SELEMBAR DAUN

SELEMBAR DAUN

.

.

Bangun pagi. Kucek-kucek mata. Pakai sarung. Minum sebotol air putih. Buka jendela. Rebahan lagi… Pikiranku gak tahu terbang kemana waktu mata tertuju pada pohon yang ada di luar jendela. Daunnya rimbum warna hijau tua.  Entah sudah ratusan kali aku lihat pohon yang sama ini. Dari dia kering karena memang musim yang sedang panas-panasnya, trus daun-daun hijau muda yang mulai tumbuh dan akhirnya menjadi hijau tua dan akhirnya jadi kuning layu dan gugur ke tanah. berulang-ulang sudah kulihat bagaimana pohon ini berganti daun dari waktu ke waktu dan sampai akhirnya gugur lagi dan lagi. Jadi, tujuannya itu daun terus tumbuh dan gugur dan tumbuh lagi apa?? apa sesudah bekerja keras untuk sang batang akhirnya harus terbuang juga dan jatuh ke tanah jadi sampah??
.
Tidak jauh beda dengan tuh daun-daun yang berguguran, aku jadi teringat dengan pertanyaan yang sudah lama ‘ngendon di pikiranku. Sederhana sih pertanyaannya, “Apa sih tujuanku hidup di dunia ini?” apakah seperti daun yang akhirnya gugur juga dan tumbuh lagi dan gugur lagi. monotonitas? Bukannya pertanyaanku itu tidak mendasar, tapi sejauh ini yang bisa aku lihat dan aku serap dalam keseharian hampir bisa ditebak. Okeylah jika ada yang tidak setuju dengan itu, tapi ini sejauh yang aku rasakan. Lulus SD lanjut ke SMP. Lulus SMP merangkak ke SMA. Lulus SMA berjuang di jenjang Universitas. Kuliah kelar, ya masuk dalam dunia nyata yang diinisiasikan dengan kata “kerja”. Kerja. Kerja. Kerja. Kerja dan akhirnya kerja. Mungkin sedikit kisah romantis dan sedih sebagain bumbu penyedapnya, dan itupun jika beruntung menemukannya. Tapi akhirnya kembali juga ke kerja, kerja, dan mati.
.
Kembali ke pertanyaan dasar tadi dan juga statement bahwa kita harus berbuat baik, kenapa kita harus mengikuti aturan jika pada akhirnya semuannya kembali pada ketidakadaan. Banyak teori bahwa kita besoknya masuk surga, neraka atau entah apapun namanya, tapi yang kupercayain itu belum ada satupun yang melihat nyatanya. nah, bagaimana jika semuannya kembali ke kosong,  null, zero, none, nothing, nada, daa.  Jiwa kita ya hilang begitu saja ‘ndak ada artinya dan juga ndak ada ceritanya seperti daun-daun yang berguguran karena sudah habis masa kerjanya? Trus intinya tujuan kita hidup di dunia itu apa? Makin lama kita hidup, makin dewasa, makin berkurang terangnya cahaya kehidupan di sekitar. Berlahan lahan berpendar dan nanti pada akhirnya menjadi lembaran foto hitam putih. Dan untuk mengisi hari ke depan itu, kembali ke kerja, kerja, kerja, dan mengikuti semua tata cara dan goresan cerita sebagai panduan agar kita bisa hidup dan diterima. Itukah intinya kita hidup, cuma untuk mengisi apa yang sudah disediakan dan juga menyelesaikan apa yang sudah dimulai?..apakah tujuan kita hidup itu sekedar untuk menggapai apa yang dikenal orang sebagai keabadian, ataukah kita hidup sekedar nantinnya untuk gugur seperti helai – helai daun yang tercampakkan di tanah tidak berarti?
.
Tunggu dulu…tidak berarti? mungkin memang untuk sebagian orang, lembaran daun tersebut akan berakhir di tempat sampah ataupun sekedar dibakar habis karena dianggap sebagai sampah saja. Trus kenapa pohon di luar jendelaku tumbuh dan tidak pernah layu walaupun musim kering sudah beberapa bulan menghajar tanah dimana dia berdiri. darimana kekuatan itu didapat. Kalau di lihat ke bawah, tumpukan daun yang memang sudah lama ada akhirnya menjadi busuk dan memberikan nutrisi pada batang tumbuhan itu untuk hidup dan untuk mengadakan lembaran-lembaran daun baru. Siapa bilang membusuknya daun daun tersebut adalah tanda tidak bergunanya daun-daun yang sudah gugur ke tanah. siapa bilang pupuk hijau tidak akan ada artinya.
.

Itulah arti lamanya hidup dari selembar daun dimana dia dari kecil menjadi tua dan bekerja terus untuk sang batang secara keseluruhan dan akhirnya dia harus rela untuk gugur demi memberikan tempat baru bagi daun muda yang nantinya berguna juga. Mungkin gugurnya daun-daun tersebut dan akhirnya membusuk dan jadi pupuk adalah kesediaan mereka untuk menjadi landasan dasar bagi tegaknya sang pohon. Kitapun demikian, kerja dan kerja, tapi tujuannya apa? apakah kita hanya terjebak dalam rutinitas dan membusuk tanpa jadi apapun juga? Mungkin tujuan kita hidup itu sama juga untuk menjadi landasan dasar bagi generasi baru yang kita tinggalkan. Apa yang kita lakukan sekarang menjadi model untuk berikutnya. Akankah kita mengisi hidup ini dengan kesadaran bahwa yang kita lakukan adalah pijakan untuk generasai mendatang, ataukan cuma sekedar mengisi hidup sebelum kita mati saja? dan aku sadar bahwa memang semua ada akhir dan juga ada awal, tinggal bagaimana kita mengisi wakti diantara awal dan akhir itu.
.
.
.
Kang Danu
Smd.warnet.20161023.13:09e20171014.20:16

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.