ID, EGO dan SUPEREGO

ID, EGO dan SUPEREGO
.

.
Kebetulan saya sedang baca-baca buku tentang psikologi yang membawa sedikit ingatanku kepada skripsi yang dulu pernah kubuat yang masuk ke dalam kategori literatur dimana kebetulan membahas tengang psikologi karakter dalam perselingkuhan yang dilakukan karakter di dalam sebuah drama. Dan tidak lupa juga setumpuk skripsi para senior yang kubaca di perpustakaan. Satu nama yang cukup dominan kulihat dipergunakan adalah Sigmund Freud.
.
Bagi yang sudah mengenal Sigmund Freud (1856-193) pasti sudah paham beberapa sumbangsih yang dia berikan didalam bidang psychoanalysis, salah satunya adalah prisip ID, EGO dan SUPEREGO yang dulu kupakai sebagai salah satu pendekatan psikologi. Dia mengatakan bahwa pikiran (mind) seperti halnya gunung es yang mengapung dimana hanya sepertujuhnya saja yang terlihat sedangkan sisanya terkubur di bawah permukaan air.
.
Secara sederhana bisa dijelaskan bahwa ID (yang digerakkan oleh insting primitif) mengikuti aturan Prinsip Kesenangan (Pleasure Principle) dimana dia mengejar kesenangan, dimana semua keinginan harus dipenuhi saat ini juga. ID menginginkan kepuasan untuk mendapatkan sesuatu pada saat ini juga. Namun, bagian lain dari struktur mental yaitu EGO, mengenal Pinsip Realitas (Reality Principle) yang menyatakan bahwa kita tidak bisa mendapatkan segala yang kita inginkan tetapi hal tersebut juga harus disesuaikan dengan dunia dimana kita tinggal. ID berkongsinyasi dengan EGO, mencoba untuk menemukan cara yang masuk akal untuk mendapatkan apa yang kita inginkan tanpa menciptakan kerusakan atau konsekuensi negatif lainnya. sedangkan EGO itu sendiri dikendalikan oleh SUPEREGO, suatu pemahaman dari orang tua dan kode-kode moral masyarakat. SUPEREGO adalah sebuah suara penilai dan merupakan sumber dari kesadaran kita,perasaan bersalah dan malu.
.
mungkin ID seperti anak kecil yang ingin mainan sekarang…dan saat itu juga…sampai menangispun dia tak perduli jika banyak orang melihat. Jika diruntutkan dengan perkembangan fisiknya, anak kecil yang merengek-rengek minta mainan di pasar sambil “ngintil”mbok-nya yang berjalan tidak perduli mungkin bisa dibilang wajar karena sesuai juga dengan perkembangan psikolognya…bukan berarti dia nakal atau terlalu diabaikan. Memang, peran orang tua juga sangat besar untuk pelan – pelan mengajarkan mana yang baik-mana yang salah. Mana yang wajar…mana yang memalukan. Sedangkan ketika sang anak beranjak dewasa diapun akhirnya mulai belajar untuk bisa memilah apakah keinginan itu bisa ditunda atau tidak…dan itu dipengaruhi oleh perkataan orang  tua kita dan juga nilai-nilai kepantasan di dalam masyratakat yang dianut.
.
Saya rasa peran serta kita sebagai “Cik Gu” atau Pak dan Bu Guru turut andil juga disini karena jika diingat…hampir seperempat hari bahkan lebih…masing-masing anak berinteraksi dengan guru di kelas…belum lagi yang oleh orang tuanya di-plot langsung kursus sampai sore sekalian karena orang tuanya yang kadang terlalu sibuk untuk sekedar mengurus mereka atau tidak punya pembantu jikapun mamak-mamaknya harus manikur-pedikur. Kalau sudah kasus seperti ini ya jangan bilang “kok anak saya beda banget sama bapak-nya dan mamaknya ini ya?”…..habis sepanjang hari bergaul dengan si Inem pelayan seksi….atau bajaj bajuri di ujung gang.
.
Nah pernah sadar kenapa para koruptor tidak punay rasa malu???…mungkin mereka kurang kadar SUPEREGOnya tetapi kelebihan ID-nya…

.

.

Kang Danu

Tbk.e20171210.20:54

KELANA

KELANA

.

.

Akulah sang dewa

Dengan kuas bisa kutuliskan iya

Dan pastinya kaupun ‘kan bahagia

Entah sekarang atau untuk selamanya

.

Aku juga sang pengelana

Yang mengembara kemanapun aku suka

Tapi ingin kutemukan sebuah suaka

Dimana aku bisa diam dan membuka jiwa

.

walapun aku sang dewa kelana

Namun ingin kuletakkan sang nama

Berdiam diri disebuah petak yang ada

Membuka sebuah peraduan berdua

.

Entah dewa ataupun sang pengelana

Keduanya tidakklah berati saat ini juga

Karena kutemukan yang telah memberiku makna

Bahwa berhenti juga memberikan bahagia

.

.

Seto Danu
Batam.LK.22.5.11.22:01

 

SELAMAT TINGGAL TV-KU

SELAMAT TINGGAL TV-KU

.

Makasih ya ‘mbak…

.

Seporsi mie goreng yang telah kupesan beberapa menit yang lalu, lengkap dengan dua iris mentimun dan telur mata sapi yang diolesi saos tomat yang membentuk garis lengkung seperti senyumam, telah datang diantar oleh pelayan yang selalu sama orangnya. ‘Tak lama kemudian pastilah tangan kiriku (kebiasaan makan pake’ tangan kiri) bakalan sibuk meng-garpu-i seporsi penuh mie goreng yang masih mengepulkan bongkahan asap tipis dari dalamnya. Tak kalah serunya tangan kananku sibuk menuliskan apa yang sedang kuketik saat ini. Garpu di tangan kiri, mouse dan key-pad menjadi makanan tangan kananku. Telah kunikmati kegiatan seperti ini berkali-kali jika nongkrong menghabiskan waktu di warnet plus caffe ini. Kadang jika ada uang lebihan dikit…sekalian pesan kentang goreng. Satu yang tak pernah lupa, es teh wajib ada di samping layar computer walaupun hasil lihat kolong lemari untuk mencari sisa uang yang jatuh.

.

Sedihnya, ini mungkin mie goreng terakhir warnet ini yang akan kumakan. Mungkin. Besok pagi jam 5 subuh aku berangkat ke Yogyakarta karena sudah habis kontrak kerjaku di kota ini… dan …ya pulang kampung ceritanya. Pastilah bakalan kurindukan mie goreng Rp 7.500-an ini, dan kentang gorengnya, dan juga es tehnya karena merekalah yang berjasa mengisi perutku yang tiba-tiba lapar tak terkira tetapi masih asik dengan acara selancar di internet. Kalau dilihat hari-hari belakangan ini, mungkin bisa disebut minggu “selamat tinggal”-ku. Selamat tinggal TV-ku tersayang yang akhirnya dibeli oleh ‘mbaknya yang sering cuci baju dan setrika di kost. TV-ku yang sudah berjuang mati-matian menemaniku hampir tiap malam karena insomniaku yang kadang parahnya minta ampun. TV-ku yang sepanjang sabtu-minggu ‘nyala 24 jam karena yang punya tidak ada kerjaan selain melingkar di kasur sambil menekan-nekan barisan tombol yang ada di remote. TV-ku yang telah menyajikan saluran-saluran kesayanganku setahun ini yang tertata rapi dalam memorinya mulai dari channel 1 sampai 30. TV-ku yang dengan sabarnya membolak-balik halaman HBO – Discovery Channel – Star Movie – Animal Planet – dan beberapa chanel fave-ku. TV-ku yang dengan lantang meneriakkan bait-bait kata lagu mp3 mulai dari Bang Toyip sampai Hysteria-nya Muse, dan dengan penuh pengertiannya diam dalam bisu ketika film panas masuk dalam DVD player di bawahnya. Selamat tinggal TV-ku yang dulunya kubeli hasil ngutang cicil 2 kali sama boss …You’ve saved my fuckin’ days in this Samarinda.

.

Sayangnya, TV-ku bukan satu satunya yang kuucapkan selamat tinggal. Selamat tinggal warung nasi goreng langgananku yang buka ampe jam 3 pagi dimana aku biasanya meraup suapan nasi karena jatah tidurku yang sudah basi. Selamat tinggal kolam ikan panjang-ku yang meng-inspirasi-ku untuk membuat beberapa tulisan dan puisi, dan juga beberapa kenalan tukang pancing. Selamat tinggal kipas angin kecil-ku yang dulunya juga merupakan warisan dari teman, dan sekarang kuwariskan ke teman yang lain. Selamat tinggal ember kecil tempat pakaian kotor yang kubeli pertama kali karena jatuh cinta pada warna ungu-nya yang cantik. Selamat tingal 2 dumbel 9 kilo-an yang telah memeras keringatku kala kucoba untuk mengerakkan otot yang kaku, dan sekarang pindah ke teman yang sedang merancang program olah raga mulai Desember ini. Selamat tinggal sepatu Nike-ku yang diberi oleh teman dan tidak pernah terpakai karena kebesaran, untungnya masih kebeli orang Rp.100.000. Selamat tinggal kumpulan komik yang sudah kubeli selama satu tahun-an ini karena sebagian besar tidak bisa terangkut pulang dan nongkrong di meja orang. Selamat tinggal karpet tempatku tidur karena tidak biasa tidur di kasur. Selamat tinggal kasur merahku, maafkan daku karena kau lebih banyak bersandar di dinding daripada kutiduri….ehmmm. Selamat tinggal lemari yang telah menyembunyikan pakaianku selama ini dan termasuk juga majalah FHM luar negeri itu. Selamat tinggal gambar besar Samurai X hasil tanganku sendiri yang selama ini terus saja tersenyum walaupun sering wajahmu dilintasi sang cicak yang dengan santainya melenggang di jalan bebas hambatan itu. Selamat tinggal Mall Lembuswana yang pertama kali kukira Mall sapi karena aku menangkap kata Lembu dan Wana yang merupakan satu-satunya pelarianku dari jenuhnya kota Samarinda yang berdiri tanpa tempat wisata, selain tepian Mahakam. Selamat tingal warnet speedy yang telah memberikan 7 voucer untuk diperebutkan, dan itu masih kurang 43 kartu lagi untuk jadi yang terdepan dengan tiket pulang dan uang senang. Selamat tinggal jalanan yang seringnya tenggelam di bawah air jika hujan tidak kuasa untuk berhenti setelah satu jam-an. Selamat tinggal Video Eazy yang telah menyediakan serial Friends komplit dan film lain, walaupun kadang kala dikau memberikan denda yang luar biasa dikala terlambat mengembalikannya. Dan masih banyak segudang selamat tinggal yang ingin kuucapkan kepada yang lainnya….dan tentu saja selamat tinggal vespa-ku tersayang…maafkan aku yang tak bisa memboyongmu ke Jawa.

.

Kenapa sih harus ada kata selamat tinggal? Kenapa harus ada perubahan? Kenapa harus ada pergeseran dan pertumbuhan? Dan kenapa juga aku harus mengucapkan selamat tinggal? Tapi, jikapun itu tak ada artinya, kenapa kata-kata selamat tinggak harus ada. Apakah selamat tinggal ada karena memang harus ada yang ditinggalkan di belakang?  Jadi bagaimanapun juga kata-kata selamat tinggal emang diperlukan? Kembali ke dalam kata-kata selamat tinggal, jika kita mau sedikit melihat di sekitar kita, tidak ada yang tidak bisa selamat dari kata selamat tinggal. Kita mengucapkan selamat tinggal dalam bayak cara. Sebagian orang mengartikannya dalam isakan tangis, dan sebagian lainnya dalam gelak tawa. Selamat tinggal untuk sang sahabat, keluarga, ayah, ibu dan bayak orang lain lagi. Selamat tinggal terhadap pekerjaan kita yang kita tinggalkan di belakang karena banyak alasan dan kadangkala karena keterpaksaan. Selamat tinggal pada usia yang lalu yang kita rayakan dengan penuh suka cita, namun kita lupa bahwa kita sebenarnya sedang mengucapkan selamat datang pada kematian. Selamat tinggal tahun yang lalu dengan harapan adanya  kebaikan di masa yang akan datang. Selamat tinggal tidak selalu berarti kesedihan, tinggal bagaimana kita memandang selamat tinggal tersebut. Dualitas. Selamat tinggal muncul karena adanya perubahan, dan perubahan itu bagus adanya dalam dunia ini. Perubahan menunjukkan kita memang berkembang dan bergerak dinamis daripada statis. Dengan resiko apapun juga ada kalanya kita memang perlu untuk berani mencoba sesuatu yang baru, yang belum pernah dilakukan, atau bahkan sekedar untuk memuaskan rasa penasaran. Jika kita memang melihat apa yang kita punya saat ini statis dan tidak menghasilkan apapun juga, selamat tinggal sepertinya kata yang pantas untuk dipikirkan. Selamat tinggal akan selalu melekat dengan diri kita. Untuk segala sesuatu yang jelek, ada baiknya kita menyematkan kata selamat tinggal. Untuk semua yang baik, aku tidak mau berhenti di dalam kata-kata “Selamat Tinggal”…ingin kulanjutkan dengan sebaris kata “semoga kita bertemu lagi suatu waktu”. Semoga juga nantinya kutemukan lagi TV-ku dalam bentuk yang baru.

.

<SAN>        “Mas, chees-burgernya ada gak ya mas? Kalau ada pesen Satu”

<SERVER>   “Burgernya kosong”

<SAN>        “ya dah, kalau gitu pisang gapitnya satu porsi”

<SERVER>   “ok”

<SAN>        “thanks”

.

 

Kang Danu

Samarinda.warnet.20161121.21:01

EMPAT TAHAP PERKEMBANGAN

EMPAT TAHAP PERKEMBANGAN
.

.
eh..di mall liat anak yang asyik ‘ngupil jadi ingat dulu jaman kuliah dikasih teori child development dimana konsentrasi kesenangan seharusnya berubah sesuai dengan perkembangannya…tapi ini bukan anak kecil…udah segede bagong gitu tapi asik ngupil tanpa pamrih kanan kiri..ada yang salah tuh…
.
Tapi yang ingin kutulis bukan teori yang itu (nanti kapan-kapan), yang ingin kukutip adalah 4 tahapan perkembangan manusia yang dicatut oleh Jean Piaget yang dimulai dengan umur paling kecil, mereka adalah;
.
1. Tahap SENSORIMOTOR (2 tahun pertama kehidupan anak) dimana bayi belajar tentang dunia ini melalui sentuhan dan indra-indra yang lainnya yang diaplikasikan melalui tindakan fisik ataupun gerakan.
.
2. tahapan PRE-OPERATIONAL (tahun ke 2 sampai tahun ke 4) dimana anak-anak belajar untuk menyusun objek secara logis karena mereka sudah sadar diri dan mulai tertarik tentang bagaimana sesuatu terlihat dan nampak. Disini mereka juga mampu untuk membandingkan dua benda melalui persamaan atribut benda tersebut (warna, ukuran, bentuk). Pada masa ini mereka biasanya berpikiran absolut (contohnya definisi besar dan paling besar)..sedangkan usia ke-4 sampai 7 tahun pola pikirnya berkembang menjadi relatif (definisi lebih besar atau lebih berat)
.
3. Tahapan CONCRETE OPERATIONAL dimana seorang anak mampu melakukan / menunjukkan kegiatan yang logis, walaupun hanya dengan adanya kehadiran objek yang nyata. Mereka mulai memahami konsep percakapan, memahami bahwa jumlah benda tetap sama; tidak perduli ukurannya dan pengaturannya. Disini mereka mulai memahami adanya konsep relatif dalam objek keseharian seperti jumlah air yang sama walaupun ditempatkan di gelas yang berbeda bentuk. termasuk juga kemampuan sederhana dalam menyusun balok-balok.
.
4. Tahapan FORMAL OPERATIONAL dimana adanya perkembangan pemikiran yang hipotetis serta penjelasan alasan secara verbal. Disini mereka mulai memanipulasi ide-ide dan memberikan alasan murni berasal dari pernyataan verbal. Mereka tidak lagi memerlukan objek/benda dan tetap mampu mengikuti sebuah argumen/pembicaraan. kemampuan membicarakan sesuatu yang abstrak adalah bukti perkembangan itu.
.
hei…lagian omong-omong yang menjadikan manusia beda dengan mahluk lain salah satunya adalah kemampuan menyebutkan sesuatu yang abstrak (kalau bingung..bisa tanya saya hahahah)…

.
Trus anak yang ngupil di muka umum ada di tahap mana ya…Preoperational…bisa menyusun jari telunjuk ke dalam hidung??? Hahaha

.

.

Kang Danu

Tbk.pcm.e20171129.21:02

I TALK ABOUT YOU

I TALK ABOUT YOU

.

I talk about an angel
who I met and I love
may she becomes the one
I talk about an unwingged angel

.

I talk about a flower
that gives me a wonderful smell
and a bright color of passion
I talk about unthorned flower

.

I will love you to be here
just to stay and share
just to talk and feel
not to fly away the next day

.

I love you to be here
just to create and recreate
millions memories that untold
not to dry and die

.

would you be my angel
could you be my flower
when I am just a sinner
or simply a gardener

.

I know I cannot fly away
just to catch your breath
and make it mine
together in the same rhyme

.

I know I cannot care you a lot
cos whatever I have is what I got
It won’t enough to cover you
so the brighter flower I will see

.

I talk about an unwinged angel
I talk about an untorned flower
whom I love from afar
cos I just the watcher

.

.

Kang Danu
samarinda.warnet.20060430

THE ONES THAT MATTER

THE ONES THAT MATTER

.

Just ask yourself on the things that matter

Ones that you care more than the others

And yet you keep on missing it

Since you live for living it

.

The ones that you think are the ones

Ones that fulfill your empty feeling all the time

And yet you keep on begging it more

Cos the feeling is so wonderful as times

.

Don’t hide it under your bite

‘cos you know how soft it just needs

A bit of whispering wind on the ear

And a simple grab of thousands feels

.

Just think on those that matter

And put it in the correct pattern

No all need to be spoken

Yet you need to make it broken

.

Say it

And you will get it

Ask it

And you will receive it

.

Think ones that really matter

And live it for your life

Cos’ each of it is really matter

When you believe in its rhythm

.

.

Seto Danu
Batam.Lk.15.5.11.17:49

TIDURLAH DALAM SENYUMAN

TIDURLAH DALAM SENYUMAN

.

Dan biarkan sang malam turun dari peraduan

Dengan lembut membelai jutaan awan

Memberikan warna gelap ketenangan

berbaur dengan kerlipnya sang bintang jutaan

.

Selimutpun telah kubentangkan

Dan tubuhmupun telah kurebahkan

Dengan sedikit kata yang kuharapkan

berbisik pelan kucoba ucapkan

.

Sebuah sentuhan terasa sulit kutinggalkan

Dan wajahmupun mengembang senyuman

Walaupun sudah setengah di ufuk awan

Tetap kutangkap rasa senang di kejauhan

.

Sebuah kecupan kuberikan

Dan belaianpun tak kurang kulakukan

Tidurlah dalam kebahagiaan

Anakku yang tenang dalam peraduan

.

.

Kang Danu
Btm.office.20110523.12:20

 

MENGUPIL VS MENGUTIL

MENGUPIL VS MENGUTIL

.

Seorang wanita muda dengan semangat 45 dengan mantapnya melihat- lihat tumpukan buah anggur yang ada di lorong masuk sebuah swalayan di Samarinda ini, tepatnya Mall Lembuswana yang ada di depan kantor. Trus dilihat-lihat, ditimbang-timbang, diamati lagi, dielus-elus, diterawang-terawang dan ‘tak lama berselang jari jemarinya sudah sibuk memetik beberapa butir buah anggur tersebut. Beberapa petikan, buah-buah anggur tersebut trus pindah ke telapak tangan kanannya dan dengan semangat dia beranjak dari keranjang-keranjang berisi tumpukan buah anggur tersebut sembari membusungkan dada yang memang sudah cenderung membusung dari pabriknya dan mentransferkan beberapa biji buah anggur tersebut ke dalam rongga mulutnya …… nikmaattttt. Aku cuma terbengong di tempat. Selang beberpa detik kemudian…seorang bapak – bapak dengan anak laki-laki dan perempuannya juga terlihat berjalan mendekati keranjang-keranjang tersebut. Sembari ngobrol…tangan bapak dan anak perempuannya tak kalah sibuknya dengan ‘mbak – mbak yang pertama tadi untuk memilah mana buah anggur yang masih bagus…dan tak tanggung – tanggung, mereka memasukkan langsung ke dalam mulut mereka saat itu juga. Dilain pihak, si anak laki-lakinya tak kalah sibuknya memasukkan jari telunjuk tangan kanannya ke dalam hidungnya. dikorek-korek. sodok kanan sodok kiri…dia sibuk membersihkaan lubang hidungnya alias bahasa ‘ndeso-nya;  “Ngupil”.

.

Nah loh…anaknya sibuk mengupil bapaknya sibuk mengutil. Eit… bener gak ya istilahnya untuk mengutil kalau ditunjukkan untuk ‘mbak dan bapak ini. Apa sih bedanya mengupil dan mengutil selain huruf “P” dan “T”. Mengupil dan mengutil sama-sama kata kerja (mungkin) yang sejauh ini aku rasa memiliki adanya kesamaan dan perbedaan antara keduanya…sekali lagi kutekankan hanya pemikiranku saja tanpa mengacu pada referensi tertentu. Mengupil dan mengutil punya satu kesamaan, keduannya mengacu pada suatu kegiatan mengambil sesuatu. Sesuatu yang dimaksudkan disini adalah benda bernama Upil dan yang lain mungkin mengacu pada kata dasar “ngutil” yang artinya juga gak beda jauh dari mengutil, sedangkan kalau dipaksakan ke dalam kata dasar “util”, kok rasa-rasanya seperti bahasa Jawa yang artinya pelit. Ya, gak jauh juga sih dengan pelit karena saking pelitnya para pengutil memilih untuk mengambil barang  yang dipajang di supermarket, pasar atau toko tanpa berniat untuk membayar yang dikategorikan sebagai benda-benda yang diperjual-belikan.

.

Kalau bahasa ‘ndeso-nya mengupil itu “ngupil”, istilah keren Internasionalnya untuk kesibukan jenis ini adalah “picking the nose”. Sedangkan untuk mengutil disebut dengan “shoplifting” dan para pelakunya disebut  “shoplifter”. Keren gak, nyebut nyebut lift loh…kayak benda-benda yang digunakan untuk mengangkut dan memindahkan barang atau manusia dari tingkat ke tingkat lainnya. Tapi….mengutil sendiri khan juga tidak jauh berbeda dengan memindahkan barang dari rak ke dalam baju, kantong, dan bahkan celana dalam para pengutil. Untuk masalah perbedaan dari kedua kegiatan tersebut marilah kita bahas sebiji dulu. Satu kegiatan punya kecenderungan untuk tidak melanggar hukum, sedangkan yang lainnya jelas jelas di bawah kaki hukum. Mengupil yang dilakukan para pengupil memang cenderung tidak menyakiti orang lain karena yang diambil adalah propertinya sendiri, kecuali…kegiatan ini cenderung menyakiti mata-mata yang tidak sengaja menangkap tindakan tersebut, bahkan mungkin sampai mengakibatkan dampak stress dan sedikit marah-marah…ih… jijik ah!!!… Sedangkan mengutil sendiri dari segi hukum mana juga dan demi kepuasa siapapun juga akan ditimbang dalam neraca dewi keadilan yang ditutup matanya sebagai tindakan kriminal alis cacat hukum. Pelakunya bisa dikenai hukuman, baik secara ringan dari disuruh bantu-bantu di toko dimana dia mengutil, sampai tahanan kurungan di hotel yang lebih dikenal dengan Hotel Prodeo, alis di balik jeruji besi bang napi yang dulunya mungkin lebih dikenal dengan nama bang Toyib. Hukumannya juga cenderung bisa secara psikologi karena dipermalukan dan jelas ditonton oleh orang banyak…”oh ada yang ngutil tuh!! …mana mana mana??… Trus kenapa mereka melakukan itu, ngupil dan ngutil??

.

Mengutil biasanya muncul karena dorongan tanpa sadar manusianya itu sendiri, mungkin di satu sisi tanpa sadar tubuh sudah meminta hidung dibersihkan sehingga otak merancang suatu program terdaftar dan lulus uji klinis agar kita sadar diri untuk membersihkan hidung. Nah yang kontrol sosialnya kurang, tindakan itu bisa dilakukan di mana-mana, tanpa batasan ruang dan waktu, dan juga batasan usia…tapi kalau udah tua masih aja ngupil di tempat umum…apa gak perlu periksa ke dokter bagian dalam…maksudnya dalammmmmmmmmmmmmm sekali sampai ke bagian jiwa hahahahahahaah. Lebih jauh lagi, mengupil juga kadang bisa menyebabkan addict akut karena rasa puas yang muncul di akhir kegiatan dan nombok lagi nombok lagi. Dilain pihak untuk para shoplifter aku tahu-nya ada 2 kecenderungan kenapa mereka rela melakukan itu; yang pertama karena kecenderungan psikologisnya, jadi emang sudah sakit dari dalamnya makanya mereka menjadi shrinker dan melakukan “shringking” (istilah lain dari shiplifting) tersebut. Shrink salah satunya bisa diterjenahkan menjadi “menyusut” atau “menyusutkan”. Mereka memampatkan benda-benda yang ingin diambilnya trus disembunyikan ke dalam baju. Sebetulnya mereka sepertinya cenderung tidak butuh benda-benda tersebut, hanya kepuasan batin kalau bisa mengambil tanpa ketahuan. Alasan kedua kembali kepada alasan paling klisye…kebutuhan ekonomi yang mendesak dan kurangnya dukungan finansial sehingga mereka nekat melakukan itu. Nah apakah ‘mbak itu dan bapak itu masuk dalam kategori pengutil? Untukku mungkin bisa dibilang setengahnya iya karena mereka mengambil yang bukan haknya karena tidak membayar, tapi juga tidak menyembunyikan barang yang diambilnya dibalik baju, tapi dibalik lipatan lemak yang menumpuk di perut, maklum dua duanya masuk dalam kategori king “kong” size. Pengutil??

.

Pernahkan kamu mengupil? Kecenderungannya kita pernah merasakan pengalaman mendebarkan itu. Jadi pengutil? Ya, mungkin tidak banyak yang berbenturan dengan masalah ini. Tapi, pernahkan kita mengutil waktu? Mengutil uang? Mengutil kesempatan? Mengutil waktu kerja? Dan banyak lagi pengutil-pengutilan yang lainnya? Hahaha. Mungkin dalam taraf tertentu hampir kita semua bisa dibilang pengutil, atau paling tidak kita pernah merasakan menjadi pengutil…kok bisa? Basic ide-nya untukku adalah, pengutil itu orang yang mengambil barang yang bukan haknya untuk kepuasan pribadi. Itu bukan haknya karena barang yang diambil seharusnya dibeli. Kalupun belum dibeli, barang tersebut masih hak orang lain yaitu distributor ataupun pemilik toko. Nah bagaimana kalau kita waktu jam istirahat sudah habis tapi kita masih mengulur-ulur waktu barang 5 menit…5 menit lagi kemudian… di kantin kantor? Bagaimana kondisinya jika para murid sudah pada menunggu di kelas trus kita masih sibuk menyiapkan materi dan bukannya sedari tadi waktu persiapan digunakan sebaik-baiknya? Bagaimana waktu kita bilang foto-copy habis Rp.1.500 padahal habisnya cuma Rp1.400? Bagaimana waktu kita jelas-jelas mengarang perjalanan kita agar lambat sampai kantor karena banyak pekerjaan yang menumpuk yang akan diberikan oleh bos kita? Bagaimana waktu kita melirik dengan sudut mata kita yang terlatih dengan tangkasnya untuk menangkap jawaban A – B – C teman kita yang kebetulan pandai dan giat belajar sedangkan kita sibuk dengan JJS saja? Dan bagaimana-bagaimana yang lainnya? Bukankah kita sebetulnya sudah menjadi masternya pengutil-pengutil yang berpraktek di banyak “swalayan”, entah itu kantor, jalan, sekolahan, dan banyak lagi? Kita mengambil hak orang lain dan kadang-kadang ada para oknum yang dengan terang-terangan memang mengambil hak orang lain dan memberikan alasan tanpa malu-malu? Jadi pengutilkah kita? Walaupun begitu ada beberapa alasan kenapa kadang kita berperan sebagai pengutil dalam hidup ini. Tapi entah alasannya gimana, pertanyaannya tetap sama saja, apakah kita memang menjadi pengutil saat melakukan sesuatu???

.

Eh…bapaknya diperingatkan sama satpam….dan…anak laki-lakinya masih saja sibuk ngupil sambil liat bapaknya dimarahin satpam…hahaha Itu bukan tester pak..”

.

.

Kang Danu Smd.warnet.20061018.02:17.e20171118.22:10

MENCAI PEKERJAAN SAMA SEPERTI MENCARI PASANGAN ATAU RUMAH

MENCAI PEKERJAAN SAMA SEPERTI MENCARI PASANGAN ATAU RUMAH

.

Satu alasan kenapa aku tidak memilih VESPA sebagai kendaraanku di pulau Batam ini adalah sedikitnya informasi dan bengkel yang menspesifikasikan dirinya di bidang Vespa, tidak seperti samarinda maupun jawa dimana kendaraan ini berlalu lalang dan banyaknya bengkel yang bisa dijadikan acuan servis. Seperti halnya Vespa tadi, biasanya mudah untuk menentukan dimana kita bisa membeli roti, sabun atau lainnya karena banyak toko dan supermarket. Dalam padangan klasik ekonomi, dimana permaintaan dan pengadaan berada dalam titik imbang, pembeli dan penjual akan mudah bertemu dan melakukan transaksi tanpa biaya tambahan dan mudahnya mendapatkan informasi. Namun dalam kenyataannya, seperti halnya Vespa yang saya sebutkan tadi, tiap orang yang mencoba mencari rumah baru, teman hidup (yang baru juga boleh hehehe), ataupun pekerjaan pasti tahu bahwa hal ini jarang terjadi di dalam kehidupan untuk dengan mudah mendapatkan yang kita maui. . Pangsa pasar memiliki istilah yang disebut dengan “Search Frinction” dimana penjual dan pembeli tidak secara otomatis bertemu. Teori ini kemudian berkembang menjadi “Search Theory” untuk meneliti search frinction di atas tadi, dan salah satunya yang dipelajari didalamnya adalah point MENCARI KERJA dan PENGANGGURAN.

.

Dalam bentuk klasik pangsa pasar tenaga kerja beranggapan bahwa ada waktu “labour supply” (jumlah tenaga kerja yang mau bekerja dengan gaji tertentu) dan ada waktu “labour demand” (jumlah lowongan kerja yang ditawarkan dengan gaji tertentu). Ketika nilai gaji untuk masing masih sudah ada, pengadaan dan tenaga juga mencukupi, maka ketersediaan tenaga kerja dan permintaan tenaga kerja berada dalam status seimbang….sederhananya adalah adanya ketersediaan lapangan kerja tertentu yang juga tercukupi dengan jumlah tenaga kerja yang mau dengan gaji tertentu … keduanya dalam status imbang. Namun,  jika keadaannya  memang demikianpun….adanya lowongan ..dan adanya pencari kerja, Kenapa masih begitu banyak orang mencari pekerja dan majikan mencari pekerjan pada saat yang bersamaan.?? . pada tahun 1960-an, George Stigler (Ekonomis Amerika) berargumen bahwa pangsa pasar “SATU GAJI” yang sering dipakai oleh ahli ekonomi klasik hanya bisa terjadi JIKA tidak diperlukannya informasi akan adanya jumlah gaji yang ditawarkan dan yang dicari, seperi contohnya pekerjaan kuli dengan gaji 10 ribu per jam…itu adalah angka tetap…Di pangsa pasar manapun juga dimana produk (seperti halnya pekerjaan) sebenarnya berbeda-beda dan pencarian ini pada akhirnya memerlukan biaya. Semakin besar nilai pencariannya dan semakin luas rentang pencariannya, semakin banyak rentang gaji yang ditawarkan untuk posisi yang sama. dan orang yang mencari pekerjaan menyadari bahwa nilai gaji yang ditawarkan ternyata berbeda-beda antar majikan yang berbeda. Dan pilihan pilihan tersebutlah yang akhirnya menentukan berapa lama dan seberapa jauh masing-masing orang untuk mencari pekerjaan yang tepat.

.

Strateginya yang paling tepat yang disarankan oleh Stigler adalah memaksimalkan proses pencarian pekerjaan dimana pekerja menolak semua pekerjaan yang dibawah “reservation wage” mereka atau bahasa lainnya adalah menolak angka gaji jika nilai gaji yang ditawarkan dibawah batas nilai gaji paling kecil yang mau diterimanya dan menerima semua yang ditawarkan diatas ekspetasi mereka. Dari sini pencari kerja bisa membuat garis batas atas dan batas bawah yang disebut dengan “acceptable level”…dan acceptable level masing masing orang berbeda karena juga dipengaruhi banyak faktor . Teori SEARCHING dan MATCHING ini telah diimplementasikan untuk desain yang cukup efektif untuk keuntungan orang yang sedang mencari pekerjaan dimana hanya menspesifikkan pada angka tertentu dan posisi tertentu, tentu saja sesuai dengan batas dimana mereka mau bernegoisasi. Jadi kepikiran khan sekarang proses man-power suplay…dan bagimana mereka bisa mengambil keuntungan dari proses ini….karena mereka menawarkan diri untuk mencarikan orang dalam rentang angka tertentu dan spesifik tertentu…..jika pekerjaan sama gajinya dan sama posisinya…tidak akan ada orang yang berjuang sikut sikutan untuk mendapatkan pekerjaan. . jadinya..sesuai dengan judul diatas bahwa mencari kerja sama dengan mencari sebuah rumah ataupun pasangan hidup dimana ada proses dan penyeleksian diri atas batas yang kita mau…ada yang toleransi bininya tidak yahuuud…namun jago masak dan mencuci baju….ada yang membuat toleransi batas bawah pendidikan calon suami, namun batas bawahnya adalah S2….sedangkan pembantunya di rumah punya batas toleransi suaminya minim lulusan SD…Anda yang menentukan titik dimana anda bilang pada suatu tawaran kerja…namun harus tetap berpikiran logis

.

Yukkkk…semangat mencari kerja sampai dapat yang kita idam-idamkan..kayak calon bini yang mulus kayak pagar stainlessteel pagar dalam mall-mall…yang dielus terus

.

Kang Danu

Tbk.20171116.09:08

https://setodanu.com

KUNIKMATI SEGALA

KUNIKMATI SEGALA

.

Sejenak tubuh berhenti

dari keringat dan tarikan otot di tiap inci

menenguk segelas air dari dinginnya kendi

yang disiapkan istriku sedari tadi

.

sang imam yang samar terdengar menyayikan ayat suci

dari surau yang mengintip jauh di balik barisan beringin yang tak rapi

mengajak hati untuk sejenak berhenti

mengistirahatkan badan sejenak untuk menyerahkan diri

.

dan istrikupun duduk disini

menemaniku yang berpeluh di bawah terik sang mentari

menata dua piring untuk hangatnya nasi

yang kita nikmati berteman asinnya sang teri

.

sayup masih kudengar sang imam bersajak diri

dan senyuman sang wanita pelengkap hari

dari teriknya matahari yang memanggang diri

kunikmati segala yang telah Kau beri disepanjang hari

.

.

Kang Danu Btm.LK.20130604.12:05.e20171116.7:14