudaya – Nirodha – Magga.
.
walaupun secara teoretikal memang bagus dan ada perasaan menerima apa yang kita punya dari yang di Atas, prakteknya pastinya menjadi suatu tantangan tersendiri…terlebih lagi di dunia modern seperti sekarang dimana hampir seluruhnya diukur dari status dan kepemilikan. tapi bukannya kita tidak bisa berlatih khan….
.
Ada kemiripan dari semua ajaran….bahkan dari pengajaran orang tua kita aku rasa ada satu dua yang mendekati. Terlebih lagi si Siddharta juga menyampaikan panduan yang bisa kita latihkan yang disebut diatas tadi dengan nama Eightfold Path… Pencapain keberhasilah dari langkah-langkah ini tidakklah suatu cara yang sangat ekstrim, tapi langkah sederhana yang meliputi:
1. Berpikir dengan benar
2. Bertindak dengan benar
3. Memiliki Niat yang benar
4. Hidup dengan benar
5. Berusaha dengan benar
6. Berkonsentrasi dengan benar
7. Berbicara dengan benar
8. memahami dengan benar
.
dan seperti saya bilang tadi….entah agamanya apa…pastilah orang tua kita pernah memberikan pasal-pasal diatas secara langsung atau tidak langsung, tersurat maupun tersirat dengan Bahasa mereka. Bahkan nilai nilai ajaran tersebut tersebat seantero dunia dalam bentuk cerita, legenda, maupun fakta. Tinggal kemauan kita untuk melihat, menelaah dan juga meneraimanya. Tidak terlepas dari semua buku suci dari masing-masing agama.
.
so,….benang merah yang saya sebutkan paling tidak satu yang sudah terlihat….pengajaran yang bagus dan kehidupan yang baik…bahkan ketika kita bicara hal yang paling tabu sekalipun atau buku yang paling jorok sekalipun…selama kita bisa menggambil intisarinya dan ilmunya… why not? Jadi siapa yang bahagia adalah orang-orang yang bisa melepaskan egonya dan mau membuka diri untuk tidak terikat dan bisa melihat segala kemungkinan dan pandangan dari berbagai macam sisi untuk sekedar memahami bahw tidak semuanya itu ‘aku’.

.

.

Tbk.Pcms.e20171225.21:29