MENGUPIL VS MENGUTIL

MENGUPIL VS MENGUTIL

.

Seorang wanita muda dengan semangat 45 dengan mantapnya melihat- lihat tumpukan buah anggur yang ada di lorong masuk sebuah swalayan di Samarinda ini, tepatnya Mall Lembuswana yang ada di depan kantor. Trus dilihat-lihat, ditimbang-timbang, diamati lagi, dielus-elus, diterawang-terawang dan ‘tak lama berselang jari jemarinya sudah sibuk memetik beberapa butir buah anggur tersebut. Beberapa petikan, buah-buah anggur tersebut trus pindah ke telapak tangan kanannya dan dengan semangat dia beranjak dari keranjang-keranjang berisi tumpukan buah anggur tersebut sembari membusungkan dada yang memang sudah cenderung membusung dari pabriknya dan mentransferkan beberapa biji buah anggur tersebut ke dalam rongga mulutnya …… nikmaattttt. Aku cuma terbengong di tempat. Selang beberpa detik kemudian…seorang bapak – bapak dengan anak laki-laki dan perempuannya juga terlihat berjalan mendekati keranjang-keranjang tersebut. Sembari ngobrol…tangan bapak dan anak perempuannya tak kalah sibuknya dengan ‘mbak – mbak yang pertama tadi untuk memilah mana buah anggur yang masih bagus…dan tak tanggung – tanggung, mereka memasukkan langsung ke dalam mulut mereka saat itu juga. Dilain pihak, si anak laki-lakinya tak kalah sibuknya memasukkan jari telunjuk tangan kanannya ke dalam hidungnya. dikorek-korek. sodok kanan sodok kiri…dia sibuk membersihkaan lubang hidungnya alias bahasa ‘ndeso-nya;  “Ngupil”.

.

Nah loh…anaknya sibuk mengupil bapaknya sibuk mengutil. Eit… bener gak ya istilahnya untuk mengutil kalau ditunjukkan untuk ‘mbak dan bapak ini. Apa sih bedanya mengupil dan mengutil selain huruf “P” dan “T”. Mengupil dan mengutil sama-sama kata kerja (mungkin) yang sejauh ini aku rasa memiliki adanya kesamaan dan perbedaan antara keduanya…sekali lagi kutekankan hanya pemikiranku saja tanpa mengacu pada referensi tertentu. Mengupil dan mengutil punya satu kesamaan, keduannya mengacu pada suatu kegiatan mengambil sesuatu. Sesuatu yang dimaksudkan disini adalah benda bernama Upil dan yang lain mungkin mengacu pada kata dasar “ngutil” yang artinya juga gak beda jauh dari mengutil, sedangkan kalau dipaksakan ke dalam kata dasar “util”, kok rasa-rasanya seperti bahasa Jawa yang artinya pelit. Ya, gak jauh juga sih dengan pelit karena saking pelitnya para pengutil memilih untuk mengambil barang  yang dipajang di supermarket, pasar atau toko tanpa berniat untuk membayar yang dikategorikan sebagai benda-benda yang diperjual-belikan.

.

Kalau bahasa ‘ndeso-nya mengupil itu “ngupil”, istilah keren Internasionalnya untuk kesibukan jenis ini adalah “picking the nose”. Sedangkan untuk mengutil disebut dengan “shoplifting” dan para pelakunya disebut  “shoplifter”. Keren gak, nyebut nyebut lift loh…kayak benda-benda yang digunakan untuk mengangkut dan memindahkan barang atau manusia dari tingkat ke tingkat lainnya. Tapi….mengutil sendiri khan juga tidak jauh berbeda dengan memindahkan barang dari rak ke dalam baju, kantong, dan bahkan celana dalam para pengutil. Untuk masalah perbedaan dari kedua kegiatan tersebut marilah kita bahas sebiji dulu. Satu kegiatan punya kecenderungan untuk tidak melanggar hukum, sedangkan yang lainnya jelas jelas di bawah kaki hukum. Mengupil yang dilakukan para pengupil memang cenderung tidak menyakiti orang lain karena yang diambil adalah propertinya sendiri, kecuali…kegiatan ini cenderung menyakiti mata-mata yang tidak sengaja menangkap tindakan tersebut, bahkan mungkin sampai mengakibatkan dampak stress dan sedikit marah-marah…ih… jijik ah!!!… Sedangkan mengutil sendiri dari segi hukum mana juga dan demi kepuasa siapapun juga akan ditimbang dalam neraca dewi keadilan yang ditutup matanya sebagai tindakan kriminal alis cacat hukum. Pelakunya bisa dikenai hukuman, baik secara ringan dari disuruh bantu-bantu di toko dimana dia mengutil, sampai tahanan kurungan di hotel yang lebih dikenal dengan Hotel Prodeo, alis di balik jeruji besi bang napi yang dulunya mungkin lebih dikenal dengan nama bang Toyib. Hukumannya juga cenderung bisa secara psikologi karena dipermalukan dan jelas ditonton oleh orang banyak…”oh ada yang ngutil tuh!! …mana mana mana??… Trus kenapa mereka melakukan itu, ngupil dan ngutil??

.

Mengutil biasanya muncul karena dorongan tanpa sadar manusianya itu sendiri, mungkin di satu sisi tanpa sadar tubuh sudah meminta hidung dibersihkan sehingga otak merancang suatu program terdaftar dan lulus uji klinis agar kita sadar diri untuk membersihkan hidung. Nah yang kontrol sosialnya kurang, tindakan itu bisa dilakukan di mana-mana, tanpa batasan ruang dan waktu, dan juga batasan usia…tapi kalau udah tua masih aja ngupil di tempat umum…apa gak perlu periksa ke dokter bagian dalam…maksudnya dalammmmmmmmmmmmmm sekali sampai ke bagian jiwa hahahahahahaah. Lebih jauh lagi, mengupil juga kadang bisa menyebabkan addict akut karena rasa puas yang muncul di akhir kegiatan dan nombok lagi nombok lagi. Dilain pihak untuk para shoplifter aku tahu-nya ada 2 kecenderungan kenapa mereka rela melakukan itu; yang pertama karena kecenderungan psikologisnya, jadi emang sudah sakit dari dalamnya makanya mereka menjadi shrinker dan melakukan “shringking” (istilah lain dari shiplifting) tersebut. Shrink salah satunya bisa diterjenahkan menjadi “menyusut” atau “menyusutkan”. Mereka memampatkan benda-benda yang ingin diambilnya trus disembunyikan ke dalam baju. Sebetulnya mereka sepertinya cenderung tidak butuh benda-benda tersebut, hanya kepuasan batin kalau bisa mengambil tanpa ketahuan. Alasan kedua kembali kepada alasan paling klisye…kebutuhan ekonomi yang mendesak dan kurangnya dukungan finansial sehingga mereka nekat melakukan itu. Nah apakah ‘mbak itu dan bapak itu masuk dalam kategori pengutil? Untukku mungkin bisa dibilang setengahnya iya karena mereka mengambil yang bukan haknya karena tidak membayar, tapi juga tidak menyembunyikan barang yang diambilnya dibalik baju, tapi dibalik lipatan lemak yang menumpuk di perut, maklum dua duanya masuk dalam kategori king “kong” size. Pengutil??

.

Pernahkan kamu mengupil? Kecenderungannya kita pernah merasakan pengalaman mendebarkan itu. Jadi pengutil? Ya, mungkin tidak banyak yang berbenturan dengan masalah ini. Tapi, pernahkan kita mengutil waktu? Mengutil uang? Mengutil kesempatan? Mengutil waktu kerja? Dan banyak lagi pengutil-pengutilan yang lainnya? Hahaha. Mungkin dalam taraf tertentu hampir kita semua bisa dibilang pengutil, atau paling tidak kita pernah merasakan menjadi pengutil…kok bisa? Basic ide-nya untukku adalah, pengutil itu orang yang mengambil barang yang bukan haknya untuk kepuasan pribadi. Itu bukan haknya karena barang yang diambil seharusnya dibeli. Kalupun belum dibeli, barang tersebut masih hak orang lain yaitu distributor ataupun pemilik toko. Nah bagaimana kalau kita waktu jam istirahat sudah habis tapi kita masih mengulur-ulur waktu barang 5 menit…5 menit lagi kemudian… di kantin kantor? Bagaimana kondisinya jika para murid sudah pada menunggu di kelas trus kita masih sibuk menyiapkan materi dan bukannya sedari tadi waktu persiapan digunakan sebaik-baiknya? Bagaimana waktu kita bilang foto-copy habis Rp.1.500 padahal habisnya cuma Rp1.400? Bagaimana waktu kita jelas-jelas mengarang perjalanan kita agar lambat sampai kantor karena banyak pekerjaan yang menumpuk yang akan diberikan oleh bos kita? Bagaimana waktu kita melirik dengan sudut mata kita yang terlatih dengan tangkasnya untuk menangkap jawaban A – B – C teman kita yang kebetulan pandai dan giat belajar sedangkan kita sibuk dengan JJS saja? Dan bagaimana-bagaimana yang lainnya? Bukankah kita sebetulnya sudah menjadi masternya pengutil-pengutil yang berpraktek di banyak “swalayan”, entah itu kantor, jalan, sekolahan, dan banyak lagi? Kita mengambil hak orang lain dan kadang-kadang ada para oknum yang dengan terang-terangan memang mengambil hak orang lain dan memberikan alasan tanpa malu-malu? Jadi pengutilkah kita? Walaupun begitu ada beberapa alasan kenapa kadang kita berperan sebagai pengutil dalam hidup ini. Tapi entah alasannya gimana, pertanyaannya tetap sama saja, apakah kita memang menjadi pengutil saat melakukan sesuatu???

.

Eh…bapaknya diperingatkan sama satpam….dan…anak laki-lakinya masih saja sibuk ngupil sambil liat bapaknya dimarahin satpam…hahaha Itu bukan tester pak..”

.

.

Kang Danu Smd.warnet.20061018.02:17.e20171118.22:10

Leave a Reply

Your email address will not be published.