LHO…GIMANA THO MAS?

LHO…GIMANA THO MAS?

.

.

sesekali aku teringat tentang suatu kejadian ketika aku pulang ke kampung dengan menggunakan bis ekonomi antar kota jurusan Yogyakarta – Yogyakarta. Seperti halnya bis antar kota yang berstandar ekonomi, bis ini juga penuh dengan para pengamen. Satu turun, satu naik. Bagaikan jalinan rantai yang yang tak putus-putus…kecuali ketika memasuki jalur Secang-Ambarawa dikarenakan panjangnya trayek dan tidak adanya pemberhentian di tengah-jalan, kecuali jajaran kampung dan hutan. Pengamen yang bergiliran itu akan semakin banyak ketika memasuki daerah Magelang. Dengan padatnya jalur pengamen yang silih berganti yang menyambangi tiap bis yang lewat, tentu saja berimbas pada malasnya para penumpang yang mau dengan rela membagi recehan yang ada maupun yang dengan sengaja disediakan sebelum naik bis. Apalagi untuk para pengamen yang bermodal hanya “genjrang – genjreng” plus niat-tidak-niat. Siapa yang mau disalahkan jika para penumpang akhirnya enggan memberikan recehan, karena faktanya para penumpang juga berdiri di pihak konsumen yang “membeli” barang yang diberikan, dalam hal ini ya…lagu yang dinyayikan plus musiknya.

.

Jika kenyataannya mereka bernyanyi dengan baik dan indah, yakinlah tidak sedikit yang mau berbagi rejeki dengan mereka. Kalaupun jelek…ya terserah ada yang mau atau tidak karena pada prinsipnya mereka juga tidak puas dengan apa yang ditawarkan…sistem coba dulu baru beli juga berlaku di dunia jual suara ala jalanan ini. Aku  sendiri juga memberi kalau aku merasa mereka layak untuk diberi atas apa yang ditawarkan. Sebetulnya sekecil apapun bentuknya yang kita lakukan dengan tujuan utama untuk mendapatkan uang, kita itu bertindak sebagai penjual. Sebagai pengamenpun kita harusnya berpegang bahwa mereka itu menjual suara yang tentu saja dengan tujuan utama agar dinikmati para pendengarnya.

.

Tapi bukan itu yang ingin kubicarakan sekarang  bukannya masalah jual beli suara di atas kendaraan roda 4 ini, tapi komunikasi sepasang pengamen di dalam bis yang aku naiki hari ini. Setengah perjalana sudah terlampaui, sekarang bis ekonomi ini sedang berhenti di luar terminal Magelang sekedar untuk mengais penumpang-penumpang yang tidak masuk ke dalam terminal. Kesempatan seperti inilah yang biasanya digunakan para pengamen untuk naik ke dalam bis dan bernyanyi. Aku masih ingat sepasang cowok-cewek yang naik ini adalah pengamen ke 3 yang mencoba keberuntungan sebelum bis ini akhirnya bergerak lagi. Untuk suara sih bisa dibilang pas-pasan dan tidak masuk dalam daftar rekaman, tapi untuk nilai kekompakan bisa dikasih nilai 8 naik dikitlah. Yang cowok memainkan gitar dan bernyanyi dengan diiringi suara teman ceweknya yang sesekali bertepuk tangan. Teman…mungkin bisa dibilang bahwa mereka pacaran kali  karena mereka kelihatannya sangat dekat sekali…lagi-lagi mungkin pacar karena aku juga tidak melakukan inspeksi lebih jauh…hanya ber-asumsi saja. Katika selesai 1 lagu, sang cowok melepas topinya dan mulai berjalan dari kursi depan untuk menerima uang yang diberikan para penumpang. Aku juga sudah merogoh 500 perak untuk kuberikan karena aku merasa terhibur juga oleh lagu dan suarannya, dan tentunya sebelum mereka turun dari pintu belakang nanti..karena aku duduk di barisan paling belakang.

.

Mungkin bukan moment mereka untuk mendapat banyak koin di dalam bis ini karena kelihatannya sedikit sekali yang merogoh kantongnya untuk mengisi topi tersebut. Namun bagaimana-pun juga para penumpang tidak bisa disalahkan karena mereka adalah pengamen ke tiga, belum lagi di terminal-terminal sebelumnya dan juga dalam perjalanan antar satu kota ke kota lainnya banyak para pengamen yang masuk. Kurangnya orang yang memberikan uang kelihatannya dirasakan oleh si cowok tersebut. 2/3 panjang bis sudah habis dilalui sembari menyodorkan topi tersebut. Aku tidak mendengar apa yang dikeluhkan sang cowok tapi aku mendengar apa komentar sang cewek setelah mendengar keluhan sang cowok tersebut. Dia bilang “Lho…piye tho mas, biyen ngomong dewe yen aku kudu sabar. yen sabar khan gusti yo ngrungokke. yen sabar mengko khan rejeki yo teko dewe. Mbiyen ngandani aku kok saiki ngresulo dewe. yo wis saiki sabar disik…” (Lho…gimana tho mas, dulu ngomong sendiri kalau aku harus sabar. kalau sabar nanti Tuhan juga mendengar. kalau bersabar nanti rejeki juga datang. Dulu menasehati aku kok sekarang berkeluh sendiri. ya udah, sekarang sabar dulu…”

.

Tidak tahu kenapa, aku cuma tersenyum sendiri mendengarkan komentar pasangan pengamen tersebut. Aku bisa menangkap bahwa sang cewek berusaha menunjukkan bahwa dulu sang cowok menasehati dia, dan sekarang gantian dia menasehati sang cowok dengan nasehatnya si cowok itu sendiri. Entah kenapa aku cuman berpikiran kalau itu mungkin gunanya pasangan, teman, partner, dan orang lain dalam hidup kita. Kenyataannya kita memang bisa dibilang tidak bisa terus hidup dalam satu jalan saja. Manusia itu berubah. Dulu mungkin kita salah, siapa tahu nantinya kita yang ternyata benar. Dulu kita yang jadi penjahat, tapi nantinya kitalah yang dielukan sebagai yang benar. Dulu kita dibilang pendosa, eh siapa tahu natinya apa yang kita lakukan bukanlah dosa. Dulunya kita menasehati, sekarang orang yang butuh dinasehati. Pengingat dan yang diigatkan. Dan semuanya juga butuh orang lain sebagai pihak yang berseberangan dengan pandangan kita. Dan di dalam bis ini kulihat satu contoh orang yang dulu menasehati jadi orang yang dinasehati.

.

Aku cuma mau bilang bahwa apa yang kita lakukan kadang kala tidak bisa dinilai pada saat itu juga sebagai sesuatu yang baik dan jelek, butuh waktu yang teramat panjang untuk melihat siklus dan dampak lebih luasnya. Terlebih lagi kita tidak bisa berarogansi bahwa yang kita lakukan, pikirkan, dan ucapkan akan kekal selamanya dalam diri kita. Karna kita sendiri kadang tidak sadar bahwa apa yang kita lakukan ternyata bertentangan dengan apa yang dulunya kita gembar-gemborkan. Orang lain…itulah fungsinya sebagai tombol pengingat agar apa yang kita lakukan tetap dalam jalurnya. Dan takaran benar dan salahnya sesuatu tentu saja tinggal dalam norma masyarakat, tapi satu lagi…norma masyarakat sendiri juga cenderung berubah dengan waktu. Fleksible. Intinya bahwa apapun yang kita lakukan belum tentu benar, dan itulah fungsinya ada orang lain dalam hidup kita.

.

Oh ya…uang 500 perak yang tadi sudah kukeluarkan akhirnya masuk lagi ke kantong karena sepasang pengamen tersebut sibuk berdebat sendiri sembari keluar dari bis dan lupa menyodorkan topinya di kursi-kursi barisan belakang. Akhirnya bis jalan lagi.

.

.

Kang Danu

Smd20060806.e20171114

Leave a Reply

Your email address will not be published.