INDOMIE GORENG

Catatanku hari ini: (catatan pagi gak ‘sa tidur)

.

Mungkin sudah ratusan kali aku bikin Indomie goreng…yang kalau di jogja dikenal dengan istilah Tante goreng atau Intel goreng….bagi yang gak tahu…cobalah sesekali pesen salah satunya. Anehnya, untukku beli indomie di warung Burjo (bubur kacang ijo), yang kebanyakan dimiliki sama orang jawa barat, terasa jauh lebih-lebih nikmat daripada ketika bikin di kost-kost-an. Padahal kalau dipikir..sama sama indomienya..sama sama telornya…sama-sama bumbunya..sama-sama juga sawinya. Dan untuk lidah yang cukup peka…masakan indomie dari satu warung ke warung yang lainnya akan berbeda…dan ini hanya pembuka cari bahasan yang ingin kutulis.

.

7 tahun hidup di lancang kuning membuatku lumayan tahu siapa-siapa saja yang ada di sini..khususnya orang-orang yang jualan di kantin karena lokasi kantin-lah yang merupakan lokasi yang lumayan enak untuk duduk ‘ngopi dan juga sekedar mengamati orang yang berlalu lalang macam juri yang kasih nilai tuh cewek nilainya 7+…sedangkan yang di belakangnya solid 10++…hahaha…dalam pikiran saja. Namun, sangat disayangkan karena kalau mau dibilang…beberapa tahun belakangan suasananya berubah sama sekali, dan ada kecenderungan untuk mati pelan-pelan…Jika dulu saja jam 11 malam masih bisa diharapkan untuk mendapatkan segelas kopi panas dan orang-orang yang duduk ngobrol…saat ini masih untung kalau jam 9 malam masih buka.

.

Kalau ditanya kenapa….jawabannya ya seperti warung burjo yang di jogja yang bisa dibilang tiap 100 meter akan mudah menemukannya…dan masing-masing punya pelangan sendiri-sendiri…terlepas yang bayar kontan atau yang sering ngutang kayak aku dulu,..maklum mahasiswa kere dengan keterbatasan dompet hahaha. Untuk masalah kantin yang hidup segan mati tak mau ini sebenarnya menurutku karena adanya kangker yang menggerogoti sejak tahun tahun belakangan…dan nama kangker tersebut adalah keserakahan dan iri hati. Pernah jamannya para penjual dikantin ini adem ayem..gemah ripah loh jinawi…namun hal itu bergeser dengan masuknya orang-orang yang mempunyai karakter tidak suka atas kesuksesan orang lain…seperti halnya jika orang lain sukses berjaulan bakwan goreng…dia meniru jualan bakwan goreng…dan masalahnya timbul ketika bakwannya tidak selaris tetangganya…dan itu diakhiri dengan gosip murahan dan rasa benci…dilain waktu ada penjual yang laku dengan pelanggan setia…namun akhirnya digosipin macam-macam yang akhirnya membawa suatu kondisi tidak nyaman…yang berakhir dengan adanya geng-geng-an..kelompok-kelompokan yang melibas kenyamanan pelanggan juga pada akhirnya…karena ada kesan tarik-tarikan pelanggan. Dan lucunya…jika seseorang pernah makan di suatu tempat…dan hari hari kedepannya dia makan di penjual lainnya…nanti sang pelanggan tersebut ikut-ikutan dimusuhi…atau sekedar disindir tidak langsung.

.

Kadang kepingin sekali bilang ke orang-orang tersebut bahwa jualan…apalagi yang namanya makanan berarti berurusan dengan lidah…dengan indra pengecapan…dengan budaya makan seseorang…sehingga kesamaan jenis makanan dari satu penjual dengan penjual lainnya tidak akan menjamin kalau barang dagangannya akan sama ramainya dengan orang lain…karena jelas saja beda setengah sendok garam saja akan menghasilkan rasa berbeda…apalagi jika yang masak orangnya berbeda. Sama – sama jualan bakwanpun tidak akan menjamin bakwannya lebih enak dari tempat lain…dan sama-sama jualan mie goreng-pun jika pembelinya suka yang pakai kecambah di dalamnya pasti dengan sendirinya akan mencari penjual yang sesuai dengan seleranya.

.

Trus gunanya gosip-gosipan, tarik-tarikan pelanggan, fitnah-fitnahan dan iri-irian sebenarnya buat apa? Urusan lidah adalah urusan pribadi…sehingga jika seseorang suka masakan di tempat lain…ya karena tempat itu sesuai dengan indra pengecapannya…sesederhana itu saja.Terlebih lagi jika diperkuat dengan iman bahwa “rejeki tidak akan kemana”…ada yang ngatur….dan yang bisa dilakukan adalah terus belajar..terus berimprovisasi sehingga masakannya akan lebih diterima konsumen sekitarnya…kalau tidak mau begitu…ya berarti harus mencari lokasi dimana masakannya diterima…move or adapt…just that.

.

Untuk berbisnis..kayaknya perlu sesekali kita ke Mall dan memperhatikan para penjual HP yang sedang bertransaksi dengan pelanggannya….jarang aku dengan kata “tidak ada”..yang ada ya “ada” walaupun barangnya tidak ada. Barangnya “ada” karena mereka meng”adakan” dengan cara mengambil dari temannya. Berapa kali anda belanja mereka bilang ‘ada” tapi diminta tunggu sebentar…trus orangnya ‘ngloyor pergi dan kebali dengan barangnya yang sudah ‘ada” di tangan?. Kalaupun dijawab “tidak ada”, biasanya akan diikuti dengan kata “tapi bisa saya carikan”

.

Yang kumaksud disini adalah…kalau kita jadi pengusaha…lihatlah pengusaha lain, sebagai rekan kerja…atau perpanjangan tangan…. walaupun sama usahanya. Boleh saingan…namun harus yang sehat…syukur-syukur dilihat sebagai kesempatan bisnis lainnya. Jika anda tidak punya barangnya…kenapa tidak ambil dari dia….jika dia jualan bakso…kenapa anda tidak jualan es campur dan krupuk-nya….jika dia jualan kasur-kasur bekas…kenapa anda tidak buka memperbaiki kasur dan isi kapuk…dan jika dia buka tempat kursus dengan banyak anak-anakdi dalamnya…kenapa tidak buka kantin kecil di sampingnya…jika kita bisa melihat perpanjangan bisnis yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan pengusaha lain..trus gunanya saling menghabisi itu apa?…apalagi jika hanya jualan makanan di kantin.

.

Dan kembali ke Mie goreng tadi…mungkin ada persaingan antara penjualnya…namun merekapun memiliki pelanggan-pelanggan setia karena….ya kembali ke masalah rasa…tiap orang punya kesukaan sendiri-sendiri…dan kenapa lebih enak di warung dari pada bikin sendiri di dapur…ya itu rahasianya mungkin…mereka adalah spesialisasinya seperti es dawet ayu…sate madura…rumah makan padang…atau mungkin di atas pintunya ada bungkusan jimat dibalut kain putih..siapa tahu hahahahaha….so…saingan bisnis tidak berarti hukukan mati bagi bisnis anda…coba pikrikan lagi.

.

.

Setodanu

Batam.Lk.15/09/13.02:09

 

[animatedcounter count=”1000″]

Leave a Reply

Your email address will not be published.