TUKAR TAMBAH SAJA…MURAH KOK!

TUKAR TAMBAH SAJA…MURAH KOK!

.

.

Suatu siang yang panas jaman dulu di ibu kota, tidak mengurungkan puluhan orang berbondong-bondong ke Bedeng, sebuah tempat di antara tingginya bangunan-bangunan di daerah SCBD Jakarta. Entah itu nama sebenanrya atau bukan, tapi seperti sebutannya dimana tempat itu merupakan kumpulan kios-kios tempel yang jualan makanan dengan atap seng sebagai cirinya. Yang datang ke situ juga bukan golongan abal-abal saja, yang bermobilpun juga ada, entah karena ngirit duit, suka pilihan menunya atau mungkin numpang mobil dinas kantor saja. Berbaur. Tidak memperdulihan panasnya udara di bawah atap seng yang terpanggang panasnya matahari waktu jam makan siang. Bedeng, tempat kumpulnya pencari menu makan siang.

.

Dan seperti itulah siang itu, aku dan beberapa temen kalap makanku (Pak Decky dan si Botak Wahyu) sudah melakukan ritual standar jika memasuki bedeng; lirik-lirik meja kosong tapi tidak terlalu ke tengah bangsal dimana AC alami bisa bersliweran diantara tengkuk kami tapi tidak di pinggir dimana tersenggol pantat orang yang lalu-lalang bisa jadi makanan standard punggung kami. Empat baris dari pinggir itulah pilihan kami, dekat pintu keluar dan tidak sulit keluar. Setelah pilih-pilih makanan, mulailah kita bersantap ria sambil sesekali mengelap keringat yang mengucur dari jidat akibat radiasi paparan panas yang merambat dari atas yang tetap saja tidak bisa dihindari sepenuhnya. Dan tentu saja untuk tipikal tempat makan seperti ini,  riuh rendah suara orang jadi pengiring makan disamping pengamen yang juga berlalu-lalang. Mungkin hampir semua tipikal topik pembicaraan bisa ditemukan disini, dari kerjaan sampai selingkuhan, dari makanan sampai kotoran. Dan gerombolan kami biasanya memilih topi-topik renyah harian. Dan disitulah, telingaku secara tidak langsung menangkap pembicaraan segerombolan cewek muda dengan pakaian seragam mereka. Mungkin kalau boleh kutebak dari seragam yang dikenakan mereka adalah para OB (cewek juga sebutanya OB?) dari kantor-kantor sekitar Bedeng. Topiknya adalah sulitnya cari kerja dan HP.

.

Mungkin kurang lebih inti dari obrolan mereka sambil bersantap adalah keluh kesah salah salah satu dari mereka yang menceritakan hampir butuh 6 bulan untuk dapat pekerjaan itu, belum lagi ribetnya lobi sana sini serta segala macam cepaka-cepiki yang harus dilalui. Sulit. Susah. Beratnya cari uang di Jakarta itu yang kuingat. Dan seperti cepatnya lalu-lalangnya orang yang keluar masuk mengisi perut, pembicaraan merekapun berubah topik dan makin meriah karena mereka juga tidak berusaha menahan diri dengan suara yang dihasilkan. Kali ini topiknya HP. Handphone. Telepon bimbit. Kurang lebih ini kalimat yang kutangkap ketika salah satu dari mereka menanggapi wanita yang tadi sempat berkeluh kesah, entah untuk menghibur atau murni menyarankan.

.

Eh …oh ya…katanya kamu mau ganti HP ya?….pakai yang XXX saja. Itu model terbaru yang baru keluar. Kalua gak beli baru, tukar tambah saja dengan HP lamamu…murah kok. Paling nambah 3 atau 4 juta saja kok…lebih keren…lagian HPmu dah ketinggalan jaman…

.

Tiba-tiba berkelebat sebuah kata di otakku mendengar itu; PALING. P-A-L-I-N-G. Well…tabungan mereka pastilah banyak… 4 juta dibilang paling, sedangkan HP-ku aja kuingat beli 400 ribu-an aja…bekas lagi. Dan serunya ide itu didukung teman-teman mereka yang makin membuat kumpulan itu ramai riuh dengan ide ganti HP baru yang kelihatannya dipertimbangkan berat-berat oleh teman mereka yang baru mulai kerja itu.

.

Dari keluhan susahnya cari duit, cari kerja dan langsung berganti topik menjadi ganti HP baru untukku kok topik yang berseberangan. Susah cari kerja, susah cari uang sepadan dengan nyimpan duit dan tabungan. Bukannya susah cari uang, susah cari duit berbanding sepadan dengan gaya-gayaan ngikuti teman. Pertanyaanku sendiri untuk diriku mendengar pembicaraan mereka…perlukan?

.

Sebenarnya bukan barang aneh dan baru jika orang-orang di sekitar kita memiliki barang-barang mahal, HP mahal, mobil mahal, jam tangan mahal, rumah mahal, bahkan sampai jeroan yang mahal-mahal. Dan tentu saja kita tidak perlu heran karena mereka memang mampu, memang tajir, dan memang levelnya sampai jumlah barang-barang tersebut tidak hanya sebiji punyanya. Dua, tiga kalau perlu empat bijipun bisa. Dan perlukah mereka dengan barang barang branded tersebut?

.

Ahli perekonomian Amerika Serikat bernama Thorstein Veblen-lah yang pertama kali mencatat bahwa perilaku ekonomi juga didorong oleh faktor psikologi, seperti halnya perasaan takut dan pencarian status yang juga sepadan juga dengan ketertarikan pribadi secara rasional. Pada tahun 1899 dia menerbitkan “The Theory of Leasure Classes”, sebuah kritik tentang gaya hidup para kelas atas. Secara garis besar dia menjelaskan bahwa mereka yang berpunya tidak membeli barang karena mereka membutuhkannya, namun untuk menunjukkan kekayaan dan status mereka. Fenomena ini disebut dengan istilah “Conspicuous Consumption”. Kepuasan mereka meningkat seiring dengan banyaknya yang mereka punya dan kurangnya benda tersebut dimiliki oleh orang lain. Lebih. Punya lebih dari orang lain.  Sehingga dengan beriringnya waktu jika banyak orang memiliki benda tersebut, tingkat kepuasan mereka akan berkurang, yang mendorong untuk mencari barang-barang lain yang masih jarang dimiliki orang yang secara alami biasanya harganya tidaklah murah jika sulit dicari atau edisi terbatas. Hukum ekonomi. Memiliki jam Rolex dan mobil Porsche mungkin contoh kecilnya.

.

Di kutub berbeda, orang membeli barang karena suatu kebutuhan. Seperti halnya orang keluar masuk Bedeng dengan harga standarnya. Tidak perduli mau berdasi maupun pakai coverall. Mau yang bersepatu kinclong bak kaca hotel ataupun sandal yang lebih sering terkena air toilet daripada kotornya tanah.  Dan jika menyangkut kebutuhan, memang kadangkala harga tidak menjadi panduan. Harga bukanlah patokan. Harga bukanlah standar kepuasan. Dan masing masing dari kita memiliki patokan harga yang berbeda-beda sesuai tingkat ekonomikal kita. Ada yang bilang 500 ribu sudah mahal, namun ada yang bilang cuma buat beli kacang goreng. Kubilang Bedeng harganya standar, namun itu dari pendapatku, mungkin banyak juga yang bilang mahal karena di tengah tengah gedung-gedung tinggi Jakarta. Dan apakah mereka yang datang berpikiran sama? Disinilah letak kesulitannya, terlalu banyak faktor untuk bisa bilang sesuatu hal itu sama dari satu isi kepala ke kepala yang lain.

.

Kembali ke masalah HP yang didiskusikan kelompok di belakangku tadi…murah tidaknya tergantung dari individu yang menilainya. Terlepas dari pekerjaannya apa dan posisinya apa. Tidak ada rumus standar bahwa suatu posisi hanya boleh memiliki HP dengan range harga tertentu, cuman sudan berapa kali dahiku berkenyit melihat pengemis dan pengamen yang memiliki HP yang jauh…jauh lebih mahal dari punyaku. Dan ini juga yang sering menimbulkan pertanyaan pribadi untukku sendiri. Dan kembali ke status sulitnya dapat uang…perlukah buang uang sekedar untuk mengikuti jaman dan gaya…perlukah…?

.

Kita sendiri yang bisa menjawab pertanyaan itu…silahkan.

.

.

Kang Danu

Tbk.Pcms.20171230.22:49         

 

TIGA KUNCI MOTIVASI PENDORONG KINERJA

THREE KEY MOTIVATIONS DRIVE PERFORMANCE
.

.
Pernah sekali kulihat seorang cewek menangis kuat-kuat di TV waktu rumah kost-nya kena gusur…bukan masalah rumahnya yang sedang kena masalah…tapi dia takut semua ijasah dan surat-surat penting yang dia miliki hilang selama proses penggusuran yang kebetulan saat itu terjadi dia sedang tidak ada di rumah. Ijasah. Sertifikat. Suatu tanda pencapaian dari suatu usaha. Seperti halnya di era tahun 60 dan 70an, pencapaian pendidikan, hasil IQ serta tes kejiwaan memiliki peran yang cukup signifikan dalam penerimaan pegawai baru ataupun performa kerja.
.
Namun, David C. McClelland yang menyandang gelar Distinguished Research Professor of Psychology oleh Boston university menyatakan ada faktor lain selain yang disebutkan di atas yang bisa dipakai untuk memprediksi kinerja seseorang yaitu MOTIVASI KERJA. Motivasi tersebut dipecah dalam 3 bagian yaitu; POWER (kekuasaaan), ACHIEVEMENT (Pencapaian) dan AFFILIATION (hubungan/pertalian). Motivasi ini sendiri mendorong seseorang dan menjadi sebuah faktor kunci terhadap performa kerja di kemuadian hari. Namun apa yang dikatakan orang-orang tentang motivasi tersebut bukanlah motivasi yang kelihatan hanya di permukaan saja; seperti hanya kebutuhan tentang uang. Hal ini dikarenakan motivasi yang dibicarakan disini sebagian besar berada di alam bawah sadar kita. Secara sederhana 3 hal tersebut bisa dijelaskan dengan;

.
1. Power (kebutuhan untuk mempengaruhi dan me-manage orang); Motivasi ini adalah motivasi tertinggi untuk menjadi seorang leader namun HANYA JIKA power tersebut mengatas namakan kebutuhan perusahaan…bukannya kepentingan pribadi.
2. Achievement (kebutuhan untuk menguasai dan memperbaiki di dalam semua usahanya); motivasi ini memberikan rasa kompetetif atau persaingan dimana akhirnya akan membantu tiap individu untuk memperluas ruang lingkupnya dengan tujuan baru dan ruang lingkup perbaikan (room of improvement).
3. Affiliation (kebutuhan untuk menciptakan dan menjaga hubungan yang baik dengan oranglain)
.
Namun demikian, kita sebenarnya tidak terlalu sadar akan motivasi-motivasi ini, sehingga memang tidak bisa dicari jawabannya hanya sekedar dengan menanyakan motivasi kerja. Yang bisa dilakukan adalah melakukan Thematic Apperception Test (TAT) untuk mengungkapkan motivasi di bawah alam sadar ini sehingga penempatan individu akan lebih maksimal dalam dunia kerja….
.
So..apa motivasi kerjamu?…..cari duit mungkin 99% jawaban orang indonesia wakakakak

.

.

Kang Danu

Tbk.Ftcm.e201712128.20:30

HAPPY IS WHO HAS OVERCOME HIS EGO

HAPPY IS WHO HAS OVERCOME HIS EGO

.
.
Sekali waktu pernah temanku bertanya “suka sekali sih kamu baca komik?….lha kok banyak kali buku seksiologi di rak?…. Ini Sutta Nippa ya?….wee…mulai suka photography kok bacanya sekarang gitu?…..gak capek ya kesana sini bawa buku?….apa sih enaknya baca buku?”
.
Kata orang bilang “buku adalah jendela ilmu”…gak tahu benar atau tidak…membaca buku dan tidak membatasi diri dalam buku atau karya sastra apa yang kita baca menurutku akan memberi perspektif pola pikir yang berbeda pada individu tersebut. Selain itu, dengan semakin banyaknya jenis buku yang di abaca, individu tersebut pastilah sampai di tahapan bisa menikmati bobot karya dari jenis sastra yang berbeda – beda. Dan hampir banyak buku yang kubaca, secara samar-samar sebetulnya kurasakan ada benang merah yang menghubungkan banyaknya pemikiran di luar sana, walaupun tidak kentara; terlebih lagi kalau karya sastra yang ada hubungannya dengan agama. Entah agama atau kepercayaan apapun juga, secara garis besar biasanya mengajarkan sesuatu yang baik secara teoretikal seperti artikel terakhir yang kubaca dari konteks agama ini.
.
Jika anda mengenal Siddharta Gautama, pastilah anda mengetahui agama Buddha yang kumaksud; tapi mungkin samar sama tentang ajarannya. Kalau anda pernah baca komik oleh pengarang doraemon berjudul BUDDHA, atau komik White Lamma, atau juga buku-buku karya Tsai Chih Cung pastilah anda bisa mengupas inti dari ajarannya.
.
Secara singkat Siddharta mengajarkan tentang ketidak egoisan diri sendiri dan keterlepasan dari kungkungan kebutuhan fisik di dunia ini dan lepas dari jeratan nafsu…seperti banyak orang bilang “harta mau dibawa kemana setelah mati?”. Dia menyebutkan 4 KEBENARAN SEJATI yang bisa dijadikan panduan, yaitu:

1. Penderitaan kita sebagai manusia itu sudah diwarisi sejak kita lahir, yaitu sakit, tua dan mati
2. Dan penyebab dari penderitaan tersebut adalah KEINGINAN atas kenikmatan seksual, keterikatan terhadap benda-benda duniawi dan juga kekuasaan.
3. Penderitaan ini bisa diakhiri dengan melepaskan diri atas keinginan nafsu dan juga keterikatan tadi.
4. dan 8 panduan jalan (eightfold path) mempunyai tujuan untuk menghilangkan keinginan dan mengatasi ego kita
.
keempat kebenaran diatas disebut dengan Dukka – Samudaya – Nirodha – Magga.
.
walaupun secara teoretikal memang bagus dan ada perasaan menerima apa yang kita punya dari yang di Atas, prakteknya pastinya menjadi suatu tantangan tersendiri…terlebih lagi di dunia modern seperti sekarang dimana hampir seluruhnya diukur dari status dan kepemilikan. tapi bukannya kita tidak bisa berlatih khan….
.
Ada kemiripan dari semua ajaran….bahkan dari pengajaran orang tua kita aku rasa ada satu dua yang mendekati. Terlebih lagi si Siddharta juga menyampaikan panduan yang bisa kita latihkan yang disebut diatas tadi dengan nama Eightfold Path… Pencapain keberhasilah dari langkah-langkah ini tidakklah suatu cara yang sangat ekstrim, tapi langkah sederhana yang meliputi:
1. Berpikir dengan benar
2. Bertindak dengan benar
3. Memiliki Niat yang benar
4. Hidup dengan benar
5. Berusaha dengan benar
6. Berkonsentrasi dengan benar
7. Berbicara dengan benar
8. memahami dengan benar
.
dan seperti saya bilang tadi….entah agamanya apa…pastilah orang tua kita pernah memberikan pasal-pasal diatas secara langsung atau tidak langsung, tersurat maupun tersirat dengan Bahasa mereka. Bahkan nilai nilai ajaran tersebut tersebat seantero dunia dalam bentuk cerita, legenda, maupun fakta. Tinggal kemauan kita untuk melihat, menelaah dan juga meneraimanya. Tidak terlepas dari semua buku suci dari masing-masing agama.
.
so,….benang merah yang saya sebutkan paling tidak satu yang sudah terlihat….pengajaran yang bagus dan kehidupan yang baik…bahkan ketika kita bicara hal yang paling tabu sekalipun atau buku yang paling jorok sekalipun…selama kita bisa menggambil intisarinya dan ilmunya… why not? Jadi siapa yang bahagia adalah orang-orang yang bisa melepaskan egonya dan mau membuka diri untuk tidak terikat dan bisa melihat segala kemungkinan dan pandangan dari berbagai macam sisi untuk sekedar memahami bahw tidak semuanya itu ‘aku’.

.

.

Tbk.Pcms.e20171225.21:29

TO BE HUMAN IS TO FEEL INFERIOR

TO BE HUMAN IS TO FEEL INFERIOR

.
.
Pastilah banyak dari kita sering mendengar istilah “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” untuk meyatakan kemiripan anak atas orangtuannya…entah dari fisik atau perlakuan dalam norma masyarakat. Namun, banyak juga yang beranggapan bahwa perkembangan seseorang juga tergantung dari masyarakat sekitar dimana dia bertumbuh, tidak semena-mena karena bibit yang bagus menghasilkan produk yang bagus. Dan, mungkinkah teori ideal diatas ini yang menjadi satu dari banyak alasan kenapa keluarga bermasalah menciptakan anak bermasalah…keluarga harmonis menciptakan anak yang berkualitas…untukku sih kadang cuma omong kosong belaka. Tidak semua lingkungan yang jelek menciptakan pribadi yang rusak…dan berapa kali sih kita dengar berita tentang anak yang diam di rumah…penurut….tahunya memperkosa pacarnya. Contoh yang lumayan ekstrim sih, tapi bukan berarti tidak ada ….Terlepas dari dukungan sekitar dimana seseorang tumbuh…kita juga harus melihat kedalam diri sendiri…apakah kita sendiri mempunyai rasa percaya diri yang cukup untuk dijadikan tumpuan untuk berkembang dan tumbuh…dan syukur syukur didukung keluarga dan lingkungan yang baik.

.
Alfred Adler adalah orang yang pertama kali yang mengembangkan teori yang sebelumnya dibuat oleh penganut Sigmond Freud dimana dia mengatakan bahwa kejiwaan (psikologi) seseorang juga dipengaruhi oleh kekuatan sadar dan saat ini (present), termasuk juga pengaruh sosial dan lingkungan sekitar yang sama sama pentingnya. Ketertarikan Adler dimulai ketika dia menangani pengaruh self-esteem (kepercayaan diri) yang positif dan negative terhadap pasiennya yang cacat fisik. Disitu dia melihat beberapa orang mampu mencapai keberhasilan dengan sukses, sedangkan sebagian lainnya merasa biasa atau cenderung tidak berhasil dalam merubah nasib/situasi. Motivasi yang kuat yang menjadi kuncinya. Disini Adler melihat sarinya bahwa perbedaan keberhasilan tersebut berasal dari sisi dimana individu tersebut MELIHAT DIRI MEREKA SENDIRI; dengan kata lain KEPERCAYAAN DIRI MEREKA SENDIRI (Self – esteem).

.
Menurut Adler, perasaan inferior (rendah diri) sebenarnya perasaan yang universal atau umum mendunia yang merupakan bagian dari pengalaman menjadi manusia dan berakar ketika kita masih anak-anak. Anak kecil biasanya merasa rendah diri karena mereka secara terus-menerus dikelilingi oleh orang-orang yang jauh lebih kuat dan berkemampuan yang disertai dengan macam-macam keahliah-keahlian. Namun, seorang anak biasanya akan mencoba meniru pencapaian yang mereka lihat dari orang yang lebih tua di sekitar mereka (orang tua – lingkungan), termotivasi atas sekitar untuk mengembangkan dirinya sendiri dan akhirnya mencapai suatu tahap perkembangan. Anak-anak dan orang dewasa dengan kejiwaan yang sehat dan seimbang mendapatkan kepercayaan diri tiap kali mereka menyadari bahwa mereka bisa mengatasi masalah dan menggapai suatu tujuan. Perasaan inferior menghilang sampai nantinya muncul kembali rintangan ataupun kendala yang perlu diatasi; dan proses ini adalah proses berkesinambungan sejalan dengan perkembanagn fisik mereka. Dilain pihak, seseorang yang mempunyai keminderan atas cacat fisik yang mereka punyai biasanya akan menggembangkan sikap rendah diri yang nantinya mengacu pada ketidakseimbangan kejiwaan yang disebut dengan istilah “Inferiority complex”…suatu tahapan dimana perasaan rendah diri tidak menghilang. Disini Adler juga mengenali “inferiority complex” juga muncul di dalam bentuk kebutuhan untuk berjuang keras untuk mencapai suatu tujuan, dan ketika tercapai, tujuan akhir ini tidak memberikan kepercayaan diri kepada seseorang, tetapi malah mendorong orang tersebut untuk mencari pengakuan dan pencapaian lebih jauh dari pihak luar. Yang disebut disini adalah terlalu berusaha dan “ngoyo”…hanya untuk mendapatkan pengakuan.
.
sederhananya..percaya diri dibutuhkan…tapi terlalu percaya diri juga menimbulkan masalah. Dan kalau dilihat lebih teliti…dibutuhkan peran masyarakat sekitar dan keluarga dalam bentuk “penerimaan”. Pengucilan atas kekurangan fisik dan pola pikir kadang menjadi dilemma dalam perkembangan diri untuk bisa dan mampu menerima diri sendiri….dan kembali ke diri sendiri….apakah kita termotifasi dan memotifasi diri kita sendiri untuk lebih besar dan sukses…. So..tanamkan dalam diri sendiri bahwa “everything is going to be fine”

.

.

Tbk.Pcm.e20171215.21:17

ID, EGO dan SUPEREGO

ID, EGO dan SUPEREGO
.

.
Kebetulan saya sedang baca-baca buku tentang psikologi yang membawa sedikit ingatanku kepada skripsi yang dulu pernah kubuat yang masuk ke dalam kategori literatur dimana kebetulan membahas tengang psikologi karakter dalam perselingkuhan yang dilakukan karakter di dalam sebuah drama. Dan tidak lupa juga setumpuk skripsi para senior yang kubaca di perpustakaan. Satu nama yang cukup dominan kulihat dipergunakan adalah Sigmund Freud.
.
Bagi yang sudah mengenal Sigmund Freud (1856-193) pasti sudah paham beberapa sumbangsih yang dia berikan didalam bidang psychoanalysis, salah satunya adalah prisip ID, EGO dan SUPEREGO yang dulu kupakai sebagai salah satu pendekatan psikologi. Dia mengatakan bahwa pikiran (mind) seperti halnya gunung es yang mengapung dimana hanya sepertujuhnya saja yang terlihat sedangkan sisanya terkubur di bawah permukaan air.
.
Secara sederhana bisa dijelaskan bahwa ID (yang digerakkan oleh insting primitif) mengikuti aturan Prinsip Kesenangan (Pleasure Principle) dimana dia mengejar kesenangan, dimana semua keinginan harus dipenuhi saat ini juga. ID menginginkan kepuasan untuk mendapatkan sesuatu pada saat ini juga. Namun, bagian lain dari struktur mental yaitu EGO, mengenal Pinsip Realitas (Reality Principle) yang menyatakan bahwa kita tidak bisa mendapatkan segala yang kita inginkan tetapi hal tersebut juga harus disesuaikan dengan dunia dimana kita tinggal. ID berkongsinyasi dengan EGO, mencoba untuk menemukan cara yang masuk akal untuk mendapatkan apa yang kita inginkan tanpa menciptakan kerusakan atau konsekuensi negatif lainnya. sedangkan EGO itu sendiri dikendalikan oleh SUPEREGO, suatu pemahaman dari orang tua dan kode-kode moral masyarakat. SUPEREGO adalah sebuah suara penilai dan merupakan sumber dari kesadaran kita,perasaan bersalah dan malu.
.
mungkin ID seperti anak kecil yang ingin mainan sekarang…dan saat itu juga…sampai menangispun dia tak perduli jika banyak orang melihat. Jika diruntutkan dengan perkembangan fisiknya, anak kecil yang merengek-rengek minta mainan di pasar sambil “ngintil”mbok-nya yang berjalan tidak perduli mungkin bisa dibilang wajar karena sesuai juga dengan perkembangan psikolognya…bukan berarti dia nakal atau terlalu diabaikan. Memang, peran orang tua juga sangat besar untuk pelan – pelan mengajarkan mana yang baik-mana yang salah. Mana yang wajar…mana yang memalukan. Sedangkan ketika sang anak beranjak dewasa diapun akhirnya mulai belajar untuk bisa memilah apakah keinginan itu bisa ditunda atau tidak…dan itu dipengaruhi oleh perkataan orang  tua kita dan juga nilai-nilai kepantasan di dalam masyratakat yang dianut.
.
Saya rasa peran serta kita sebagai “Cik Gu” atau Pak dan Bu Guru turut andil juga disini karena jika diingat…hampir seperempat hari bahkan lebih…masing-masing anak berinteraksi dengan guru di kelas…belum lagi yang oleh orang tuanya di-plot langsung kursus sampai sore sekalian karena orang tuanya yang kadang terlalu sibuk untuk sekedar mengurus mereka atau tidak punya pembantu jikapun mamak-mamaknya harus manikur-pedikur. Kalau sudah kasus seperti ini ya jangan bilang “kok anak saya beda banget sama bapak-nya dan mamaknya ini ya?”…..habis sepanjang hari bergaul dengan si Inem pelayan seksi….atau bajaj bajuri di ujung gang.
.
Nah pernah sadar kenapa para koruptor tidak punay rasa malu???…mungkin mereka kurang kadar SUPEREGOnya tetapi kelebihan ID-nya…

.

.

Kang Danu

Tbk.e20171210.20:54

KELANA

KELANA

.

.

Akulah sang dewa

Dengan kuas bisa kutuliskan iya

Dan pastinya kaupun ‘kan bahagia

Entah sekarang atau untuk selamanya

.

Aku juga sang pengelana

Yang mengembara kemanapun aku suka

Tapi ingin kutemukan sebuah suaka

Dimana aku bisa diam dan membuka jiwa

.

walapun aku sang dewa kelana

Namun ingin kuletakkan sang nama

Berdiam diri disebuah petak yang ada

Membuka sebuah peraduan berdua

.

Entah dewa ataupun sang pengelana

Keduanya tidakklah berati saat ini juga

Karena kutemukan yang telah memberiku makna

Bahwa berhenti juga memberikan bahagia

.

.

Seto Danu
Batam.LK.22.5.11.22:01