JANGAN-JANGAN

(suatu malam di Jakarta)

.

Pulang kerja ya seperti biasa belakangan ini jalan kaki. Sembari menghitung langkah kaki, mata tidak berhenti berganti pandangan ke kanan dan kekiri sekedar mengulangi pemandangan yang sebenanrya sudah ratusan kali kulewati. Dengan waktu yang menginjak jam 8-an malam, jumlah orang orang yang tadinya padat di area ini dapat dipastikan berangsung-angsur menghilang, kecuali barisan manusia-manusia kayak di pintu mall belakang sana yang sedang mengantri taxi. Sedangkan sepanjang trotoar di depanku kosong…walaupun tidak bisa dibilang melompong.

.

Diantara rindangnya pohon dan bayangan ranting-rantingnya yang jatuh ke trotoar karena sorotan lampu-lampu hias yang menyambut 17an kemarin, kulihat sesosok yang berjalan arah berpapasan denganku. Semakin lama semakin dekat jarak antara diriku dan orang yang di depan sana. Secara garis besar bisa digambarkan dengan kata: pendatang?…kalau kubilang pendatang maksudnya adalah karena kulihat tipikal yang sama ketika aku dulu di samarinda, balikpapan ataupun batam ketika malam minggu menjelang.

.

Dan sosok itu juga memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda…kaos yang dimasukkan ke dalam celana panjang jeans-nya ditambah lagi dengan jaket berbahan jeans. Dilehernya terkaling sebuah scraft atau apa, aku tidak terlalu memperhatikan. Dipingganggnya melilit sebuah tas kecil dan ada sebuah earphone yang menyambung ke HP yag dipegangnya. Pokoknya rapi jali tanpa kompromi. Oh ya…rambutnya agak panjang. Jujur saja….penampilan seperti itu mengingatkanku pada preman-preman terminal dengan potongan muleet-nya..alias tipis samping..panjang belakang.

.

Dan karena itulah, maka ada perasaan sedikit panik ketika aku menggeserkan langkah kakiku ke sebelah kiri trotoar, dari kejauhan dia juga mengarah ke sisi kiri….sedangkan ketika kulangkahkan ke kanan…dianya ikut kekanan. Jangan-jangan….jangan-jangan……… Otakku sudah membuat peta jalan 3 dimensi mana kanan—mana kiri…kalau perlu lari (beneran bro). Kalau di film-film…mungkin peta digital sudah ada tanda-tanda markernya…sedangkan tas sudah lebih berpidah ke depan dada..yang tadinya di samping badan…dan kalau dipikir pikir…kurang dari 100 meter kedepan ada pos security yang kutahu pasti ada securitinya. Tapi karena bayangan ranting yang luayan padat…jadi wajahnya tidak terlalu jelas.

.

Kanan..ikut kanan..kiri…ikut kiri…dan makin lama makin dekat sampai akhinya tinggal 1 meter kita hadap-hadapan sampai bisa memastikan celana dan jaket bahan jeans-nya. Entah maunya apa nih orang..pokoknya siap-siap…yang kemudian dibuka dengan;

.

Mas, mau tanya…kalau daerah widya tama di mana ya?…saya sudah cari dari siang tadi gak ketemu…cari teman cuman ditelepon kok gak bisa bisa..

 

Ya ampun….orang cari alamat tho….tapi tetap saja pikiran belum tenang…mata masih men-scan sekitar..jangan jangan ada temannya yang tiba-tiba muncul dari semak semak sebelah kiri…atau apalah…intinya tetap harus men-set kaki untuk jurus kaki seribu…maklum…gak jago kelahi…dan lagi gak bawa jampi-jampi hahahahaha. Tapi setelah beberapa saat dengan pertanyaanku untuk coba telepon temannya yang terus tidak bisa dihubungi, dan juga sudah tanya security di depan sana yang katanya hanya menyuruh masuk ke dalam saja tanpa penjelasan yang lumayan jelas…akhirnya memang keputusannya “cari alamat”….lagian mukanya sudah lumayan nelongso banget…cari alamat temannya gak ketemu-ketemu.

.

Mungkin paranoid…iya…mungkin berprasangka….iya…pokoknya tidak kupungkiri kalau sedang jalan bawaannya waspada gak ketulungan…trauma dulu kuliah kena copet hilang 300 ribu. Kalau orang bilang “don’t judge book by its cover” yang diaplikasikan untuk tidak menilai orang dari penampilannya….untukku sih ‘WHY NOT??”….kalau kita mau lihat dalamnya….sense pertama kali yang kita pakai khan mata..so..WHY NOT…apalagi kalau bukunya diplastik-in..pasti sulit tahu dalamnya kalau gak terpaksa kita beli karena judulnya menarik…atau covernya mengundang mata…seperti waktu di singapura beli buku 365 kamasurta yang diplastik yang kukira seperti sejarahnya kamasutra seperti edisi keluaran gramedia…tahunya..365 photo. …terlebih–lebih jaman sekarang…tidak ada salahnya kita untuk curiga terlebih dahulu…intinya kita waspada untuk hal-hal yang terburuk baru sejalan dengan proses kita akan tahu gimana lapisa-lapisan dalamnya. Tidak semua orang necis itu baik…dan tidak semua bajingan itu tidak bisa berbuat baik…tapi untuk keduanya tetap kita perlu mawas diri. Terlebih lagi di kota besar dimana orang-makan-orang (kiasan bro…) tidak ada salahnya untuk memiliki standar seberapa jauh kita membatasi diri dengan orang lain dan tahu benar benar dianya untuk kita anggap sebagai teman..sahabat…atau orang yang bisa kita percayai.

.

Seperti orang yang tadi kutemui…batasanku ya sederhana…ketika dia tidak menunjukkan gelagat aneh…tangan tidak didalam saku (siapa tahu pegang senjata tajam atau lainnya), asli kelihatan bingung gak tahu kemana, dan terlebih lagi tidak ada orang lain yang tiba-tiba datang mengerumuni…di lain pihak..aku juga tahu daerah situ dan kemana harus pergi kalau ada sesuatu. Dan akhinya..kuarahkan dia ke lokasi yang dia maksud setelah berkonsultasi dengan temanku lewat telepon. Dan kulanjutkan lagi perjalanan pulang sembari berharap nih orang ketemu alamat yang dituju…tapi tetap tak lupa konsentrasiku tetap 100% disekitarku..sampai nantinya sudah buka pintu kamar kos…selamettttttt.

.

.

Kang Danu

Jk.19.8.14.21:40

Leave a Reply

Your email address will not be published.