PANCING, MANCING, PEMANCING

(buat teman-temanku yang hobi mancing)

.

Berboncengan rapat. Senyum dilipat-lipat kulum gimana gitchu, kadang juga serius berbicara dengan kepala didepannya. Baju dan celana yang cenderung lusuh-lusuh travolta dan celana yang tidak bakalan takut berkotor-kotor ria.  Dipundak tertenteng sebuah tas yang tidak tertutup sepenuhnya karena ada beberapa batang berbentuk tabung mencuat dan kadang kadang ditemani untain benang yang bergoyang diterpa angin.

.

Ini nih…para pemancing yang mulai kelihatan kebanyakan di sabtu sore di perempatan-perempatan jalan kota batam sambil menunggu lampu hijau. Entah sudah diijinkan sama bini masing-masing, atau selingkuhan yang setara lagu selimut tetangga…bisa dipastikan sosok-sosok manusia yang berbonceng tersebuat akan menyebar ke seantero kota batam untuk menemukan celah-celah yang nikmatnya selangit buat para memancing. Bisa hitungan jam-jaman…atau bahkan tak sedikit yang lupa kapan waktunya pulang. Munkin ini jugalah alasan kenapa hantu Seiladi mulai jarang muncul karena tempatnya nongkrong kalau malam mulai ramai orang yang berjongkok ria sambil berharap-harap cemas karnifora kailnya digigit sang incaran atau tidak. Tapi yang pasti mereka kena gigit nyamuk-nyamuk nakal yang menyambangi kulit terbuka yang tidak dilapisi produk penangkal serangga atau minyak alami tubuhnya.

.

Mancing…atau komplitnya memancing, suatu kegiatan berkategori hobi slash olahraga yang mungkin agak-agak tidak kupahami. Tak Hanya di Batam, belakangan-pun di Balai rekan-rekan kerjaku mulai kesambet dewa kail. Satu persatu mulai terkepar pasrah memeluk tiang bata pemancingan di PN (sebenarnya singkatan apa sih?). Dan keceriaan mereka bertambah tinggi di kantor sejalan dengan mendekatnya hari pe-mancing-an yang mereka buat sendiri atau ikut kompetisi. Mulai dari persiapan hari, pulang cepat, siapin kompor, masak cenil, olah essence yang nantinya menghasilkan bau bermacam-macam tergantung mood mereka; mau pakai pisang raja, bakso, jeruk, teri, atau apalah yang penting berbau dasyat dengan harapan pekat agar nanti ikan yang dipancing akan terpikat mendekat. Mungkin maksudnya kayak feromon yang dhasilkan binatang-binatang waktu masa birahi nak kawin itu untuk menarik pasangan. Itu belum lagi kalau mendekati masa turnamen yang kelihatannya seminggu sekali….tak perduli keringat bercucuran karena dapat lapak yang terpapar matahari sore…namun bergeserpun tak lah. Pake payung?…..aih kelaut aja. Dengan tenang, sembari jidat-jidat mereka mengkilap akibat keringat yang kadang lupa di-lap…mata tak jauh-jauh memandang ujung benang yang tenggelam ke air atau ujung tongkat pancing dengan doa-doa setengah matang agar ada gerakan atau sedikit denyutan. Kalaupun ada…100 km/jam mungkin itu kecepata tangan mereka menyambar tongkat pancing yang sebelumnya tergeletak pasrah di bibir kolam. Diiringi riuh tawa  dan dorongan yang bercampur dengan cacian dari peserta peserta lain…mulai digulunglah roll pemutar benang pancing. Masing masing punya gaya sendiri..masing masing punya goyangan sendiri…dari goyang menyamping atau goyang duduk…yang jelas perut jadi landasan utama untuk menancapkan jangkar tongat pancing.  Masing masing juga punya keberuntngan sendiri-sendiri juga. Ada yang berhasil narik…ada yang lepas di awal…ada yang sudah di ujung surga tapi lepas tiba-tiba…dan yang ini bisanya diikuti dengan luruhnya semangat seketika, walaupun tidak sampai 3 menit kemudian akhirnya mulai lagi bersemangat mengepal-epal umpan yang dicampurin cenil beressence ajaib racikan masing-masing.  Dilain pihak, ada juga yang super-super beruntung…sudah dapat tempat nyaman…berpendingin angin alami…jauh dari terik panas yang memanggang peserta lain…tinggal lempar pancing, nyalain sebatang rokok dah langsung narik. Model ginilah yang bikin gondok-gondok tralala peserta lain. Namun dari semua ini….entah mancing sendirian, ataupun dalam perlombaan…kegiatan memancing pastilah memerlukan waktu, kesabaran, dan keberuntungan. Trus..kalau cuman duduk merenung dan berharap-harap cemas untuk mendapatkan ikan sehingga bisa berbual…ngapain mancing? Ngapain bawa pancing dan menjadi pemancing? Pertanyaan misteri yang masih belum kutemukan sampai detik ini.

.

Tapi….kalau mau dipikir lebih dalam sedikit dan kita juga mau terbuka…kita sebagai individu bisa belajar banyak dari kegiatan memancing…sebagai pemancing dengan peralatan pancingnya ketika mancing. Mungkin…satu kali putaran memancing bisa kubilang sebagai rangkuman kehidupan kita sehari hari. Coba bayangkan seperti pemancing di turnamen yang dapat tempat panas ataupun yang nyaman karena undian…begitu juga dalam hidup kita. Kita juga kadang terkondisikan dalam situasi yang tidak nyaman, yang tidak sesuai keinginan kita atau kebalikan dimana kita menikmati segala kemudahan. Pada saat bersamaan entah dimana tempat kita duduk…kitapun pasti dihadapkan pada sebuah kondisi dimana kita harus bersabar menghadapi hari, berharap-harap cemas untuk mendapatkan hasil terbaik dan berusaha sekeras-kerasnya untuk menarik kesempatan itu ke tangan kita, seperti para pemancing yang berusaha mengatur kecepatan dan kekuatan putaran roll dan tarikan tali pancing mereka. Walaupun…walaupun kadang kita mendapatkan kekecewaan karena hasil yang diharapkan lepas dari tangan di detik-detik terakhir..atau bahkan jatuh kecewa karena lepas kali pertama kita melihat kesempatan itu. Dan tentu saja bergembira jika ada tangkapan yang bisa memuaskan kita….ada penghargaan atas hasil kerja kita. Namun demikian…kalaupun ikan bisa dipancing…belum juga menjamin ikan seperti apa yang dihasilkan…seperti halnya kita berusaha keras untuk dapat A, namun berbuah B, Berbuah C dan buah-buah yang lainnya. Bahkan yang digenggaman kitapun belum tentu 100% apa yang kita impi-impikan. Dapat 3.6 Kg..padahal mengincar yang 7 Kg. Dapat Bawal…padahal mengincar Kerapu. Bahkan dari memancingpun kita bisa belajar bahwa untuk menjalani hidup inipun dibutuhkan persiapan, dibutuhkan perhitungan komposisi pengetahuan yang tepat dan sesuai serta dibutuhkan juga peralatan yang mumpuni untuk membabat semua halang-rintang dalam kehidupan kita. Seperti cenil yang sesuai hitungan essence-nya dari tetes ke tetes sehingga bisa membuat sang ikan birahi untuk melahap umpan pancingan. Tidak bisa kita cuman dating ke kolam pancing hanya bawa badan tanpa pengetahuan…proses belajar diperlukan untuk mejadi pemancing handal. Seperti halnya memancing…dalam hidup inipun kita perlu belajar bersabar, belajar untuk menerima dan bagaimana menikmati hidup diantara tekanan dengan tertawa lepas dengan teman-teman dan keluarga di sekitar. Tidak semua cacian itu jelek…dalam dunia memancing mungkin itu malah jadi pemacu untuk meracik umpan lebih baik di lain hari. Tinggal bagaimana kita menerima cemoohan itu. Dan jangan lupa juga…disamping para pemancing juga ada mereka-mereka yang bukan pemancing tapi sekedar orang yang bisa melihat sisi lain dari pemancing dan turut serta dalam kegiatan memancing itu.

.

Jadi…..seserius itukan kegiatan memancing? Tentu saja tidak karena memancing adalah kegiatan yang seharusnya menyenangkan, memberikan kebahagiaan, memberikan rangsangan, tantangan dan juga bagaiman mengantisipasi tiap detik untuk tidak kalap mata sehingga kelewatan buruan yang berharga. Bukannya menyenangkan jika kita memancing bersama pasangan kita…bersama keluarga kita…bersama anak-anak kita yang kita ajari bagaimana untuk diam bersabar dan menikmati seluruh prosesnya. Pancing, memancing dan Pemancing…elemen elemen yang bisa kurangkum denga pertanyaan “kok bisa diam saja nungguin kail digigit?”…mungkin hal tersebut tetap akan sulit kupahami…sesulit orang memahami aku yang kadang ditemani kopi tapi bisa duduk mebaca berjam-jam. Kita punya gaya sendiri..ya tho J

.

Kang Danu

Tbk. Fotocoffemilkhske.20171019.20:28

Leave a Reply

Your email address will not be published.