SELAMAT TINGGAL TV-KU

SELAMAT TINGGAL TV-KU

.

Makasih ya ‘mbak…

.

Seporsi mie goreng yang telah kupesan beberapa menit yang lalu, lengkap dengan dua iris mentimun dan telur mata sapi yang diolesi saos tomat yang membentuk garis lengkung seperti senyumam, telah datang diantar oleh pelayan yang selalu sama orangnya. ‘Tak lama kemudian pastilah tangan kiriku (kebiasaan makan pake’ tangan kiri) bakalan sibuk meng-garpu-i seporsi penuh mie goreng yang masih mengepulkan bongkahan asap tipis dari dalamnya. Tak kalah serunya tangan kananku sibuk menuliskan apa yang sedang kuketik saat ini. Garpu di tangan kiri, mouse dan key-pad menjadi makanan tangan kananku. Telah kunikmati kegiatan seperti ini berkali-kali jika nongkrong menghabiskan waktu di warnet plus caffe ini. Kadang jika ada uang lebihan dikit…sekalian pesan kentang goreng. Satu yang tak pernah lupa, es teh wajib ada di samping layar computer walaupun hasil lihat kolong lemari untuk mencari sisa uang yang jatuh.

.

Sedihnya, ini mungkin mie goreng terakhir warnet ini yang akan kumakan. Mungkin. Besok pagi jam 5 subuh aku berangkat ke Yogyakarta karena sudah habis kontrak kerjaku di kota ini… dan …ya pulang kampung ceritanya. Pastilah bakalan kurindukan mie goreng Rp 7.500-an ini, dan kentang gorengnya, dan juga es tehnya karena merekalah yang berjasa mengisi perutku yang tiba-tiba lapar tak terkira tetapi masih asik dengan acara selancar di internet. Kalau dilihat hari-hari belakangan ini, mungkin bisa disebut minggu “selamat tinggal”-ku. Selamat tinggal TV-ku tersayang yang akhirnya dibeli oleh ‘mbaknya yang sering cuci baju dan setrika di kost. TV-ku yang sudah berjuang mati-matian menemaniku hampir tiap malam karena insomniaku yang kadang parahnya minta ampun. TV-ku yang sepanjang sabtu-minggu ‘nyala 24 jam karena yang punya tidak ada kerjaan selain melingkar di kasur sambil menekan-nekan barisan tombol yang ada di remote. TV-ku yang telah menyajikan saluran-saluran kesayanganku setahun ini yang tertata rapi dalam memorinya mulai dari channel 1 sampai 30. TV-ku yang dengan sabarnya membolak-balik halaman HBO – Discovery Channel – Star Movie – Animal Planet – dan beberapa chanel fave-ku. TV-ku yang dengan lantang meneriakkan bait-bait kata lagu mp3 mulai dari Bang Toyip sampai Hysteria-nya Muse, dan dengan penuh pengertiannya diam dalam bisu ketika film panas masuk dalam DVD player di bawahnya. Selamat tinggal TV-ku yang dulunya kubeli hasil ngutang cicil 2 kali sama boss …You’ve saved my fuckin’ days in this Samarinda.

.

Sayangnya, TV-ku bukan satu satunya yang kuucapkan selamat tinggal. Selamat tinggal warung nasi goreng langgananku yang buka ampe jam 3 pagi dimana aku biasanya meraup suapan nasi karena jatah tidurku yang sudah basi. Selamat tinggal kolam ikan panjang-ku yang meng-inspirasi-ku untuk membuat beberapa tulisan dan puisi, dan juga beberapa kenalan tukang pancing. Selamat tinggal kipas angin kecil-ku yang dulunya juga merupakan warisan dari teman, dan sekarang kuwariskan ke teman yang lain. Selamat tinggal ember kecil tempat pakaian kotor yang kubeli pertama kali karena jatuh cinta pada warna ungu-nya yang cantik. Selamat tingal 2 dumbel 9 kilo-an yang telah memeras keringatku kala kucoba untuk mengerakkan otot yang kaku, dan sekarang pindah ke teman yang sedang merancang program olah raga mulai Desember ini. Selamat tinggal sepatu Nike-ku yang diberi oleh teman dan tidak pernah terpakai karena kebesaran, untungnya masih kebeli orang Rp.100.000. Selamat tinggal kumpulan komik yang sudah kubeli selama satu tahun-an ini karena sebagian besar tidak bisa terangkut pulang dan nongkrong di meja orang. Selamat tinggal karpet tempatku tidur karena tidak biasa tidur di kasur. Selamat tinggal kasur merahku, maafkan daku karena kau lebih banyak bersandar di dinding daripada kutiduri….ehmmm. Selamat tinggal lemari yang telah menyembunyikan pakaianku selama ini dan termasuk juga majalah FHM luar negeri itu. Selamat tinggal gambar besar Samurai X hasil tanganku sendiri yang selama ini terus saja tersenyum walaupun sering wajahmu dilintasi sang cicak yang dengan santainya melenggang di jalan bebas hambatan itu. Selamat tinggal Mall Lembuswana yang pertama kali kukira Mall sapi karena aku menangkap kata Lembu dan Wana yang merupakan satu-satunya pelarianku dari jenuhnya kota Samarinda yang berdiri tanpa tempat wisata, selain tepian Mahakam. Selamat tingal warnet speedy yang telah memberikan 7 voucer untuk diperebutkan, dan itu masih kurang 43 kartu lagi untuk jadi yang terdepan dengan tiket pulang dan uang senang. Selamat tinggal jalanan yang seringnya tenggelam di bawah air jika hujan tidak kuasa untuk berhenti setelah satu jam-an. Selamat tinggal Video Eazy yang telah menyediakan serial Friends komplit dan film lain, walaupun kadang kala dikau memberikan denda yang luar biasa dikala terlambat mengembalikannya. Dan masih banyak segudang selamat tinggal yang ingin kuucapkan kepada yang lainnya….dan tentu saja selamat tinggal vespa-ku tersayang…maafkan aku yang tak bisa memboyongmu ke Jawa.

.

Kenapa sih harus ada kata selamat tinggal? Kenapa harus ada perubahan? Kenapa harus ada pergeseran dan pertumbuhan? Dan kenapa juga aku harus mengucapkan selamat tinggal? Tapi, jikapun itu tak ada artinya, kenapa kata-kata selamat tinggak harus ada. Apakah selamat tinggal ada karena memang harus ada yang ditinggalkan di belakang?  Jadi bagaimanapun juga kata-kata selamat tinggal emang diperlukan? Kembali ke dalam kata-kata selamat tinggal, jika kita mau sedikit melihat di sekitar kita, tidak ada yang tidak bisa selamat dari kata selamat tinggal. Kita mengucapkan selamat tinggal dalam bayak cara. Sebagian orang mengartikannya dalam isakan tangis, dan sebagian lainnya dalam gelak tawa. Selamat tinggal untuk sang sahabat, keluarga, ayah, ibu dan bayak orang lain lagi. Selamat tinggal terhadap pekerjaan kita yang kita tinggalkan di belakang karena banyak alasan dan kadangkala karena keterpaksaan. Selamat tinggal pada usia yang lalu yang kita rayakan dengan penuh suka cita, namun kita lupa bahwa kita sebenarnya sedang mengucapkan selamat datang pada kematian. Selamat tinggal tahun yang lalu dengan harapan adanya  kebaikan di masa yang akan datang. Selamat tinggal tidak selalu berarti kesedihan, tinggal bagaimana kita memandang selamat tinggal tersebut. Dualitas. Selamat tinggal muncul karena adanya perubahan, dan perubahan itu bagus adanya dalam dunia ini. Perubahan menunjukkan kita memang berkembang dan bergerak dinamis daripada statis. Dengan resiko apapun juga ada kalanya kita memang perlu untuk berani mencoba sesuatu yang baru, yang belum pernah dilakukan, atau bahkan sekedar untuk memuaskan rasa penasaran. Jika kita memang melihat apa yang kita punya saat ini statis dan tidak menghasilkan apapun juga, selamat tinggal sepertinya kata yang pantas untuk dipikirkan. Selamat tinggal akan selalu melekat dengan diri kita. Untuk segala sesuatu yang jelek, ada baiknya kita menyematkan kata selamat tinggal. Untuk semua yang baik, aku tidak mau berhenti di dalam kata-kata “Selamat Tinggal”…ingin kulanjutkan dengan sebaris kata “semoga kita bertemu lagi suatu waktu”. Semoga juga nantinya kutemukan lagi TV-ku dalam bentuk yang baru.

.

<SAN>        “Mas, chees-burgernya ada gak ya mas? Kalau ada pesen Satu”

<SERVER>   “Burgernya kosong”

<SAN>        “ya dah, kalau gitu pisang gapitnya satu porsi”

<SERVER>   “ok”

<SAN>        “thanks”

.

 

Kang Danu

Samarinda.warnet.20161121.21:01

Leave a Reply

Your email address will not be published.