MENCAI PEKERJAAN SAMA SEPERTI MENCARI PASANGAN ATAU RUMAH

MENCAI PEKERJAAN SAMA SEPERTI MENCARI PASANGAN ATAU RUMAH

.

Satu alasan kenapa aku tidak memilih VESPA sebagai kendaraanku di pulau Batam ini adalah sedikitnya informasi dan bengkel yang menspesifikasikan dirinya di bidang Vespa, tidak seperti samarinda maupun jawa dimana kendaraan ini berlalu lalang dan banyaknya bengkel yang bisa dijadikan acuan servis. Seperti halnya Vespa tadi, biasanya mudah untuk menentukan dimana kita bisa membeli roti, sabun atau lainnya karena banyak toko dan supermarket. Dalam padangan klasik ekonomi, dimana permaintaan dan pengadaan berada dalam titik imbang, pembeli dan penjual akan mudah bertemu dan melakukan transaksi tanpa biaya tambahan dan mudahnya mendapatkan informasi. Namun dalam kenyataannya, seperti halnya Vespa yang saya sebutkan tadi, tiap orang yang mencoba mencari rumah baru, teman hidup (yang baru juga boleh hehehe), ataupun pekerjaan pasti tahu bahwa hal ini jarang terjadi di dalam kehidupan untuk dengan mudah mendapatkan yang kita maui. . Pangsa pasar memiliki istilah yang disebut dengan “Search Frinction” dimana penjual dan pembeli tidak secara otomatis bertemu. Teori ini kemudian berkembang menjadi “Search Theory” untuk meneliti search frinction di atas tadi, dan salah satunya yang dipelajari didalamnya adalah point MENCARI KERJA dan PENGANGGURAN.

.

Dalam bentuk klasik pangsa pasar tenaga kerja beranggapan bahwa ada waktu “labour supply” (jumlah tenaga kerja yang mau bekerja dengan gaji tertentu) dan ada waktu “labour demand” (jumlah lowongan kerja yang ditawarkan dengan gaji tertentu). Ketika nilai gaji untuk masing masih sudah ada, pengadaan dan tenaga juga mencukupi, maka ketersediaan tenaga kerja dan permintaan tenaga kerja berada dalam status seimbang….sederhananya adalah adanya ketersediaan lapangan kerja tertentu yang juga tercukupi dengan jumlah tenaga kerja yang mau dengan gaji tertentu … keduanya dalam status imbang. Namun,¬† jika keadaannya¬† memang demikianpun….adanya lowongan ..dan adanya pencari kerja, Kenapa masih begitu banyak orang mencari pekerja dan majikan mencari pekerjan pada saat yang bersamaan.?? . pada tahun 1960-an, George Stigler (Ekonomis Amerika) berargumen bahwa pangsa pasar “SATU GAJI” yang sering dipakai oleh ahli ekonomi klasik hanya bisa terjadi JIKA tidak diperlukannya informasi akan adanya jumlah gaji yang ditawarkan dan yang dicari, seperi contohnya pekerjaan kuli dengan gaji 10 ribu per jam…itu adalah angka tetap…Di pangsa pasar manapun juga dimana produk (seperti halnya pekerjaan) sebenarnya berbeda-beda dan pencarian ini pada akhirnya memerlukan biaya. Semakin besar nilai pencariannya dan semakin luas rentang pencariannya, semakin banyak rentang gaji yang ditawarkan untuk posisi yang sama. dan orang yang mencari pekerjaan menyadari bahwa nilai gaji yang ditawarkan ternyata berbeda-beda antar majikan yang berbeda. Dan pilihan pilihan tersebutlah yang akhirnya menentukan berapa lama dan seberapa jauh masing-masing orang untuk mencari pekerjaan yang tepat.

.

Strateginya yang paling tepat yang disarankan oleh Stigler adalah memaksimalkan proses pencarian pekerjaan dimana pekerja menolak semua pekerjaan yang dibawah “reservation wage” mereka atau bahasa lainnya adalah menolak angka gaji jika nilai gaji yang ditawarkan dibawah batas nilai gaji paling kecil yang mau diterimanya dan menerima semua yang ditawarkan diatas ekspetasi mereka. Dari sini pencari kerja bisa membuat garis batas atas dan batas bawah yang disebut dengan “acceptable level”…dan acceptable level masing masing orang berbeda karena juga dipengaruhi banyak faktor . Teori SEARCHING dan MATCHING ini telah diimplementasikan untuk desain yang cukup efektif untuk keuntungan orang yang sedang mencari pekerjaan dimana hanya menspesifikkan pada angka tertentu dan posisi tertentu, tentu saja sesuai dengan batas dimana mereka mau bernegoisasi. Jadi kepikiran khan sekarang proses man-power suplay…dan bagimana mereka bisa mengambil keuntungan dari proses ini….karena mereka menawarkan diri untuk mencarikan orang dalam rentang angka tertentu dan spesifik tertentu…..jika pekerjaan sama gajinya dan sama posisinya…tidak akan ada orang yang berjuang sikut sikutan untuk mendapatkan pekerjaan. . jadinya..sesuai dengan judul diatas bahwa mencari kerja sama dengan mencari sebuah rumah ataupun pasangan hidup dimana ada proses dan penyeleksian diri atas batas yang kita mau…ada yang toleransi bininya tidak yahuuud…namun jago masak dan mencuci baju….ada yang membuat toleransi batas bawah pendidikan calon suami, namun batas bawahnya adalah S2….sedangkan pembantunya di rumah punya batas toleransi suaminya minim lulusan SD…Anda yang menentukan titik dimana anda bilang pada suatu tawaran kerja…namun harus tetap berpikiran logis

.

Yukkkk…semangat mencari kerja sampai dapat yang kita idam-idamkan..kayak calon bini yang mulus kayak pagar stainlessteel pagar dalam mall-mall…yang dielus terus

.

Kang Danu

Tbk.20171116.09:08

https://setodanu.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.