ANAK…PUNYA ANAK

ANAK…PUNYA ANAK

.

Sebelum bicara panjang lebar…tolong dimaafkan karena tulisan di bawah hanya menurut pandanganku saja sebagai orang yang BELUM menikah dan BELUM punya anak….sebatas pertanyaan pribadi…dan pusing sendiri yang ujungnya juga berakhir dengan pertanyaan yang belum tentu jelas ada jawabannya maupun perlu diverifikasi dan diselidiki….hanya sebatas ocehan yang terlintas di otak….sepurone’ ya kang mas karo mbakyu.

.

Kemarin bertemu teman sesama pencari sesuap nasi dan segenggam berlian. Cepika-cepiki dan di tengah-tengahnya tersenggollah topik tentang teman kami yang lain dan berakhir dengan pertanyaan sudah punya anakkah dia atau belum. Bahagia juga mendengarnya walaupun bukan anak sendiri.

“Akhirnya bro”, temanku menegaskan “nunggu dia insyaf dulu kayaknya baru dikasih anak”

“maksudnya?”

“tahu sendiri khan dulu dia, sering mabok, pulang malam. Sekarang gak lagi. Jadi guru juga dia.”

Dan tertawalah kita.

.

Namun selepas itu aku jadi berpikir sendiri tentang teman-temanku atau rekan-rekan kerja yang masih berjuang atau dulunya lama berjuang untuk mendapatkan anak setelah menikah bertahun-tahun. Dimana salahnya jika ‘ngecluppun sudah sesuai standarnya? Dan kapan terakhir kali anda mendengar ada orang yang berujar “Belum dikasih sama yang diatas” serta “Anak itu titipan yang kuasa”? Trus hubungannya apa?

.

Dengan pemahaman bahwa anak itu sekedar titipan yang harus dijaga baik-baik, berarti seharusnya orang yang dititipi adalah orang yang dianggap sudah siap untuk dititipi. Seperti halnya saudara kita menitipkan anak ke kita karena mereka percaya bahwa kita bisa mengurus anak yang dititipkan. Pasrah bongkotan. Tapi apakah benar demikian? Disini aku jadi menghubungkan dengan pernyataan temanku dalam kontek bercanda di atas. Insyaf. Disini aku tidak berbicara konteks agama…tapi istilah insyaf diatas mengacu kepada segala hal yang menghambat kita untuk “siap dititipin” anak oleh yang Diatas. Dan anak disini bukan berarti harus anak biologis, anak angkatpun juga perlu proses persiapan diri dan waktu karena jelas saja mereka tidak sekedar dicomot begitu saja dari keranjang belanjaan hanya karena anak angkat. Trus maksudnya dengan insyaf yang kumaksud itu bagaimana?

.

 

Mungkin kuilustrasikan saja dengan sejawatku dulu di kantor lama empat …lima tahun lalu dimana sang suami sudah menjabat posisi yang mendekati langit…tinggal jinjit sebentar sudah menyentuh dasarnya lagit. Di sisi lain, sudah bertahun-tahunpun dia membina rumah tangga belum dikaruniai anak. Terakhir dengar berita dia memutuskan untuk berhenti kerja dan diangkut istinya mudik kampung…istirahat…dan terapi pasutri. Terakhir pula dengar berita dia dan istrinya sudah mendapatkan anak…lebih dari satu malahan. Rapelan. Jadi harusnya sekarang anak-anaknya sudah lumayan ramai mengisi ruang tamu keluarganya. Disinilah aku jadi berpikir bahwa insyaf-nya dia itu adalah istirahat dari kerja…kerja dan kerja….paham maksud saya?

.

Mungkin ada yang perlu insyaf dari kebiasaanya begadang malam diluar, dari berbatang-batang rokok tiap hari, dari makanan-makanan cepat saji alias junk food, dari memperlakukan pasangan tidak lebih dari sekedar pembantu, dari kurangnya rasa bersyukur dan pasrah, dari berperilaku egois, dari sifat kekanak-kanakan, dari kelelahan fisik yang berkepanjangan, dari kelelahan mental yang berkepanjangan, dari perasaan belum siapnya pribadi sendiri untuk mendapat momongan, dari kebiasaan mengambur-hamburkan uang, dari mabuk, dari kurangnya kita menyisihkan waktu beristirahat, dari tidak perdulinya kita terhadap kesehatan sendiri, dari kurangnya kira membagi waktu,  dari duduk seharian nonton TV sama makan kacang kapri, dari tidak berhentinya berpikiran negatif, dari tidak berhentinya membanggakan diri sendiri dan pamer harta,  dari…dari…dan jutaan dari-dari lainnya. Namun, bukan berarti semua perokok harus berhenti, semua yang suka begadang wajib pulang jam 9 malam….bukan. Disini kupikir kasusnya individu-per-individu dimana yang diatas melihat hal yang perlu diinsyafin dari masing-masing orang juga berbeda-beda. Sampai titik dimana kita menentukan langkah yang benar mungkin kita belum sepenuhnya dipercayai untuk dititipi. Dan kadang banyak juga mungkin tidak paham salahnya dimana?

.

Memiliki anak berarti tanggung jawab tidak berkesudahan. Dan kapan kita diberi juga merupakan misteri. Jadi ketika orang bicara “belum dikasih” berarti masih sangat terbuka kesempatan untuk “meminta”. Dan ingat lagi, anak yang kumaksud tidak terbatas pada anak biologi. Banyak cara dan bentuk sebuah keluarga memiliki anak, tinggal bagaimana kita memandangnya.  Ndelok njero.

.

Itulah alasan kubilang sepurone diawal karena keterbatasan pemahamanku dan juga sangat banyaknya sudut pandang dimana yang benar dan yang kurang berkenan hanya setipis tali rapia yang sudah disuir-suir buat prakarya anak-anak. Namun tetap saja aku mempercayain bahwa masing masing dari kita berhak untuk menimang anak  entah kapan itu waktunya dan bagaimana bentuk anak itu akhirnya. Sepurone ya kang mas karo mbakyu…aku ojo diseneni.

.

.

Kang Danu

Tbk.Pcm.20180116.21:04

MENJIPLAK

IMPRINTING CANNOT BE FORGOTTEN
.
Berapa kali anda melihat tulisan-tulisan motivasi dimana ada perbedaan antara Boss dan Leader dimana di gambarnya Boss digambarkan banyak memerintah dan mereka diam di korsi naman mereka. Sedangkan leader adalah sosok dimana mereka di depan dan memberi contoh serta bagaimana seharunya sebuah pekerjaan dilakukan dengan benar. Leader memberi contoh dengan harapan anak buahnya akan mengikuti. Mengikuti sesuai dengan standar yang diiginkan. Walaupun bukan seorang leader secara jabatan, rasanya masing masing kita dalam kehidupan sehari-hari mencoba menjadi seorang leader.

.

Tak lama berselang seorang temanku menceritakan suatu kejadian di rumahnya. Sepulang dari kantor, seperti biasa dia bermain dengan anaknya. Cakap punya cakap tiba-tiba anaknya yang masih kecil tersebut mengucapkan sebuah kata yang menurut dia cukup mengejutkan karena dia merasa tidak pernah mengucapkan kata tersebut. Setelah dikonfirmasikan ke istrinya, ternyata istrinya juga tidak pernah mengucapkan kata tersebut di depan anaknya…alih-alih kedua orang tua ini akhirnya mengambil kesimpulan bahwa anaknya telah mengadopsi satu kata tersebut dari lingkungannya dimana kalau siang hari kadang anak itu bermain dengan anak-anak tetangganya waktu dititipkan.
.
Dan cerita seperti itu bukanlah kali pertama kudengar, dimana anak-anak mengadopsi kata, perbuatan ataupun pikiran baru dimana sang orang tua merasa tidak pernah mengajarkan hal tersebut, terlepas dari apa yang diadopsi adalah hal yang baik maupun buruk. Nah…kalau buruk itulah yang jadi masalahnya karena anak masih dalam proses penyerapan yang cukup cepat pada hal-hal baru seperti halnya kasus anak balita yang ngerokok ‘nlempus habis-habisan…dan konyolnya orang sekitar malah mengdorong kebiasaan tersebut baik langsung maupun tidak langsung. Dilain sisi, sang anakpun belum memiliki kecakapan yang tinggi untuk membedakan mana yang baik dan mana yang benar.
.
Terlepas juga dari kasusnya yang terjadi pada anak kecil, Konrad Lorenz (1903 – 1989) adalah orang pertama yang menyelidiki sebuah proses pembelajaran yang kemudian dikenal dengan istilah IMPRINTING. Dia juga dikenal sebagai salah satu bapak ethimology (suatu komparatif study dari perilaku binatang dalam kondisi nyata). Pengamatannya dimulai dengan Bebek dan Angsa. Konrad menyadari bahwa jenis unggas secara cepat menjadi terikat dengan induknya setelah menetas, tapi kasusnya bisa juga terjadi sama persis dengan “orang tuang angkat” jika tidak ada induknya disana saat menetas. Phenomena keterikatan unggas pada benda bergerak yang pertama kali mereka lihat inilah yang akhirnya disebut dengan proses IMPRINTING atau MENIRU. Bahkan dalam penyelidikannya, dia pernah mengkondisikan dirinya sebagai orang tua angkat dari Bebek dan Angsa yang baru saja menetas.

.
Yang membedakan antara proses Imprinting (meniru) dan Learning (pembelajaran) adalah imprinting terjadi hanya pada periode tertentu perkembangan binatang tersebut yang disebut dengan “CRITICAL PERIOD” . Tidak seperti Learning (pembelajaran), proses imprinting berlaku bebas dari proses perilaku (behavior) dan kelihatannya tidak bisa dibalik…imprinting tidak bisa dilupakan alis melekat. Semakin maju, Lorenz juga mengobservasi tingkatan yang lainnya seperti halnya perilaku instingtif yang mengacu pada perilaku pengenalan yang ahirnya disebut dengan “Fixed-Action Patterns”. Perilaku yang terakhir ini tidak aktif sampai akhirnya dipicu pada suatu waktu tertentu di dalam critical period. Fixed-Action Patterns tidak bisa dipelajari tetapi terprogram secara genetik dan hal ini dengan sendirinya sudah menjadi proses dari seleksi alamiah.
.
Nah….terlepas dari observasi ini dilakukan dalam dunia fauna, Critical Perio diatas mengingatkanku terhadap istilah “Golden Age” dalam tahap perkembangan anak diantara rentang 0 sampai 8 tahun. Di rantang tahun-tahun tersebut otak anak berfungsi seperti potongan busa dimana mereka akan sangat mudah untuk menyerap segala hal yang mereka amati dan alami, terlebih lagi yang mereka sukai. Jika dikaitkan dengan yang dibahas di atas, proses imprinting rasanya bias juga disematkan dimana proses proses pembelajaran mereka meliputi proses mengadopsi mentah-mentah apa yang mereka alami dan perhatikan dalam keseharian. Sekali lagi semua ini terlepas antara baik buruknya yang mereka tiru karena perkembangan mental mereka yang masih belum stabil.. Nah…sekarang silahkan dilihat lingkungan seperti apa dimana mereka tinggal dan bagaimana anda mengharapkan mereka berkembang.
.
Omong-omong…proses imprinting yang sangat terasa dari pengalamanku pribadi adalah waktu belajar komputer. Waktu SMP/SMA…kuhabiskan waktu berjam-jam ke rental komputer (jamannya belum ada sekat antara  komputer) dan kubiarkan mataku lirik kanan dan kiri untuk melihat orang lain mengoperasikan program komputer…dan kutiru…hasilnya…not bad-lah….daripada kursus komputer yang mahal untuk kantongku masa itu….proses imprinting kayaknya berhasil. Kembali ke duni kerja, menerapkan contoh yang baik untuk ditiru itulah salah satu yang bias dilakukan seorang atasan dengan harapan apa yang dilakukan akan terefleksi kepada kinerja bawahannya, dan bagaimana bawahan melihat atasannya dalam keseharian bisa menciptakan bentuk kerja yang dikehendaki. So…jadilah alat media peniru yang baik

.

.

Kang Danu

Tbk.Pcm.e20180113.21:20

 

SEBUTKAN SEBANYAK MUNGKIN KEGUNAAN TUSUK GIGI YANG ANDA BISA

SEBUTKAN SEBANYAK MUNGKIN KEGUNAAN TUSUK GIGI YANG ANDA BISA

.

.
Dulu waktu jamannya kuliah, pernah aku ikut kelas besar dimana pesertanya kira-kira bias dibilang satu angkatan prodi yang kemudian dipecah dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan sekitar 6 sampai 7 mahasiswa. Studi kasus yang diberikan adalah ; ingin menyelenggarakan sebuah konser musik di kampus..sedangkan sponsor terbesar yang bisa didapatkan untuk memecahkan masalah keuangan adalah produsen rokok dimana mereka akan mereka memasang umbul-umbul dan banner. Disatu sisi, ada aturan dari kampus yang menyatakan “Tidak diperbolehkan memasang iklan produk rokok di dalam kampus”. Nah…hampir semua kelompok memiliki kesamaan keputusan untuk mencari sponsor lain. Kecuali seingatku tinggal 1 kelompok yang memiliki jawaban berbeda…kelompok dimana aku menjadi anggotanya…itupun juga karena aku sepertinya mencoba meyakinkan anggota yang lain bahwa sponsor rokok bisa digunakan…dengan melihat aturan dari kampus atas kalimat “…DI DALAM kampus”. Jadi, kalau umbul-umbul disetujui kedua belah pihak untuk dipsang diluar pagar kampus…ya tidak masalah khan?
.
Melihat masalah dan cara pemecahannya memang kadang menimbulkan banyak dilema, dimana kadang seseorang hanya memiliki satu jawaban mutlak, sedangkan yang lainnya memiliki alternatif yang banyak…apakah tingkat intelektual seseorang mempengaruhi setiap pemecahan masalah yang sedang dihadapi? Alfred Binet, seorang psikolog perancis pada tahun 1905 bersamaan dengan Theodore Simon membuat “Binet-Simon Scale“, sebuah skala yang bertujuan untuk mengklasifikasikan tingkat inteligensi individu dari; memori, perhatian, dan pemecahan masalah. IQ rata-rata orang adalah 100 point. Dan hasilnya adalah 95% populasi umum masuk dalam point 70 sampai 130, Sedangkan 0.5% sisanya diatas 145 yang disebut level “Genius“. TAPI walaupun tes ini masih digunakan, tes ini memiliki kelemahan dimana test ini mengesampingkan kreativitas dan beranggapan bahwa hanya ada kepandaian umum yang diwakili dengan test tersebut.
.
Dari pemikiran itulah, J.P. Guilford melakukan pendekatan yang berbeda dengan menyebutkan kreativitas berarti lebih dari satu pemecahan masalah untuk satu masalah saja. Hal ini memerlukan pola pikir berbeda yang disebut dengan istilah “DIVERGENT“. Karen tehnik ini menghasilkan banyak sekali jawaban yang berbeda untuk satu masalah. Dengan sendirinya pemikiran ini bertolak belakang dengan IQ test yang biasanya hanya menghasilkan satu jawaban saja, dan disebut dengan pemikiran “CONVERGENT“. Guilford membuat test “Alternative Uses Test” untuk melihat seberapa luas seseorang bisa memikirkan pemecahan masalah pada satu waktu saja…dan itu dinilai dari Originality-Fluency-Flexibility dan Elaboration. Disini dia memecah intelegensi dalam 3 kelompok besar:

.
1. OPERATION: proses kepandaian yang kita gunakan dan terdiri dari enam unsur termasuk memory, kognisi dan evaluasi.

2. CONTENT: ada keterlibatan informasi ataupun data dan terbagi menjadi lima termasuk kontent visual dan audio

3. PRODUCT: hasil dari penerapan 2 point sebelumnya seperti halnya pembagian dan hubungan. Disini ada 6 unsur.
.
dengan pembagian diatas, sudah diklasifikasikan lebih dari 180 jenis kategori intelegensi, dan seratusnya sudah diverifikasi. Karena tingkat kerumitan test yang diciptakan, sampai sekarang test ini masih jarang digunakan, dan kesimpulannya adalah:
.
A. Pertanyaan atas memori dan pemecahan masalah sederhana bisa dijawab dengan menggunakan pemikiran Convergent dimana kemampuan seseorang untuk menghasilkan satu jawaban yang benar, dan hal ini bisa diuji dengan Standardized Intelligence (IQ) test

B. Pemasalahn yang memerlukan pemikiran kreatif bisa dipecahkan dengan menggunakan pemikiran Divergent dimana ada penggalian berbagai macam jawaban dan ini bisa diambil dengan penerapan test baru yang melibatkan pemecahan masalah dan imajinasi.
.

Nah …jika anak, saudara anda, tetangga anda dibilang IQnya tidak bagus…bukan berarti dia tidak pandai…lihatlah pola pikirnya…siapa tahu dia jenius dalam bidang lain…dan kembali ke kelasku waktu kuliah, jawaban kelompokku adalah satu-satunya jawaban yang dianggap salah oleh dosen kelas…terlepas seberapa ngeyelnya aku memperjuangkan alasannya dari sudut tata bahasa undang-undang kampusnya. Makanya…sampai sekarang aku masih ingat kasus ini…dan masih tidak terima dengan keputusan dosenku…

.

.

Kang Danu

Tbk.Pcm.e20180106.20:11

TUKAR TAMBAH SAJA…MURAH KOK!

TUKAR TAMBAH SAJA…MURAH KOK!

.

.

Suatu siang yang panas jaman dulu di ibu kota, tidak mengurungkan puluhan orang berbondong-bondong ke Bedeng, sebuah tempat di antara tingginya bangunan-bangunan di daerah SCBD Jakarta. Entah itu nama sebenanrya atau bukan, tapi seperti sebutannya dimana tempat itu merupakan kumpulan kios-kios tempel yang jualan makanan dengan atap seng sebagai cirinya. Yang datang ke situ juga bukan golongan abal-abal saja, yang bermobilpun juga ada, entah karena ngirit duit, suka pilihan menunya atau mungkin numpang mobil dinas kantor saja. Berbaur. Tidak memperdulihan panasnya udara di bawah atap seng yang terpanggang panasnya matahari waktu jam makan siang. Bedeng, tempat kumpulnya pencari menu makan siang.

.

Dan seperti itulah siang itu, aku dan beberapa temen kalap makanku (Pak Decky dan si Botak Wahyu) sudah melakukan ritual standar jika memasuki bedeng; lirik-lirik meja kosong tapi tidak terlalu ke tengah bangsal dimana AC alami bisa bersliweran diantara tengkuk kami tapi tidak di pinggir dimana tersenggol pantat orang yang lalu-lalang bisa jadi makanan standard punggung kami. Empat baris dari pinggir itulah pilihan kami, dekat pintu keluar dan tidak sulit keluar. Setelah pilih-pilih makanan, mulailah kita bersantap ria sambil sesekali mengelap keringat yang mengucur dari jidat akibat radiasi paparan panas yang merambat dari atas yang tetap saja tidak bisa dihindari sepenuhnya. Dan tentu saja untuk tipikal tempat makan seperti ini,  riuh rendah suara orang jadi pengiring makan disamping pengamen yang juga berlalu-lalang. Mungkin hampir semua tipikal topik pembicaraan bisa ditemukan disini, dari kerjaan sampai selingkuhan, dari makanan sampai kotoran. Dan gerombolan kami biasanya memilih topi-topik renyah harian. Dan disitulah, telingaku secara tidak langsung menangkap pembicaraan segerombolan cewek muda dengan pakaian seragam mereka. Mungkin kalau boleh kutebak dari seragam yang dikenakan mereka adalah para OB (cewek juga sebutanya OB?) dari kantor-kantor sekitar Bedeng. Topiknya adalah sulitnya cari kerja dan HP.

.

Mungkin kurang lebih inti dari obrolan mereka sambil bersantap adalah keluh kesah salah salah satu dari mereka yang menceritakan hampir butuh 6 bulan untuk dapat pekerjaan itu, belum lagi ribetnya lobi sana sini serta segala macam cepaka-cepiki yang harus dilalui. Sulit. Susah. Beratnya cari uang di Jakarta itu yang kuingat. Dan seperti cepatnya lalu-lalangnya orang yang keluar masuk mengisi perut, pembicaraan merekapun berubah topik dan makin meriah karena mereka juga tidak berusaha menahan diri dengan suara yang dihasilkan. Kali ini topiknya HP. Handphone. Telepon bimbit. Kurang lebih ini kalimat yang kutangkap ketika salah satu dari mereka menanggapi wanita yang tadi sempat berkeluh kesah, entah untuk menghibur atau murni menyarankan.

.

Eh …oh ya…katanya kamu mau ganti HP ya?….pakai yang XXX saja. Itu model terbaru yang baru keluar. Kalua gak beli baru, tukar tambah saja dengan HP lamamu…murah kok. Paling nambah 3 atau 4 juta saja kok…lebih keren…lagian HPmu dah ketinggalan jaman…

.

Tiba-tiba berkelebat sebuah kata di otakku mendengar itu; PALING. P-A-L-I-N-G. Well…tabungan mereka pastilah banyak… 4 juta dibilang paling, sedangkan HP-ku aja kuingat beli 400 ribu-an aja…bekas lagi. Dan serunya ide itu didukung teman-teman mereka yang makin membuat kumpulan itu ramai riuh dengan ide ganti HP baru yang kelihatannya dipertimbangkan berat-berat oleh teman mereka yang baru mulai kerja itu.

.

Dari keluhan susahnya cari duit, cari kerja dan langsung berganti topik menjadi ganti HP baru untukku kok topik yang berseberangan. Susah cari kerja, susah cari uang sepadan dengan nyimpan duit dan tabungan. Bukannya susah cari uang, susah cari duit berbanding sepadan dengan gaya-gayaan ngikuti teman. Pertanyaanku sendiri untuk diriku mendengar pembicaraan mereka…perlukan?

.

Sebenarnya bukan barang aneh dan baru jika orang-orang di sekitar kita memiliki barang-barang mahal, HP mahal, mobil mahal, jam tangan mahal, rumah mahal, bahkan sampai jeroan yang mahal-mahal. Dan tentu saja kita tidak perlu heran karena mereka memang mampu, memang tajir, dan memang levelnya sampai jumlah barang-barang tersebut tidak hanya sebiji punyanya. Dua, tiga kalau perlu empat bijipun bisa. Dan perlukah mereka dengan barang barang branded tersebut?

.

Ahli perekonomian Amerika Serikat bernama Thorstein Veblen-lah yang pertama kali mencatat bahwa perilaku ekonomi juga didorong oleh faktor psikologi, seperti halnya perasaan takut dan pencarian status yang juga sepadan juga dengan ketertarikan pribadi secara rasional. Pada tahun 1899 dia menerbitkan “The Theory of Leasure Classes”, sebuah kritik tentang gaya hidup para kelas atas. Secara garis besar dia menjelaskan bahwa mereka yang berpunya tidak membeli barang karena mereka membutuhkannya, namun untuk menunjukkan kekayaan dan status mereka. Fenomena ini disebut dengan istilah “Conspicuous Consumption”. Kepuasan mereka meningkat seiring dengan banyaknya yang mereka punya dan kurangnya benda tersebut dimiliki oleh orang lain. Lebih. Punya lebih dari orang lain.  Sehingga dengan beriringnya waktu jika banyak orang memiliki benda tersebut, tingkat kepuasan mereka akan berkurang, yang mendorong untuk mencari barang-barang lain yang masih jarang dimiliki orang yang secara alami biasanya harganya tidaklah murah jika sulit dicari atau edisi terbatas. Hukum ekonomi. Memiliki jam Rolex dan mobil Porsche mungkin contoh kecilnya.

.

Di kutub berbeda, orang membeli barang karena suatu kebutuhan. Seperti halnya orang keluar masuk Bedeng dengan harga standarnya. Tidak perduli mau berdasi maupun pakai coverall. Mau yang bersepatu kinclong bak kaca hotel ataupun sandal yang lebih sering terkena air toilet daripada kotornya tanah.  Dan jika menyangkut kebutuhan, memang kadangkala harga tidak menjadi panduan. Harga bukanlah patokan. Harga bukanlah standar kepuasan. Dan masing masing dari kita memiliki patokan harga yang berbeda-beda sesuai tingkat ekonomikal kita. Ada yang bilang 500 ribu sudah mahal, namun ada yang bilang cuma buat beli kacang goreng. Kubilang Bedeng harganya standar, namun itu dari pendapatku, mungkin banyak juga yang bilang mahal karena di tengah tengah gedung-gedung tinggi Jakarta. Dan apakah mereka yang datang berpikiran sama? Disinilah letak kesulitannya, terlalu banyak faktor untuk bisa bilang sesuatu hal itu sama dari satu isi kepala ke kepala yang lain.

.

Kembali ke masalah HP yang didiskusikan kelompok di belakangku tadi…murah tidaknya tergantung dari individu yang menilainya. Terlepas dari pekerjaannya apa dan posisinya apa. Tidak ada rumus standar bahwa suatu posisi hanya boleh memiliki HP dengan range harga tertentu, cuman sudan berapa kali dahiku berkenyit melihat pengemis dan pengamen yang memiliki HP yang jauh…jauh lebih mahal dari punyaku. Dan ini juga yang sering menimbulkan pertanyaan pribadi untukku sendiri. Dan kembali ke status sulitnya dapat uang…perlukah buang uang sekedar untuk mengikuti jaman dan gaya…perlukah…?

.

Kita sendiri yang bisa menjawab pertanyaan itu…silahkan.

.

.

Kang Danu

Tbk.Pcms.20171230.22:49         

 

TIGA KUNCI MOTIVASI PENDORONG KINERJA

THREE KEY MOTIVATIONS DRIVE PERFORMANCE
.

.
Pernah sekali kulihat seorang cewek menangis kuat-kuat di TV waktu rumah kost-nya kena gusur…bukan masalah rumahnya yang sedang kena masalah…tapi dia takut semua ijasah dan surat-surat penting yang dia miliki hilang selama proses penggusuran yang kebetulan saat itu terjadi dia sedang tidak ada di rumah. Ijasah. Sertifikat. Suatu tanda pencapaian dari suatu usaha. Seperti halnya di era tahun 60 dan 70an, pencapaian pendidikan, hasil IQ serta tes kejiwaan memiliki peran yang cukup signifikan dalam penerimaan pegawai baru ataupun performa kerja.
.
Namun, David C. McClelland yang menyandang gelar Distinguished Research Professor of Psychology oleh Boston university menyatakan ada faktor lain selain yang disebutkan di atas yang bisa dipakai untuk memprediksi kinerja seseorang yaitu MOTIVASI KERJA. Motivasi tersebut dipecah dalam 3 bagian yaitu; POWER (kekuasaaan), ACHIEVEMENT (Pencapaian) dan AFFILIATION (hubungan/pertalian). Motivasi ini sendiri mendorong seseorang dan menjadi sebuah faktor kunci terhadap performa kerja di kemuadian hari. Namun apa yang dikatakan orang-orang tentang motivasi tersebut bukanlah motivasi yang kelihatan hanya di permukaan saja; seperti hanya kebutuhan tentang uang. Hal ini dikarenakan motivasi yang dibicarakan disini sebagian besar berada di alam bawah sadar kita. Secara sederhana 3 hal tersebut bisa dijelaskan dengan;

.
1. Power (kebutuhan untuk mempengaruhi dan me-manage orang); Motivasi ini adalah motivasi tertinggi untuk menjadi seorang leader namun HANYA JIKA power tersebut mengatas namakan kebutuhan perusahaan…bukannya kepentingan pribadi.
2. Achievement (kebutuhan untuk menguasai dan memperbaiki di dalam semua usahanya); motivasi ini memberikan rasa kompetetif atau persaingan dimana akhirnya akan membantu tiap individu untuk memperluas ruang lingkupnya dengan tujuan baru dan ruang lingkup perbaikan (room of improvement).
3. Affiliation (kebutuhan untuk menciptakan dan menjaga hubungan yang baik dengan oranglain)
.
Namun demikian, kita sebenarnya tidak terlalu sadar akan motivasi-motivasi ini, sehingga memang tidak bisa dicari jawabannya hanya sekedar dengan menanyakan motivasi kerja. Yang bisa dilakukan adalah melakukan Thematic Apperception Test (TAT) untuk mengungkapkan motivasi di bawah alam sadar ini sehingga penempatan individu akan lebih maksimal dalam dunia kerja….
.
So..apa motivasi kerjamu?…..cari duit mungkin 99% jawaban orang indonesia wakakakak

.

.

Kang Danu

Tbk.Ftcm.e201712128.20:30

HAPPY IS WHO HAS OVERCOME HIS EGO

HAPPY IS WHO HAS OVERCOME HIS EGO

.
.
Sekali waktu pernah temanku bertanya “suka sekali sih kamu baca komik?….lha kok banyak kali buku seksiologi di rak?…. Ini Sutta Nippa ya?….wee…mulai suka photography kok bacanya sekarang gitu?…..gak capek ya kesana sini bawa buku?….apa sih enaknya baca buku?”
.
Kata orang bilang “buku adalah jendela ilmu”…gak tahu benar atau tidak…membaca buku dan tidak membatasi diri dalam buku atau karya sastra apa yang kita baca menurutku akan memberi perspektif pola pikir yang berbeda pada individu tersebut. Selain itu, dengan semakin banyaknya jenis buku yang di abaca, individu tersebut pastilah sampai di tahapan bisa menikmati bobot karya dari jenis sastra yang berbeda – beda. Dan hampir banyak buku yang kubaca, secara samar-samar sebetulnya kurasakan ada benang merah yang menghubungkan banyaknya pemikiran di luar sana, walaupun tidak kentara; terlebih lagi kalau karya sastra yang ada hubungannya dengan agama. Entah agama atau kepercayaan apapun juga, secara garis besar biasanya mengajarkan sesuatu yang baik secara teoretikal seperti artikel terakhir yang kubaca dari konteks agama ini.
.
Jika anda mengenal Siddharta Gautama, pastilah anda mengetahui agama Buddha yang kumaksud; tapi mungkin samar sama tentang ajarannya. Kalau anda pernah baca komik oleh pengarang doraemon berjudul BUDDHA, atau komik White Lamma, atau juga buku-buku karya Tsai Chih Cung pastilah anda bisa mengupas inti dari ajarannya.
.
Secara singkat Siddharta mengajarkan tentang ketidak egoisan diri sendiri dan keterlepasan dari kungkungan kebutuhan fisik di dunia ini dan lepas dari jeratan nafsu…seperti banyak orang bilang “harta mau dibawa kemana setelah mati?”. Dia menyebutkan 4 KEBENARAN SEJATI yang bisa dijadikan panduan, yaitu:

1. Penderitaan kita sebagai manusia itu sudah diwarisi sejak kita lahir, yaitu sakit, tua dan mati
2. Dan penyebab dari penderitaan tersebut adalah KEINGINAN atas kenikmatan seksual, keterikatan terhadap benda-benda duniawi dan juga kekuasaan.
3. Penderitaan ini bisa diakhiri dengan melepaskan diri atas keinginan nafsu dan juga keterikatan tadi.
4. dan 8 panduan jalan (eightfold path) mempunyai tujuan untuk menghilangkan keinginan dan mengatasi ego kita
.
keempat kebenaran diatas disebut dengan Dukka – Samudaya – Nirodha – Magga.
.
walaupun secara teoretikal memang bagus dan ada perasaan menerima apa yang kita punya dari yang di Atas, prakteknya pastinya menjadi suatu tantangan tersendiri…terlebih lagi di dunia modern seperti sekarang dimana hampir seluruhnya diukur dari status dan kepemilikan. tapi bukannya kita tidak bisa berlatih khan….
.
Ada kemiripan dari semua ajaran….bahkan dari pengajaran orang tua kita aku rasa ada satu dua yang mendekati. Terlebih lagi si Siddharta juga menyampaikan panduan yang bisa kita latihkan yang disebut diatas tadi dengan nama Eightfold Path… Pencapain keberhasilah dari langkah-langkah ini tidakklah suatu cara yang sangat ekstrim, tapi langkah sederhana yang meliputi:
1. Berpikir dengan benar
2. Bertindak dengan benar
3. Memiliki Niat yang benar
4. Hidup dengan benar
5. Berusaha dengan benar
6. Berkonsentrasi dengan benar
7. Berbicara dengan benar
8. memahami dengan benar
.
dan seperti saya bilang tadi….entah agamanya apa…pastilah orang tua kita pernah memberikan pasal-pasal diatas secara langsung atau tidak langsung, tersurat maupun tersirat dengan Bahasa mereka. Bahkan nilai nilai ajaran tersebut tersebat seantero dunia dalam bentuk cerita, legenda, maupun fakta. Tinggal kemauan kita untuk melihat, menelaah dan juga meneraimanya. Tidak terlepas dari semua buku suci dari masing-masing agama.
.
so,….benang merah yang saya sebutkan paling tidak satu yang sudah terlihat….pengajaran yang bagus dan kehidupan yang baik…bahkan ketika kita bicara hal yang paling tabu sekalipun atau buku yang paling jorok sekalipun…selama kita bisa menggambil intisarinya dan ilmunya… why not? Jadi siapa yang bahagia adalah orang-orang yang bisa melepaskan egonya dan mau membuka diri untuk tidak terikat dan bisa melihat segala kemungkinan dan pandangan dari berbagai macam sisi untuk sekedar memahami bahw tidak semuanya itu ‘aku’.

.

.

Tbk.Pcms.e20171225.21:29

TO BE HUMAN IS TO FEEL INFERIOR

TO BE HUMAN IS TO FEEL INFERIOR

.
.
Pastilah banyak dari kita sering mendengar istilah “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” untuk meyatakan kemiripan anak atas orangtuannya…entah dari fisik atau perlakuan dalam norma masyarakat. Namun, banyak juga yang beranggapan bahwa perkembangan seseorang juga tergantung dari masyarakat sekitar dimana dia bertumbuh, tidak semena-mena karena bibit yang bagus menghasilkan produk yang bagus. Dan, mungkinkah teori ideal diatas ini yang menjadi satu dari banyak alasan kenapa keluarga bermasalah menciptakan anak bermasalah…keluarga harmonis menciptakan anak yang berkualitas…untukku sih kadang cuma omong kosong belaka. Tidak semua lingkungan yang jelek menciptakan pribadi yang rusak…dan berapa kali sih kita dengar berita tentang anak yang diam di rumah…penurut….tahunya memperkosa pacarnya. Contoh yang lumayan ekstrim sih, tapi bukan berarti tidak ada ….Terlepas dari dukungan sekitar dimana seseorang tumbuh…kita juga harus melihat kedalam diri sendiri…apakah kita sendiri mempunyai rasa percaya diri yang cukup untuk dijadikan tumpuan untuk berkembang dan tumbuh…dan syukur syukur didukung keluarga dan lingkungan yang baik.

.
Alfred Adler adalah orang yang pertama kali yang mengembangkan teori yang sebelumnya dibuat oleh penganut Sigmond Freud dimana dia mengatakan bahwa kejiwaan (psikologi) seseorang juga dipengaruhi oleh kekuatan sadar dan saat ini (present), termasuk juga pengaruh sosial dan lingkungan sekitar yang sama sama pentingnya. Ketertarikan Adler dimulai ketika dia menangani pengaruh self-esteem (kepercayaan diri) yang positif dan negative terhadap pasiennya yang cacat fisik. Disitu dia melihat beberapa orang mampu mencapai keberhasilan dengan sukses, sedangkan sebagian lainnya merasa biasa atau cenderung tidak berhasil dalam merubah nasib/situasi. Motivasi yang kuat yang menjadi kuncinya. Disini Adler melihat sarinya bahwa perbedaan keberhasilan tersebut berasal dari sisi dimana individu tersebut MELIHAT DIRI MEREKA SENDIRI; dengan kata lain KEPERCAYAAN DIRI MEREKA SENDIRI (Self – esteem).

.
Menurut Adler, perasaan inferior (rendah diri) sebenarnya perasaan yang universal atau umum mendunia yang merupakan bagian dari pengalaman menjadi manusia dan berakar ketika kita masih anak-anak. Anak kecil biasanya merasa rendah diri karena mereka secara terus-menerus dikelilingi oleh orang-orang yang jauh lebih kuat dan berkemampuan yang disertai dengan macam-macam keahliah-keahlian. Namun, seorang anak biasanya akan mencoba meniru pencapaian yang mereka lihat dari orang yang lebih tua di sekitar mereka (orang tua – lingkungan), termotivasi atas sekitar untuk mengembangkan dirinya sendiri dan akhirnya mencapai suatu tahap perkembangan. Anak-anak dan orang dewasa dengan kejiwaan yang sehat dan seimbang mendapatkan kepercayaan diri tiap kali mereka menyadari bahwa mereka bisa mengatasi masalah dan menggapai suatu tujuan. Perasaan inferior menghilang sampai nantinya muncul kembali rintangan ataupun kendala yang perlu diatasi; dan proses ini adalah proses berkesinambungan sejalan dengan perkembanagn fisik mereka. Dilain pihak, seseorang yang mempunyai keminderan atas cacat fisik yang mereka punyai biasanya akan menggembangkan sikap rendah diri yang nantinya mengacu pada ketidakseimbangan kejiwaan yang disebut dengan istilah “Inferiority complex”…suatu tahapan dimana perasaan rendah diri tidak menghilang. Disini Adler juga mengenali “inferiority complex” juga muncul di dalam bentuk kebutuhan untuk berjuang keras untuk mencapai suatu tujuan, dan ketika tercapai, tujuan akhir ini tidak memberikan kepercayaan diri kepada seseorang, tetapi malah mendorong orang tersebut untuk mencari pengakuan dan pencapaian lebih jauh dari pihak luar. Yang disebut disini adalah terlalu berusaha dan “ngoyo”…hanya untuk mendapatkan pengakuan.
.
sederhananya..percaya diri dibutuhkan…tapi terlalu percaya diri juga menimbulkan masalah. Dan kalau dilihat lebih teliti…dibutuhkan peran masyarakat sekitar dan keluarga dalam bentuk “penerimaan”. Pengucilan atas kekurangan fisik dan pola pikir kadang menjadi dilemma dalam perkembangan diri untuk bisa dan mampu menerima diri sendiri….dan kembali ke diri sendiri….apakah kita termotifasi dan memotifasi diri kita sendiri untuk lebih besar dan sukses…. So..tanamkan dalam diri sendiri bahwa “everything is going to be fine”

.

.

Tbk.Pcm.e20171215.21:17

ID, EGO dan SUPEREGO

ID, EGO dan SUPEREGO
.

.
Kebetulan saya sedang baca-baca buku tentang psikologi yang membawa sedikit ingatanku kepada skripsi yang dulu pernah kubuat yang masuk ke dalam kategori literatur dimana kebetulan membahas tengang psikologi karakter dalam perselingkuhan yang dilakukan karakter di dalam sebuah drama. Dan tidak lupa juga setumpuk skripsi para senior yang kubaca di perpustakaan. Satu nama yang cukup dominan kulihat dipergunakan adalah Sigmund Freud.
.
Bagi yang sudah mengenal Sigmund Freud (1856-193) pasti sudah paham beberapa sumbangsih yang dia berikan didalam bidang psychoanalysis, salah satunya adalah prisip ID, EGO dan SUPEREGO yang dulu kupakai sebagai salah satu pendekatan psikologi. Dia mengatakan bahwa pikiran (mind) seperti halnya gunung es yang mengapung dimana hanya sepertujuhnya saja yang terlihat sedangkan sisanya terkubur di bawah permukaan air.
.
Secara sederhana bisa dijelaskan bahwa ID (yang digerakkan oleh insting primitif) mengikuti aturan Prinsip Kesenangan (Pleasure Principle) dimana dia mengejar kesenangan, dimana semua keinginan harus dipenuhi saat ini juga. ID menginginkan kepuasan untuk mendapatkan sesuatu pada saat ini juga. Namun, bagian lain dari struktur mental yaitu EGO, mengenal Pinsip Realitas (Reality Principle) yang menyatakan bahwa kita tidak bisa mendapatkan segala yang kita inginkan tetapi hal tersebut juga harus disesuaikan dengan dunia dimana kita tinggal. ID berkongsinyasi dengan EGO, mencoba untuk menemukan cara yang masuk akal untuk mendapatkan apa yang kita inginkan tanpa menciptakan kerusakan atau konsekuensi negatif lainnya. sedangkan EGO itu sendiri dikendalikan oleh SUPEREGO, suatu pemahaman dari orang tua dan kode-kode moral masyarakat. SUPEREGO adalah sebuah suara penilai dan merupakan sumber dari kesadaran kita,perasaan bersalah dan malu.
.
mungkin ID seperti anak kecil yang ingin mainan sekarang…dan saat itu juga…sampai menangispun dia tak perduli jika banyak orang melihat. Jika diruntutkan dengan perkembangan fisiknya, anak kecil yang merengek-rengek minta mainan di pasar sambil “ngintil”mbok-nya yang berjalan tidak perduli mungkin bisa dibilang wajar karena sesuai juga dengan perkembangan psikolognya…bukan berarti dia nakal atau terlalu diabaikan. Memang, peran orang tua juga sangat besar untuk pelan – pelan mengajarkan mana yang baik-mana yang salah. Mana yang wajar…mana yang memalukan. Sedangkan ketika sang anak beranjak dewasa diapun akhirnya mulai belajar untuk bisa memilah apakah keinginan itu bisa ditunda atau tidak…dan itu dipengaruhi oleh perkataan orang  tua kita dan juga nilai-nilai kepantasan di dalam masyratakat yang dianut.
.
Saya rasa peran serta kita sebagai “Cik Gu” atau Pak dan Bu Guru turut andil juga disini karena jika diingat…hampir seperempat hari bahkan lebih…masing-masing anak berinteraksi dengan guru di kelas…belum lagi yang oleh orang tuanya di-plot langsung kursus sampai sore sekalian karena orang tuanya yang kadang terlalu sibuk untuk sekedar mengurus mereka atau tidak punya pembantu jikapun mamak-mamaknya harus manikur-pedikur. Kalau sudah kasus seperti ini ya jangan bilang “kok anak saya beda banget sama bapak-nya dan mamaknya ini ya?”…..habis sepanjang hari bergaul dengan si Inem pelayan seksi….atau bajaj bajuri di ujung gang.
.
Nah pernah sadar kenapa para koruptor tidak punay rasa malu???…mungkin mereka kurang kadar SUPEREGOnya tetapi kelebihan ID-nya…

.

.

Kang Danu

Tbk.e20171210.20:54

KELANA

KELANA

.

.

Akulah sang dewa

Dengan kuas bisa kutuliskan iya

Dan pastinya kaupun ‘kan bahagia

Entah sekarang atau untuk selamanya

.

Aku juga sang pengelana

Yang mengembara kemanapun aku suka

Tapi ingin kutemukan sebuah suaka

Dimana aku bisa diam dan membuka jiwa

.

walapun aku sang dewa kelana

Namun ingin kuletakkan sang nama

Berdiam diri disebuah petak yang ada

Membuka sebuah peraduan berdua

.

Entah dewa ataupun sang pengelana

Keduanya tidakklah berati saat ini juga

Karena kutemukan yang telah memberiku makna

Bahwa berhenti juga memberikan bahagia

.

.

Seto Danu
Batam.LK.22.5.11.22:01

 

SELAMAT TINGGAL TV-KU

SELAMAT TINGGAL TV-KU

.

Makasih ya ‘mbak…

.

Seporsi mie goreng yang telah kupesan beberapa menit yang lalu, lengkap dengan dua iris mentimun dan telur mata sapi yang diolesi saos tomat yang membentuk garis lengkung seperti senyumam, telah datang diantar oleh pelayan yang selalu sama orangnya. ‘Tak lama kemudian pastilah tangan kiriku (kebiasaan makan pake’ tangan kiri) bakalan sibuk meng-garpu-i seporsi penuh mie goreng yang masih mengepulkan bongkahan asap tipis dari dalamnya. Tak kalah serunya tangan kananku sibuk menuliskan apa yang sedang kuketik saat ini. Garpu di tangan kiri, mouse dan key-pad menjadi makanan tangan kananku. Telah kunikmati kegiatan seperti ini berkali-kali jika nongkrong menghabiskan waktu di warnet plus caffe ini. Kadang jika ada uang lebihan dikit…sekalian pesan kentang goreng. Satu yang tak pernah lupa, es teh wajib ada di samping layar computer walaupun hasil lihat kolong lemari untuk mencari sisa uang yang jatuh.

.

Sedihnya, ini mungkin mie goreng terakhir warnet ini yang akan kumakan. Mungkin. Besok pagi jam 5 subuh aku berangkat ke Yogyakarta karena sudah habis kontrak kerjaku di kota ini… dan …ya pulang kampung ceritanya. Pastilah bakalan kurindukan mie goreng Rp 7.500-an ini, dan kentang gorengnya, dan juga es tehnya karena merekalah yang berjasa mengisi perutku yang tiba-tiba lapar tak terkira tetapi masih asik dengan acara selancar di internet. Kalau dilihat hari-hari belakangan ini, mungkin bisa disebut minggu “selamat tinggal”-ku. Selamat tinggal TV-ku tersayang yang akhirnya dibeli oleh ‘mbaknya yang sering cuci baju dan setrika di kost. TV-ku yang sudah berjuang mati-matian menemaniku hampir tiap malam karena insomniaku yang kadang parahnya minta ampun. TV-ku yang sepanjang sabtu-minggu ‘nyala 24 jam karena yang punya tidak ada kerjaan selain melingkar di kasur sambil menekan-nekan barisan tombol yang ada di remote. TV-ku yang telah menyajikan saluran-saluran kesayanganku setahun ini yang tertata rapi dalam memorinya mulai dari channel 1 sampai 30. TV-ku yang dengan sabarnya membolak-balik halaman HBO – Discovery Channel – Star Movie – Animal Planet – dan beberapa chanel fave-ku. TV-ku yang dengan lantang meneriakkan bait-bait kata lagu mp3 mulai dari Bang Toyip sampai Hysteria-nya Muse, dan dengan penuh pengertiannya diam dalam bisu ketika film panas masuk dalam DVD player di bawahnya. Selamat tinggal TV-ku yang dulunya kubeli hasil ngutang cicil 2 kali sama boss …You’ve saved my fuckin’ days in this Samarinda.

.

Sayangnya, TV-ku bukan satu satunya yang kuucapkan selamat tinggal. Selamat tinggal warung nasi goreng langgananku yang buka ampe jam 3 pagi dimana aku biasanya meraup suapan nasi karena jatah tidurku yang sudah basi. Selamat tinggal kolam ikan panjang-ku yang meng-inspirasi-ku untuk membuat beberapa tulisan dan puisi, dan juga beberapa kenalan tukang pancing. Selamat tinggal kipas angin kecil-ku yang dulunya juga merupakan warisan dari teman, dan sekarang kuwariskan ke teman yang lain. Selamat tinggal ember kecil tempat pakaian kotor yang kubeli pertama kali karena jatuh cinta pada warna ungu-nya yang cantik. Selamat tingal 2 dumbel 9 kilo-an yang telah memeras keringatku kala kucoba untuk mengerakkan otot yang kaku, dan sekarang pindah ke teman yang sedang merancang program olah raga mulai Desember ini. Selamat tinggal sepatu Nike-ku yang diberi oleh teman dan tidak pernah terpakai karena kebesaran, untungnya masih kebeli orang Rp.100.000. Selamat tinggal kumpulan komik yang sudah kubeli selama satu tahun-an ini karena sebagian besar tidak bisa terangkut pulang dan nongkrong di meja orang. Selamat tinggal karpet tempatku tidur karena tidak biasa tidur di kasur. Selamat tinggal kasur merahku, maafkan daku karena kau lebih banyak bersandar di dinding daripada kutiduri….ehmmm. Selamat tinggal lemari yang telah menyembunyikan pakaianku selama ini dan termasuk juga majalah FHM luar negeri itu. Selamat tinggal gambar besar Samurai X hasil tanganku sendiri yang selama ini terus saja tersenyum walaupun sering wajahmu dilintasi sang cicak yang dengan santainya melenggang di jalan bebas hambatan itu. Selamat tinggal Mall Lembuswana yang pertama kali kukira Mall sapi karena aku menangkap kata Lembu dan Wana yang merupakan satu-satunya pelarianku dari jenuhnya kota Samarinda yang berdiri tanpa tempat wisata, selain tepian Mahakam. Selamat tingal warnet speedy yang telah memberikan 7 voucer untuk diperebutkan, dan itu masih kurang 43 kartu lagi untuk jadi yang terdepan dengan tiket pulang dan uang senang. Selamat tinggal jalanan yang seringnya tenggelam di bawah air jika hujan tidak kuasa untuk berhenti setelah satu jam-an. Selamat tinggal Video Eazy yang telah menyediakan serial Friends komplit dan film lain, walaupun kadang kala dikau memberikan denda yang luar biasa dikala terlambat mengembalikannya. Dan masih banyak segudang selamat tinggal yang ingin kuucapkan kepada yang lainnya….dan tentu saja selamat tinggal vespa-ku tersayang…maafkan aku yang tak bisa memboyongmu ke Jawa.

.

Kenapa sih harus ada kata selamat tinggal? Kenapa harus ada perubahan? Kenapa harus ada pergeseran dan pertumbuhan? Dan kenapa juga aku harus mengucapkan selamat tinggal? Tapi, jikapun itu tak ada artinya, kenapa kata-kata selamat tinggak harus ada. Apakah selamat tinggal ada karena memang harus ada yang ditinggalkan di belakang?  Jadi bagaimanapun juga kata-kata selamat tinggal emang diperlukan? Kembali ke dalam kata-kata selamat tinggal, jika kita mau sedikit melihat di sekitar kita, tidak ada yang tidak bisa selamat dari kata selamat tinggal. Kita mengucapkan selamat tinggal dalam bayak cara. Sebagian orang mengartikannya dalam isakan tangis, dan sebagian lainnya dalam gelak tawa. Selamat tinggal untuk sang sahabat, keluarga, ayah, ibu dan bayak orang lain lagi. Selamat tinggal terhadap pekerjaan kita yang kita tinggalkan di belakang karena banyak alasan dan kadangkala karena keterpaksaan. Selamat tinggal pada usia yang lalu yang kita rayakan dengan penuh suka cita, namun kita lupa bahwa kita sebenarnya sedang mengucapkan selamat datang pada kematian. Selamat tinggal tahun yang lalu dengan harapan adanya  kebaikan di masa yang akan datang. Selamat tinggal tidak selalu berarti kesedihan, tinggal bagaimana kita memandang selamat tinggal tersebut. Dualitas. Selamat tinggal muncul karena adanya perubahan, dan perubahan itu bagus adanya dalam dunia ini. Perubahan menunjukkan kita memang berkembang dan bergerak dinamis daripada statis. Dengan resiko apapun juga ada kalanya kita memang perlu untuk berani mencoba sesuatu yang baru, yang belum pernah dilakukan, atau bahkan sekedar untuk memuaskan rasa penasaran. Jika kita memang melihat apa yang kita punya saat ini statis dan tidak menghasilkan apapun juga, selamat tinggal sepertinya kata yang pantas untuk dipikirkan. Selamat tinggal akan selalu melekat dengan diri kita. Untuk segala sesuatu yang jelek, ada baiknya kita menyematkan kata selamat tinggal. Untuk semua yang baik, aku tidak mau berhenti di dalam kata-kata “Selamat Tinggal”…ingin kulanjutkan dengan sebaris kata “semoga kita bertemu lagi suatu waktu”. Semoga juga nantinya kutemukan lagi TV-ku dalam bentuk yang baru.

.

<SAN>        “Mas, chees-burgernya ada gak ya mas? Kalau ada pesen Satu”

<SERVER>   “Burgernya kosong”

<SAN>        “ya dah, kalau gitu pisang gapitnya satu porsi”

<SERVER>   “ok”

<SAN>        “thanks”

.

 

Kang Danu

Samarinda.warnet.20161121.21:01